Satu Persembahan untuk Pahlawan

Pukul empat pagi, suaramu telah lantang berkumandang mengisi keheningan pagi yang indah
Membangunkan umat agar segera merapatkan barisan untuk beribadah kepada Sang Khalik
Langkahmu selalu menderu hebat ketika melewati pintu demi pintu rumah kami
Salam, senyum, selalu kau tebar kepada siapa saja entah membutuhkan atau tidak
Suaramu telah memuliakan, mengingatkan, memperbaiki banyak sekali kehidupan
Syiarmu telah menyinari berbagai macam tempat, dan mengubahnya hingga menjadi asri
Layaknya cahaya matahari dan air yang membuat tumbuhan tumbuh dan menciptakan kehidupan

Namun,

Malam itu,
malam kepergianmu
Adalah malam yang paling panas yang pernah kami rasakan
Kami merasakan suhu tanah kala itu naik beberapa derajat tidak seperti biasanya
Udara pun tak mau kalah, layaknya berlomba dengan tanah mana yang suhunya lebih panas

Gelagap orang yang tak kuat menahan perihnya kenyataan
Ketegaran anak-anakmu yang mencoba untuk terus melaksanakan kewajiban
Beberapa orang yang langsung sigap menyiapkan segala keperluan untuk prosesi pelepasan “malaikat berwujud manusia” guru kami tercinta
Tidak ada celah sedikitpun bagi mata ini untuk tetap kering ketika aku mengingat dan menulis kembali saat-saat terakhirku bersama (jasad) mu

Tiada lagi yang bisa kami persembahkam selain doa dan pujian untukmu
Gemetar hatiku melihat ratusan orang menangis bersama, seperti tak rela melihatmu terbaring tanpa ekspresi tak seperti biasanya
Yang masih sama adalah cahaya yang memancar dari wajahmu itu

Malam itu, menjadi salah satu malam terkelam sepanjang sejarah kami
Malam ketika jutaan malaikat turun menjemput kawannya yang telah selesai melakukan tugas dengan baik di muka bumi Allah

Siang itu,
seluruh air mata dari para pejuang-pejuang Islam bercucuran bak air terjun dari mata air surga yang tidak akan pernah ada habisnya
Ratusan orang mengiringimu dengan penuh sholawat yang berkumandang di hati
Doa, pujian, tangis, senyuman, isak, kami haturkan untuk melepasmu wahai guru kami nan sangat lemah lembut
Dengan air mata yang masih menempel ini kami berjanji
Tiada yang bisa menghentikan langkah kami untuk mengantarmu menuju tempat peristirahatan terkahirmu di dunia ini

Kau adalah sosok luar biasa yang sudah berpuluh-puluh tahun mempersembahkan hidupmu demi berjuang di jalan agama
Sosok yang masih mampu bersikap lembut dengan lawanmu ketika teman-temanmu geram untuk membalas apa yang sudah mereka lakukan kepada kalian
Kau adalah pahlawan bagi kami, engkau selaku menemukan jalan untuk mengataasi masalah dengan cara yang istimewa
Kami sempat merasa putus asa, siapa yang akan mengurus mesjid ini dan jamaahnya setelah engkau pergi menuju kemuliaan?
Namun bayangan dari senyummu, menguatkan kami untuk menjadi elang yang kembali terbang setelah merontokkan seluruh bulunya

Bahkan, kepergianmu pun memberikan hadiah untuk kami
Engkau satukan kembali hati, semangat, dan asa kami
Kau ingatkan kembali kami akan kematian, persatuan, dan persaudaraan
Tentang satu rasa satu asa, satu tawa satu canda, satu luka satu duka, satu derita satu cerita
Kau ikatkan lagi tali putih siltaurahim di antara kami yang mungkin telah melupakan keberadaan teman dan sanak saudara

Tidak ada hujan, langit menahan tangisnya untuk melepas kepergianmu
Karena langit pun tahu, bila ia tak menahan tangisnya, ia malah akan merepotkan karena kami takkan mampu melaksanakan kewajiban ini dengan sempurna
Langit justru seperti tersenyum sedih, sambil menahan emosi
Ia memancarkan sinar yang panasnya luar biasa, namun tetap menghangatkan hingga ke sanubari
Seperti mengatakan “jejakmu akan selalu membawa berkah bagi kehidupan mereka dan kehidupan kami”

Selamat beristirahat wahai pahlawan
Kami doakan tempat yang paling mulia untukmu
Semua yang telah kau lakukan tak akan kami sia-siakan
Allah tidak akan mengingkari janji-Nya, Allah akan memberikanmu tempat terbaik di surga
Aamiin

Dan sekarang, dengan bayang dan harapanmu yang selalu tertera di hati
Berbekal perkataan dan perbuatanmu
Kami melangkah maju, menghadapi dunia yang tidak akan pernah selembut dulu lagi,
ketika kau masih di sini masih bersama kami

(17 Oktober 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s