Potongan Teriakan

Dan akhirnya ku biarkan mengering air mata ini
Berharap dengan penuh kenaifan, air mata ini akan menjadi kristal-kristal kehidupan
Mengapa? Karena setiap ku bernafas aku bergidik
Apakah ini nyata atau hanyalah ilusi dari sang ahli belaka
Di lautan kebohongan yang tak mampu dilihat oleh orang lain, tak satu pun

Dengan kebohonganmu aku mampu membohongi diriku sendiri
Tak mampu ku melihat, mendengar, dan merasakan ketika ku berada di dunia nyata
Aku hanya mampu menggunakan panca inderaku ketika berada di dunia mimpi
Dunia dimana penuh akan fantasi-fantasi yang merupakan refleksi dari harapan-harapan yang dikecewakan

Kembali tersadar oleh segarnya peluh keringat yang membasahi kening
Aku hanya mampu menikmati sisa-sisa sore ini dengan meminum secangkir kegalauan hangat yang bertabur senyuman-senyuman penuh kehampaan
Tak bisa ku menangis seenaknya seperti mereka
Tak mampu lagi air mata ini mengucur deras sesuka hatinya
Dan tak perlu kalian tanya mengapa, akan ku jelaskan bila ku mengerti penyebabnya
Sampai-sampai ku tak lagi mempercayai telinga dan mataku sendiri
Sulit mempercayai apa yang ku lihat
Sukar mempercayai apa yang ku dengar

Termangu, di bawah kobaran angin yang menyemburkan kelembaban panas yang sulit dijelaskan
Menatap cahaya redup, yang tak kunjung padam
Dikelilingi oleh segerombolan asap, yang tak mampu membunuhku padahal ku berharap mereka mampu

Ku pandang keluar, menginginkan sang hujan
Langit sudah menghitam, awan sepertinya sudah kewalahan menahan uap-uap yang telah berubah bentuk
Ketika mereka mulai berjatuhan, semoga aku bisa menari
Jika tdak, setidaknya hatiku yang menari
Menari di atas penderitaan

Kemudian, ku beranjak dari kursi ini dan berjalan menuju cermin kejujuran
Yang ku lihat hanyalah kehampaan dan kekacauan
Teringat kembali perkataan dari si cermin,
“Kau harus siap, karena orang yang pernah kau bantu pasti akan melupakan semua kebaikan dan bantuanmu untuknya. Jika mampu, sekalian sajalah jadi pembela kejahatan,”
“Mereka yang kau pedulikan, mereka yang kau khawatirkan, takkan memberikan perhatian dan kepeduliannya kepadamu. Semua air mata yang mereka pamerkan dulu kepadamu, tidak akan sama seperti air mata yang kau sia-siakan sekarang,”
“Wahai kawanku. Seluruh harapan mereka yang ikut kau perjuangkan, tidak seindah dengan harapanmu yang mereka acuhkan. Tak perlulah kau menyesal. Semua ini seharusnya sudah siap kau hadapi. Sama seperti seorang bayi yang menangis sebagai tanda kesiapan menghadapi dunia,”
Terimakasih, kau telah menyadarkanku dari terangnya dunia ini wahai cahaya penipu

Hujan pun turun, dan kini ku mengerti mengapa ada yang membenci hujan
Aku mengerti penderitaan mereka, penderitaan yang menghujam mereka sebanyak air yang menjatuhi mereka kala itu
Kala semua orang sedang bersorak sorai, menyambut gembira datangnya hujan setelah kemarau panjang
Di dalam yang ruang penuh akan bisingnya keheningan ini aku berpikir
Mungkin, melalui pelangi yang berada di kaki langit nanti, ia di sana sedang melihatku dan menertawakanku yang sedang mengasihani diriku sendiri saat ini

(15 Agustus 2012, Rabu)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s