Kepergianmu, Ayah dari Ibuku

“Kamu tu ya, wes jan,”
“Gih sana, mangan karo nasi,”
“Buka kaca ojo keras-keras toh yo le,”
Ya, sedikit partikel, yang selalu ku dengar hampir setiap hari
Dari mana? Dari siapa? Tidak lain tidak bukan, dari kakekku yang kami sayangi

Termasuk dari salah satu manusia-manusia terkuat yang pernah ku kenal
Diceritakan oleh ibuku, ketika kakek, nenek, dan anak-anaknya diancam ingin dibantai dan dibakar rumahnya
Kakek lah yang menahan mereka, dengan lantang beliau berbicara “Jika dengan membunuh mampu menyelesaikan masalah dan memuaskan hati saudara-saudara, bunuh saja Saya. Tidak keluarga Saya.”

Kakeklah yang mengajarkan kami, anak cucunya untuk terus memberikan yang terbaik bagi mereka yang membutuhkan
Kakeklah yang mengajari kami, keluarganya agar terus berhubungan baik dan dekat bahkan dengan keluarga yang terpisahkan oleh jarak
Kakeklah yang mengajarkan kami, generasi keturunannya untuk tetap maju apapun yang terjadi
Tidak dengan melewati batas, tetap dengan keterbatasan hanya saja, keterbatasan tersebut diperluas

Kekuatannya, menguatkanku
Senyumannya (yang jarang terlihat), menceriakanku
Amarahnya, menyadarkanku
Kepeduliannya, membahagiakanku

Langit malam itu, sungguh sangat sendu

Kulitnya yang menguning, berbaring lemah tak berdaya meraung-raung memanggil nama ibuku dan ibunya ketika beliau mengelu kesakitan
Terenyuh ku menatapnya. Kelu dan pilu yang kurasakan ketika menyentuh tipis kulitnya
Tak kulihat lagi badan kecil nan kuat yang selama ini menghadiri hari-hari seperti biasanya
Dengan seluruh tenaga, ku tahan air mata ini agar tak membanjiri kesedihanyang memenuhi seisi ruangan

Sesak nafas ini, merasakan hal aneh yang belum pernah ku rasakan
Lorong-lorong dingin menjadi sosok bisu yang menyaksikan detik-detik terakhir keberangkatan kakekku
Hawa dingin yang menelusuk ikut menemani ketika pertama kalinya ku menyaksikan ibu hanyut dalam kepanikan
Pertama kalinya aku meyakinkan ibuku untuk tetap tegar menghadapi ujian, padahal berkonsentrasi pun ku tak mampu

Kakekku, pergi. Berangkat menuju tempat yang kekal dan abadi. Persis ketika ku selesaikan doa setelah sholatku untuknya. Persis ketika ku berharap masih bisa melihat rona wajah di hari esok yang segera tiba

Seluruh penjuru pun tersontak, sanak saudara dari semua mata angin pun tiba
Membawa air mata, dan keikhlasan. Membawa duka yang berkobar tak kunjung padam
Kesedihan yang menghancurkan penopang hati, yang membuat tangan dan gigi gemetar karena tak akan memperlihatkan kesedihan itu demi sucinya kepergiannya
Dingin tubuhnya, meniupkan suasana haru biru yang mampu menggoyahkan senyum yang dengan susah payah ku sulam

Bintang-bintang yang menempel cantik di langit, mengingatkanku akan hikmah-hikmah kehidupan ketika kehadirannya melengkapi jengkal demi jengkal rajutan kehidupanku

Kekayaan yang kita miliki hanyalah waktu dan tenaga
Kemewahan yang kita miliki hanyalah usia dan kesehatan
Dan keistimewaan yang kita miliki adalah kebaikan dan ketulusan hati
Gunakan, janganlah kita sia-siakan pemberian Tuhan

Yang bisa kami banggakan hanyalah masa lalu, tiada yang lain
Aku selalu diajarkan bahwa keadaan bukanlah hal yang bisa dijadikan pembenaran untuk melakukan hal-hal yang salah

Oh, Tuhan
Hampir saja ku buta oleh jeritan hati yang meronta, yang tak mampu keluar dari mulut dengan bebasnya

Kakek,
Dengan penuh bayang-bayang samar cahayamu yang terus berputar di kepala. Ku ikuti semua prosesi keberangkatanmu menuju alam baka
Menuju tempat yang ku yakini jauh lebih terang dan damai untukmu dibandingkan dunia yang fana
Seluruh kenangan, perjuangan, kekuatan, harapan, doa, dan senyumanmu yang terpatri di awan
Akan selalu membentuk pola indah untuk kami, keluargamu agar selalu bersama bergenggaman tangan

Malam itu ku dongakkan wajahku, menerawang jauh, bersimbahkan air mata
Jauh dari jeritan duka, menyendiri dibawah gelapnya kesunyian
Lalu ku padamkan tatapanku, dan mulai berbicara
Langit, bagaimanakah kabarmu?
Jika mampu, tolong, kirimkanlah doamu untuk kakekku

(24 Desember 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s