Kawan-kawan Penghuni Jalanan

Mereka tak melepaskan tawa ketika asa berangsur padam
Terus berjalan meniti harapan tak peduli akan waktu yang tak mau berhenti
Tiada lelah mereka berjuang mengalunkan langkah ke pelosok-pelosok wilayah kaum pribumi dan ningrat
Menjemput segala kebutuhan dan berkah lain yang berada pada oase di tengah kering kerontangnya kota ini
Oase yang mereka yakini dan percayai masih ada, seperti yang telah para filsufis janjikan
 
Dunia mereka bebeda dengan dunia rakyat jelata biasa
Begitu rapuh akan penderitaan, di sana memerlukan daya besar untuk melompat meraih kebahagiaan
Kebahagiaan, apakah kebahagiaan itu di mata mereka?
Memiliki harta yang takkan habis bahkan setelah dibakar?
Bertubuh kekar perkasa, kuat, dan tahan dari segala penyakit hingga sehat selamanya?
Menyaksikan anak cucunya bermain dengan bebas tanpa takut kelaparan?
Semua mungkin saja iya, dunia memang mungkin berbeda dan jauh terpisahkan oleh dinding kasta tebal nan kokoh
Namun kebahagiaan, tak pernah berbeda antara satu ras dengan ras lainnya
 
Dunia tanpa penderitaan, tersenyum ku membayangkannya
Entah senyum naif, sinis, atau pun sekedar senyuman biasa dengan mata terpejam
 
Naif, karena berpikir selama ini tidak pernah ada dunia tanpa penderitaan, tanpa jeritan kesakitan yang memekakkan telinga
Sinis, telah bertanya pada nurani apakah bisa penderitaan hilang seluruhnya dari dunia? Tidak akan bisa, karena penderitaan itu sangat sulit dihapuskan
Dan kembali dengan mata terpejam, ku berdoa penuh harap agar penderitaan menguap dari kehidupan mereka yang telah lama menghirup udara penuh penderitaan
 
Kembali ku tersenyum ketika memikirkannya
 
Kira-kira, sudah berapa banyak keringat yang keluar dari kulit mereka? Berapa banyak liur yang mereka telan? Ketika sedang menapaki kulit bumi terluar dalam keseharian mereka memenuhi kebutuhan
Seberapa sering mereka berandai-andai dapat menikmati indahnya kehidupan manusia berkasta tinggi? Ketika sedang beristirahat, menenggak air sembari menahan lapar dan meyakinkan diri bahwa segelas air yang mereka teguk kala itu cukup hingga sore hari
Kemudian, saat hujan menghujam sangat keras, atau saat matahari bersinar terlalu terang, sudah berapa lama mereka berdoa, memohon kepada Tuhan yang sama dengan Tuhan kita, untuk didatangkannya rezeki setelah usaha yang mereka dermakan selama ini?
 
Nyanyian-nyanyian parau, dengan nada dan lirik menyindir dilantunkan penuh kemerduan
Beradu keras dengan erangan mesin yang menderu melibas seluk beluk kota
Tarian-tarian cantik, dibawakan dengan derap langkah dan bentuk tubuh yang menarik perhatian, dari orang-orang yang memilih untuk melawan kodrat demi keikhlasan hati saat mengitari sudut-sudut temaram kota
Teriakan-teriakan pekik, memanggil simpati dan rasa pilu karena kasihan, dari orang-orang yang berkeliaran di dalam wilayah mereka
Semua itu membuktikan bahwa prinsip-prinsip optimis dari para motivator saja tidak cukup menenangkan hati mereka
 
Menghadapi kompetitor seprofesi, menguras emosi, menegangkan otot dan urat saraf
Bergenggaman tangan penuh kesetiaan dengan teman-teman dan saudara sepenanggungan
Menatap nanar makhluk-makhluk yang bernamakan manusia yang telah kehilangan nuraninya, bak binatang saja
Iri dengki terhadap glamor dan kemewahan yang terus menerus ditayangkan di segala penjuru
Iri dengki yang terus dipadamkan oleh sedikit receh dari rakyat sesama yang gemar berbelas kasih, layaknya api dengan busa
 
Lalu bagaimana dengan kelakuan jelek mereka? Dunia hitam yang mengelilingi mereka?
Ku rasa kelakuan mereka merupakan cerminan atas rasa haus akan kesenangan
Pun merupakan cara bagi mereka untuk bisa menghisap sedikit ketenangan, menciptakan kedamaian
Bagaimana dengan dunia hitam tersebut? Ya, itu memang tak dapat dipisahkan dari tempat mereka tumbuh berkembang
Dan itu sudah menjadi tugas dan alasan kita, rakyat yang berada di luar lingkaran itu supaya terus membantu mereka
 
Kawan-kawanku, yang berada di luar sana
Yang tak pernah memiliki masalah dengan selara makan, posisi tidur, atau tempat bernaung
Mohon maaf, baru ini yang bisa ku lakukan
Sedikit rezeki untuk ku beri, banyak cerita untuk ku bagi
Terimakasih, ku harap kalian mendengarnya kawan
Sedikit kata-kata yang bisa ku rangkai, namun banyak hikmah yang mampu ku teladani
 
Hei Jakarta, kau terus berputar mengemban luka-luka dalam, menampung semua jenis makhluk hidup beserta keturunannya
Dengarkan suaraku, ini adalah doaku untuk mereka, kawan-kawanku penghuni jalanan
“Aku tahu luka dan tanggunganmu. Ku harap pundakmu tak lelah menahan itu semua.
Jika kau lelah, kau bisa bersandara pada siapa? Tidak ada. Lalu kami? Pasti binasa.
Engkau merupakan oase dan rumah yang telah disediakan untuk kami.
Teruslah berputar, temani kawan-kawanku dalam mendapatkan kebahagiannya di kehidupan yang lebih bersinar.”

(3 Januari 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s