Bisikkan Hati, Untuk Engkau Wahai Pedagang Tua

Peluh yang muncul di sela-sela keringatmu
Keluh yang tersembunyi di belakang senyumanmu
Wahai kau pedagang renta

Tak peduli sejauh apa kau mengayuh seluruh jerih payahmu
Tak ingat dengan usia tubuhmu yang sudah tak lagi segar dipakai
Namun kau tetap saja berjuang demi kelangsungan hidup orang-orang yang kau sayang

Aku berjalan di belakangmu dengan penuh isak tangis yang tak bisa ku pamerkan
Aku terlalu malu jika harus menangis di belakang pria tua yang di belakang pundaknya terpancar sayap api dari semangat melawan kerasnya arus kehidupan dan bisingnya deru kejahatan

Dan mereka
Mereka melihatmu, mereka mungkin juga menyaksikanmu, namun tak ada yang peduli padamu wahai kakek tua
Aku pun bisa jadi seperti mereka, namun entah mengapa pandanganku terenyuh sesaat ketika kau turun dari sepedamu dan mendorongnya melawan gempuran rasa lelah dan curamnya daratan
Sudah sepatutnya aku bersyukur, karena bisa mengenalmu walau hanya beberapa detik saja

Aku yang sudah menikmati semilir angin yang membawaku menuju rumah
Cahaya-cahaya temaran beradu dengan sorotan benda bulat yang menyilaukan
Aspal yang dingin, langit hitam, raungan mesin yang dibawa lari oleh bocah-bocah gila yang tak takut akan kematian
Semuanya tertutupi oleh samar-samar bayangmu

Berapa manusia yang menjadi tanggung jawabmu?
Berapa banyak rindu yang menunggu senyum kepulanganmu?
Dan berapa banyak kewajiban yang harus kau selesaikan untuk kebebasanmu?
Pertanyaan-pertanyaan itu saja sudah membuatku merasa bodoh
Karena selama ini aku masih belum mampu menjadi pintar dalam hal bersyukur
Aku dan semua permasalahan hidupku, tidaklah lebih baik dibandingkan dengan keringat di keningmu

Dan sadarkah kau kakek tua? Yang kau jual merupakan makanan pengganti yang tak begitu disukai orang lain
Tahukan kau kakek tua? Kau berjualan di tempat dan waktu yang kurang tepat
Mungkin sudah banyak sekali harapanmu yang digantung lalu berdebu begitu saja di gubukmu
Dijadikan satu dengan jagung-jagung kering yang digantung untuk dijadikan penghasil uang

Dan sayangnya, harapanmu tak bisa dijual
Bukannya terlalu murah, namun terlalu mahal jika dibandingkan dengan rezeki yang kau punya selama ini
Padahal, harapanmu masih belum lebih besar dibandingkan dengan pahala dan berkah yang diberikan Tuhan kepadamu

Sayang sekali kakek tua, pada akhirnya waktu jua lah yang memisahkan kita
Tak bedanya dengan perpisahan-perpisahan lain
Yang hanya berbeda rentang waktu masa kenal dan lama masa terikat dalam satu jalan yang saling bersentuhan

Aku tahu mungkin kau menyalahkan masa lalu
Dan kau mengutuki masa kini
Lalu kau meragu untuk masa depan
Dan aku lebih yakin jika kau adalah sang ahli ilmu ikhlas dalam bidang pengetahuan seperti ini

Di dalam keraguan atas pikunnya dirimu, aku hanya mengingatkan untuk tetap berusaha, bersabar, berdoa, dan berpasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa
Nuranimu yakin akan hal itu, namun kenyataan terus saja membuat imanmu seperti berbohong?
Kau berkata “Tiada keindahan di dunia ini. Nyamuk saja enggan untuk menghisap darahku yang terlalu kotor.”.
Sempat ku berpikir, mungkin akan kau padamkan api dari balik jantungmu untuk mengejar apa yang kau impikan

Tak sepantasnya kau menjadi musibah dengan api seperti itu
Dan tak sepantasnya aku memaksakan apa rintihan hatiku padamu
Namun di luar itu semua, tak apa lah wahai kakek tua
Asalkan tak kau lenyapkan impian orang-orang yang kau sayang dari dalamnya hatimu
Karena ku yakin, itulah sumber dari kemilau semangatmu yang terus membuat Tuhan memberikan tenaga-Nya untukmu
Dan bagiku, itulah keindahan

(9 September 2012, 01:05)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s