Menjemput Sang Hujan

Gurauan dan racauan meluluhlantahkan segala kepenatan yang sempat tertahan
Namun tak cukup kuat untuk menghantam keadaan sang langit
Tak cukup kuat untuk menerobos riuhnya air yang tumpah ruah dari awan
Namun cukup kuat untuk menopang kami berdiri bersama teman-teman lain yang bernasib sama
Cukup kuat untuk menahan segala kegelisahan dan ketakutannya
Setidaknya sampai tiba waktu yang tepat untuk ia pulang

Awalnya ku berpikir bahwa aku sedang berlari dari hujan dan menghindarinya
Ternyata, aku sedang menjemputnya
Sang hujan, sang pengubah rencana, anak dari dewa langit, titisan pengangkut rezeki dari dunia di atas sana
Langit hitam, kemilau cahaya menyorot dari kejauhan dan melewati kami tanpa tegur sapa, genangan air kelam yang semakin tinggi, angin yang mnecondongkan tumpahan air kesana kemari
Di bawah temaram lampu yang diselimuti hujan. Kilat dan petir yang saling bertautan
Senyumnya, tawanya, tawaku, senyum bodohku, raut kegelisahanku dan kegelisahannya (yang disembunyikan)

Tatapan matanya, mengunci peluh untuk keluar
Sebuah isyarat dengan tarian jari yang selalu bisa memikat hati dan mengikat asa
Ketika itulah aku berharap, munculnya bulan yang membisikkan rasa sayangku untuknya
Dan ketika itulah semua fragmen romansa kehidupan terekam dengan sangat jelas
Fragmen romansa kehidupan milikku, dan miliknya

Pertengkaran kecil yang melibatkan dua pemilik kepala nan keras yang saling beradu argumen
Hanya demi menentukan bagaimana cara untuk pulang
Dan sudah ku duga, sangat alot
Hingga pada saatnya ia menyerah untukku dan memang dipaksa oleh sang langit dan sang waktu untuk menyerah
Ia, melangkah lebih dahulu
Pergi membawa kekhawatiran mendalam menuju rumahnya

Di sini, bersama dengan sisa-sisa tenaga yang ku punya
Bersama dengan teman-teman senasib yang belum meninggalkanku seperti yang lain
Hanya tersisa diriku, dan mereka yang masih saja menunggu hal yang sama, hujan reda

Beriringan dengan malam yang semakin pekat
Juga binatang pengganggu yang semakin kelaparan
Turut ku palingkan diriku menuju rumah
Sebelum berpaling, ku lihat tempat itu di detik-detik terakhir ku melangkah menjauh
Kosong, gelap, tak lagi ramai seperti kami tiba sebelumnya
Namun, penuh akan kenangan, dan pasti akan selalu penuh dengan cerita
Gracias mi reina, te amo

(13 November 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s