Sepucuk Cerita Tentang Jakarta

Dahulu aku yang bangga dengan tempatku, yang tak pernah mengalami kemacetan

Dahulu aku yang mampu bersombong ria karena tempatku tak pernah kebanjiran

 

Namun kini

Setiap saat matahari akan membenamkan dirinya. Momen ketika garis-garis jingga membelah langit biru

Setiap saat manusia-manusia pekerja berada di jalan, tergesa-gesa bergerak menuju suatu tempat.

Beberapa menuju perisitirahatan, beberapa menuju pusat keramaian

Ruas-ruas jalan yang ada di tempatku tinggal, tak lagi senggang layaknya dahulu kala

Seperti nadi yang tersendat oleh meluapnya butiran darah yang membludak

 

Image

Foto: studiokita.net

 

Dan namun kini

Setiap saat matahari menyembunyikan dirinya, ketika ia dengan sengaja mengalah dari sang awan

Setiap saat manusia-manusia yang berada di luar berlari melindungi diri mereka dari air yang terus menghujam tanah

Jalan-jalan di tempatku tinggal, yang bagaikan saraf nan membelah daging

Tergenang oleh air dengan begitu mudahnya, namun tak begitu dengan surutnya

Mudah pasang, tak mudah surut. Ketidakseimbangan yang kini mulai ku benci

 

Kotaku, tak lagi senyaman dulu. Sudah berapa hati yang dikorbankan hanya dikarenakan hal-hal mematikan karakter tersebut?

Sudah tiada lagi bocah-bocah ingusan yang bermain tak kenal lelah, tak kenal malu, tak kenal sedih

Bocah ingusan yang tak pernah merasakan gengsi untuk mendapatkan secangkir kebahagiaan

Teringat selalu masa dimana aku menikmati teriknya siang. Dan lembabnya malam. Yang diselingi oleh ocehan-ocehan orang tua.

 

Jauh mata memandang, lama telinga ini mendengar, dan sakit mulut ini terbungkam, pun akan semakin dalam hatiku menerawang.

Jengkal demi jengkal daratan dimana aku berpijak, bermain, dan belajar

Telah menjadi “lapak” bagi mereka para konglomerat

 

Sekarang aku yang bangga dengan tempatku, yang mewah namun penuh kesenjangan ini

Sekarang aku yang bangga dengan kotaku, sebuah kerajaan dengan kemilau cahaya yang berbagi tempat dengan bayang kelam

Jakarta

 

(Jumat, 31 Agustus 2012, 00:18)

One thought on “Sepucuk Cerita Tentang Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s