Penyusunan Anggaran Pendekatan Tradisional

Sering disebut pendekatan metode object of expenditures, incremental, ataupun line item. Menggunakan paradigma sederhanya yang berorientasi pada pengendalian setiap jenis biaya. Incremental berarti penentuan setiap jenis dan jumlah biaya yang ada pada anggaran belanja dari suatu periode anggaran tertentu, didasarkan pada persentase kenaikan tertentu dari setiap jenis dan jumlah biaya yang sama dengan tahun anggaran sebelumnya. Maka, diasumsikan bahwa setiap jenis biaya akan dinaikkan jumlahnya pada tingkat kenaikan yang relatif sama tanpa memperhatikan kebutuhan yang sebenarnya.
Cara membuatnya adalah mengidentifikasi seluruh jenis belanja yang akan dilaksanakan oleh organisasi. Jenis belanja yang berkarakteristik sama dikelompokkan dalam jenis kelompok tertentu. Misal, biaya pegawai, perjalanan, pemeliharaan, administrasi kantor, dan biaya-biaya lainnya. Atau dapat juga diperinci dalam beberapa sub. Misal, subkelompok biaya ATK, listrik, dan biaya telepon dalam kelompok biaya administrasi kantor.
Jadi, ciri-ciri pendekatan tradisional adalah:
1. Disusun berdasarkan daftar belanja yang akan dilakukan oleh organisasi sehingga bentuknya terlihat seperti daftar pos-pos belanja suatu organisasi;
2. Bertujuan membatasi pengeluaran atau mengendalikan belanja organisasi;
3. Bersifat inkremental pada umumnya.

Jika jumlahnya semakin mendetail, maka manajemen semakin tidak memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri alokasi anggaran tersebut.
Penyusunan anggaran pendekatan ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu bentuknya sederhana dan mudah dipersiapkan. Namun juga terdapat kelemahan yaitu sebagai berikut.
1. Terpaku pada sumber daya yang telah ada sebelumnya;
2. Akuntabilitas dipusatkan pada suatu konsep yang hanya mengacu pada nilai uang dan bukan pada hasil atau manfaat suatu program;
3. Tidak mampu memberikan informasi yang cukup untuk menilai efisiensi dan efektivitas kegiatan organisasi;
4. Kebanyakan pos anggaran tidak diharuskan memiliki dasar atau alasan yang jelas;
5. Apabila suatu program telah ditetapkan dalam anggaran, maka program tersebut akan terus dicantumkan dalam anggaran periode-periode berikutnya untuk jangka waktu yang tidak terbatas;
6. Menyediakan data biaya historis yang terpisah sehingga tidak bermanfaat dalam pelaksanaan dan evaluasi program;
7. Laporan anggaran yang dihasilkan tidak banyak memuat data keuangan yang berguna dalam perencanaan, penyusunan program, dan evaluasi kegiatan organisasi;
8. Tujuan dan sasaran organisasi disusun dengan dasar jumlah uang yang dialokasikan pada pelbagai kegiatan;
9. Tidak menyediakan informasi yang memungkinkan pengalokasian sumber daya secara bijaksana;
10. Mendorong pengeluaran daripada penghematan. Unit-unit organisasi terdorong untuk membelanjakan seluruh anggarannya yang dibutuhkan maupun tidak dibutuhkan. Hal ini muncul karena:
a. Penilaian kinerja cenderung berfokus pada belanja dan unit yang membelanjakan anggarannya di bawah batas akan dianggap baik;
b. Kalau membelanjakan kurang jauh dari yang dianggarkan, maka jatah anggaran unit tersebut akan dikurangi atau bahkan pengeluaran tersebut tidak lagi dianggarkan dalam periode kemudian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s