Kami, Para Pelaku Cinta Terlarang

Ketika dipaksa untuk tersenyum di kala hati sedang terisak tangis
Membentak sesuatu yang tak jelas keberadaannya seperti orang sinting

Dan bagaimana dengan kami? Para pelaku cinta terlarang
Yang masih tak mampu menentukan mana yang benar dan mana yang salah
Ketika kesalahan dan kebenaran terlalu samar untuk dijelaskan
Tidak kami korbankan perasaan kami untuk yang benar
Dan kami korbankan cintanya yang “mereka” sebut salah

Bertahan untuk komitmen, menunggu keajaiban datang menjemput cinta yang belum sempat tersampaikan
Berjuang untuk terus berdiri di antara dua dunia, masa depan dan masa lalu
Setidaknya jangan sampai menjadi orang gila yang meneriaki kutukan kepada Tuhan

Tanpa mengetahui apakah kami adalah orang yang kuat
Karena mampu menahan beban perasaan yang teramat berat
Ataukah kami merupakan golongan kaum yang lemah
Karena membiarkan terbelahnya cinta kami sebagai penghancur komitmen yang telah dibangun dengan susah payah

Tak pernah kami melupakan kasih sayang yang harus kami berikan kepada yang berhak
Dan tak akan kami lupakan juga bahwa semuanya ini berdiri di atas jembatan rapuh
Yang bahkan cinta kami mungkin juga sudah dipesan kesetiaannya untuk orang lain

Bagaimana bisa kami salahkan kenangan-kenangan yang terus memaksa kami untuk mengingatnya?
Di bawah cahaya temaram berwarna jingga kecokelatan
Dibayangi oleh tatapan-tatapan nanar mata manusia lain yang mengusik
Merelakan kepergian sang sinar yang masuk kembali ke dunianya
Tenggelam dihisap lorong kegelapan yang dindingnya terbuat dari batu dingin dari angkasa
Padahal aku masih di sini sampai sinarnya betul-betul tak tampak
Entah mengapa, hal seperti ini saja untukk sudah begitu indah
Sembari berpikir, sampai kapan akan terus seperti ini?

Ya, benar
“Sampai kapan akan terus seperti ini?”
Adalah pertanyaan yang kerap kali menggelitik kami

Menatap langit, yang muncul hanyalah ketidakpastian yang mengharuskan kami untuk terus berdoa
Berjalan menembus udara, lalu menghisapnya namun tetap tak kutemukan penyelesaian
Semoga, cahaya-Mu selalu menyertai jalan yang kami tempuh agar kami tak tersesat menuju jalan yang salah

Ada banyak sekali prinsip yang tertera di pohon dunia ini
Salah satu prinsip yang paling mampu membuatku terkatung katung adalah,
“Jika kau mencintai lebih dari satu orang, kejarlah yang kedua. Karena kau takkan mencintai yang lain jika kau benar-benar mencintai yang pertama.”

(4 Oktober 2012, Kamis)

One thought on “Kami, Para Pelaku Cinta Terlarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s