Menjemput Kematian

Di tengah hutan bakau, semilir angin malam hangat namun menusuk kalbu
Menatap bulan purnama, yang terlihat asyik menerangi deburan ombak
Suara hantaman air laut terdengar menggema begitu dekat di kerasnya perkampungan karang nan jauh di seberang

Di dalam sini, tepat di bawah pohon bakau yang paling besar
Kehabisan semangat, kehabisan tenaga, waktu yang tersisa tak mampu menyelamatkan asa
Lelah untuk selalu mengatakan kebohongan hanya untuk menghibur diri sendiri
Mengejar pengakuan yang sebenarnya sudah diketahui takkan pernah bisa digapai

Ku dengar suara pemburu binatang malam, sedang mengaum
Entah apa yang dilakukannya, namun ku tahu pasti itu seperti auman seekor serigala pantai
Mungkin itu sebuah kode yang disematkan untuk teman-temannya yang memperhatikan dari atas bukit nan jauh di sana
Tak ayal, ku ubah wujudku menjadi domba yang tak berdaya

Ku jatuhkan diriku ke akar-akar pohon baku yang tajam
Melukai seluruh bagian perutku, menghamburkan peluh keringat, dan mencemari murninya air payau dengan darah haram
Berhasil,
sang pemburu menghampiriku
namun dia terlihat seperti ragu, ku panggil seluruh setan penghuni hutan ini untuk membisikkan hasutan, demi mewakilkan suaraku agar didengar oleh sang pemburu

Berkataku pada sang pemburu
Apa yang kau takutkan?
Aku di sini terkapar menengadah tak berdaya
Tiada lagi yang bisa ku lakukan, selain menahan rintih
Agar teriakan kesakitanku tak terlalu terdengar
Apa lagi yang kau tunggu?
Hampiri aku, arahkan senjatamu ke kepalaku
Tarik pelatuknya sekarang, akan menjadi lebih mudah bagiku bila mati
Ketimbang harus menanggung semua rasa sakit ini sendirian

Pilih senjata yang terlihat mampu untuk membunuh
Cepat, aku bosan menjadi seperti cacing naif yang selalu berharap mampu terbang
Untuk melihat cahaya saja aku menggeliat tak mampu
Hidupku hanya bersama tanah dan kotoran
Hanya mengumpat di balik kelembaban, memakan kotoran, lalu membuangnya di tempat yang sama
Jika ada, bakar aku secara perlahan, jangan langsung diledakkan
Kau akan terkagum mendengar teriakkan merintih yang mampu ku hasilkan ketika dibakar hidup-hidup

Bersamaan dengan lagu kematian yang berasal dari surga dan terdengar pekat di telingaku
Setan-setan pun tersenyum kegirangan, mereka berkumpul di langit lalu menari
Menutupi cahaya bulan yang tadi menyinari sepanjang lekukan pantai
Seperti awan mendung yang terlihat sangat kelam, dan gerakannya begitu liar

Asaku semakin mengecil dan mungkin telah padam, takkan bisa menyala kembali apapun yang memantik
Tak akan ku bergeming walau bantuan dari langit telah diturunkan untuk menyelamatkan sisa-sisa kebaikan dalam diri hina dina ini
Aku hanya menyambut hingar bingar suara setan yang sudah tak sabar ingin memakanku nanti di akhirat

Ketika nyawaku tersisa sedikit di raga ini
Ku masih melihat sang pemburu diam tak bergeming
Kembali lagi ku bisikkan suaraku melalui setan-setan kepadanya
Setelah kau ambil nyawaku nanti, ambil kertas yang ku simpan dalam tenggorokanku ini
Ada pesan di dalamnya, untuk seseorang yang mengendalikanku hingga seperti ini

”Aku tak butuh cintamu, yang ku butuhkan hanyalah tenaga dan waktu untuk tetap mencintaimu”

(Rabu, 24 Oktober 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s