Ketika Sebuah Cinta Ditelantarkan

Aku ingat saat itu, ketika pertama kali bertemu
Ku berani menyimpulkan, sepertinya ada rasa yang sama
Bukan rasa suka, sayang, atau tertarik. Karena ia belum sampai ke titik itu
Namun rasa ingin melakukan hal lain di luar penatnya rutinitas sehari-hari

Suatu tempat, dimana daratan, lautan, dan langit bertemu dan berkumpul di dalam satu tatapan
Suatu waktu, saat ku tekan seluruh tenaga yang ingin menghambur keluar untuk mengungkapkan rasa sayang
Indah ya dunia, atau hanya indah di mataku belum tentu di mata orang lain?

Waktu terus berputar, dan segalanya ikut berkejaran tak beraturan
Mengapa mereka riang? Sementara aku sendiri di sini menemani kehampaan
Mengapa mereka sedih? Melihatku tertawa senang menikmati badaimu yang mencabut rumah dari akarnya

Mereka bilang, keadilan harus ditegakkan. Jika begini, apa yang ditegakkan? Kenistaan?
Bila boleh ku lantangkan suaraku, mau sampai kapan kau bertahan dari beban-beban berat ini di pundakmu wahai dunia?
Kepedulian yang menguatkanmu? Takdir? Kasih sayang? Apa mereka, para penghunimu peduli kepadamu? Sayang kepadamu? Ditakdirkan untuk mati bersamamu?
Pikirkan itu, ku beri waktu hingga seluruh daratan beku di bagian luar, dan bagian dalammu mencair hingga kulit luarmu mengharu biru
Lalu jika telah begitu, ikutlah denganku. Kembali ke penciptamu

Namun sepertinya, engkau akan tetap bertahan untuk mereka ya?
Mereka yang sudah mencampakkanmu dengan asap dosa dan limbah derita
Terserahlah, bahkan mereka yang tertindas pun lupa akan keberadaanmu sobat

Selamat tinggal dunia, kawanku
Aku akan pulang
Terimakasih kau telah melatihku cara membunuh yang baik, sekarang aku ingin belajar cara mencintai yang baik
Ketika bersamamu, hatiku hitam dan sangat mudah membakar segalanya hingga menjadi debu
Akan ku nyalakan kembali cahaya di belakang mataku, dan akan ku atur kembali ketukan detak jantung yang selama ini mengayuh tak beraturan

Kau kira aku pergi dengan damai? Tidak. Ku pergi untuk mengutuki diriku sendiri
Namun aku belum ingin mati, jadi tenang saja
Aku mau tetap hidup, untuk terus merasakan penderitaan ini yang mengikutiku kemanapun bayangan ku berada
Hingga nanti akhirnya aku mati dengan sendirinya di hadapan sang penguasa semesta

Aku akan merindukan parade hujanmu, deras keras nan tajam menghujam
Rintik demi rintik air yang terjatuh, mengetuk kulit hingga membekas ke dalam sukma
Sejuk bak embun menerpa wajah kala menerjang angin pagi
Hangat bagaikan celoteh ibu memenuhi kedamaian malam hari

Tolong sampaikan pesan ini kepada Sang Malaikat Sihir yang sedang menguasai lautanmu
“Aku tak ingin menjadi matahari yang menyinarimu di kala siang,
Aku tak bisa menjadi bulan yang menerangi halus malammu,
Aku tak mampu menjadi sang hujan yang menyejukkan panas siangmu,
Yang ingin ku lakukan adalah menjadi diriku sendiri,
Yang menyayangimu apa adanya, sepenuh ketulusan dan kesucian hati.
Sampai bertemu kembali cintaku, aku pergi.”

(10 Januari 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s