Jebakan-jebakan Kehidupan (Lifetraps)

Young dan Klosko (1993), dua orang Cognitive Therapist dari Amerika, berdasarkan pengalaman praktek trapinya, berhasil mengidentifikasi sebelas jebakan kehidupan yang sering mengganggu kehidupan seseorang. Kesebelas jebakan itu adalah:

Abandonment (Ditinggalkan);
Mistrust dan Abuse (Kehilangan Kepercayaan dan Pelecehan);
Dependence (Ketergantungan);
Vulnerability (Kerentanan dan Kerapuhan);
Emotional Deprivation (Kehausan akan Cinta dan Kehangatan);
Social Exclusion (Pengasingan Sosial);
Defectiveness (Cacat Diri);
Failure (Kegagalan);
Subjugation (Kepatuhan Tanpa Syarat);
Unrelenting Standards (Standar Sangat Tingi);
Entitlement (Merasa Selalu Berhak).

Abandonment
Merupakan jebakan kehidupan yang disebabkan oleh kurangnya rasa aman di dalam keluarga sewaktu kecil. Kehilangan orang yang sangat dicintai, baik itu karena meninggal, pergi dari rumah, atau sering tidak ada di rumah adalah beberapa contoh situasi yang menyebabkan seseorang merasa ditinggalkan atau dibuang.

Cenderung mempunyai kehidupan yang penuh dengan peristiwa dibuang karena merasa memang layak untuk ditinggal atau dibuang. Perilaku yang sering muncul saat dewasa adalah sering sekali mencari teman, berusaha menunjukkan sikap baik pada orang lain meski orang lain itu telah bertindak buruk, dan yang paling tidak bagus adalah memposisikan diri pada posisi dibuang, tidak penting, atau tidak berarti.

Seseorang dengan jebakan abandonment parah justru bisa semakin cinta ketika pasangan hidupnya melakukan petualangan cinta. Lebih mudah memaafkan orang yang telah pergi.

Mistrust dan Abuse
Merupakan jebakan kehidupan yang juga berkaitan dengan rasa aman di keluarga. Terlalu seringnya dibohongi atau dilecehkan semasa kecil menyebabkan seseorang tumbuh dengan rasa curiga, was-was, dan ketakutan yang luar biasa. Dalam pikiran, orang lain tidak bisa dipercaya karena dianggap ingin menyakiti, menipu, atau mengambil keuntungan. Kerap kali berasumsi buruk terhadap orang lain adalah ciri khas jebakan kehidupan ini.

Dependence
Adalah jebakan kehidupan yang menyebabkan seseorang merasa harus tergantung pada orang lain. Mengambil keputusan dan bertindak mandiri adalah dua hal yang paling sulit di lakukan dalam hidup. Minta pertimbangan orang lain atau bahkan mengikuti saja apa yang orang lain putuskan atau pikirkan adalah ciri khas jebakan ini.

Ragu-ragu, bingung, dan panik jika harus membuat keputusan adalah penampakan luar. Jebakan ini umumnya terjadi karena di masa kecil orang tersebut selalu di bawah “ketiak” orang tua. Semua keputusan selalu harus atas persetujuan orang tua atau orang yang lebih tua. Orang tua yang overprotective dan otoriter adalah penyebab utama jebakan kehidupan ini.

Vulnerability
Rasa rapuh yang berlebihan akan menyebabkan seseorang merasa hidup di dunia yang penuh dengan masalah, ancaman, perang, bencana, dan penyakit. Ragu untuk keluar dari zona nyaman. Ke luar rumah atau pergi ke luar kota bisa sangat menakutkan. Orang tua yang overprotective juga adalah penyebab utama jebakan kehidupan ini.

Emotional Deprivation
Adalah jebakan kehidupan yang diderita oleh orang-orang yang semasa kecilnya tidak mendapat kehangatan emosi dan cinta secara cukup. Orang tua yang dingin dan miskin cinta adalah peneybab utama jebakan ini. Merasa tidak dipedulikan ataupun merasa tidak satu pun orang mengerti perasaannya adalah hal-hal biasa yang ditemui pada seseorang dengan jebakan ini.

Karena kebiasaan tidak dipedulikan, juga menjadi sering tidak mempedulikan orang lain, membangun hubungan dengan orang yang dingin dan cuek, atau sebaliknya berpetualang mencari “cinta” dan kehangatan. Seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, teman dekat, atau bahkan pekerjaan bisa diduga membawa jebakan kehidupan ini di dalam diri.

“Aku tidak penting”, “aku tidak layak untuk dicintai”, dan “aku tidak berharga” adalah tiga keyakinan utama jebakan ini.

Social Exclusion
Adalah kondisi di mana seseorang merasa asing atau justru mengasingkan dirinya di dalam pergaulan sosialnya. Merasa tidak bisa diterima oleh kelompok karena merasa ada yang aneh atau berbeda dalam diri sendiri. Bisa dalam bentuk keanehan fisik, cara bicara, perilaku berpikir, atau “kasta”.

Jebakan kehidupan ini umumnya disebabkan oleh ejekan atau penilaian buruk oleh orang lain, ataupun perlakuan yang menyakitkan oleh orang tua atau orang di sekeliling. Pelbagai perlakuan tersebut menyebabkan hasrat untuk mengasingkan diri, tertutup, dan enggan membangun hubungan dengan orang lain.

Keyakinan yang sering berkembang dalam pikiran adalah “aku buruk”, “aku aneh”, “aku tidak selevel”, atau “aku berbeda”.

Defectiveness
Muncul dalam bentuk harga diri yang rendah dan merasa inferior dibanding orang lain. Serangan kritik yang bertubi-tubi saat masih kecil, perasaan tidak berharga, dan tidak dicintai adalah pangkal munculnya jebakan kehidupan ini. Kesukaan untuk menyalahkan diri sendiri, ragu-ragu apakah ada orang yang menghargai, dan merasa akan ada penolakan dari orang lain, adalah ciri penampakan luar dari adanya jebakan ini. “Aku tidak berharga”, “aku tidak layak dicintai”, “aku pantas ditolak” adalah sebagian dari keyakinan dengan jebakan ini.

Failure
Jebakan kehidupan ketika seseorang merasa salah dan gagal dalam aspek kehidupannya. Terkadang, apa yang akan dilakukan atau bahkan telah dilakukan selalu merupakan sekumpulan kegagalan. Tidak bisa menghargai keberhasilan karena memang sejak kecil sering dicemooh, dianggap bodoh, dianggap tidak mampu, tidak terampil ataupun malas. Saat dewasa, seseorang yang mengalami ini sering melebih-lebihkan kegagalannya dan kadang malah bertindak aneh dengan melakukan upaya (tidak disadarinya) supaya apa yang dilakukan itu gagal.

Subujugation
Jebakan ini menyebabkan seseorang selalu patuh dan menyenangkan orang lain. Biasanya disebabkan pengalaman masa kecil yang terlalu ditekan orang tua. Perasaan bersalah ketika mendahulukan kepentingan diri sendiri, membiarkan orang lain mengontrol kehidupannya, takut akan dihukum atau ditinggalkan jika patuh, merupakan ciri-ciri yang sering nampak ketika seseorang sedang mengalami jebakan ini. Akibatnya, seseorang akan cenderung membina kehidupan (entah menikah, bekerja, atau hal lainnya) dengan orang yang suka mengontrol atau otoriter, dan selalu patuh pada apa pun yang diperintahkan oleh orang tersebut. Melawan atau berbeda pendapat adalah tabu dan tidak layak. Keyakinan yang sering muncul ketika sedang mengalami hal ini adalah “orang lain lebih tahu dibandingkan aku”, “orang lain lebih benar”, “pengorbanan adalah mulia”, “perasaanku tidak penting”, “aku hanya diterima jika orang lain memandangku baik”, “memikirkan diri sendiri adalah jahat dan buruk”.

Unrelenting Standards
Sering menimpa orang yang sewaktu kecilnya terlalu ditekan untuk menjadi yang terbaik dan menjadi nomor satu dengan mengorbankan kebahagiaan dan kesenangan sebagai anak-anak. Orang tua yang memberikan standar tinggi kepada anaknya dan menuntut anaknya untuk selalu memenuhi standar tersebut adalah penyebab munculnya jebakan ini. Terkadang cenderung menekan dirinya secara berlebihan demi karir, uang, nama baik, kecantikan, dan keteraturan dengan mengorbankan kesehatan, kebahagiaan, kesenangan, dan hubungan baik dengan orang-orang di sekelilingnya. Gagal adalah aib, dan hanya ketika menjadi yang paling baik, baru bisa merasa diterima dan diakui. Yang menarik, apabila sedang terjebak hal ini seseorang tidak pernah merasa mencapai apa yang dikejarnya. Setiap saat selalu muncul ketidakpuasan akan yang apa yang pernah dicapai. Di dalam diri seseorang seakan-akan hanya ada satu petunjuk kehidupan. Seseorang malah bisa menjadi over achiever. Hidupny akan terasa hampa karena “di atas sana ternyata sepi dan tidak ada siapa-siapa”.

Entitlement
Jebakan kehidupan yang membuat seseorang bisa saja merasa selalu berhak atas apa pun yang dia inginkan. Selalu menginginkannya dengan cepat tanpa memedulikan situasi dan kondisi di sekitarnya. Seseorang bisa merasa berada di atas orang lain; bertutur kata, bertindak, dan menginginkan sesuatu dengan spontan tanpa peduli pada pendapat, pertimbangan, dan perasaan orang lain. Merasa kaisar dari kehidupan dari kehidupan ini dan merasa berhak untuk mendapatkan apa pun yang diinginkan. Kemarahan yang meledak-ledak dan perilaku kasar pada orang lain sering ditunjukkan sebagai upaya untuk menunjukkan kekesalan karena apa yang diinginkan tidak segera dipenuhi. Jebakan ini berpangkal pada sikap orang tua (atau orang-orang dekat) yang terlalu memanjakan. Seseorang dengan jebakan ini mempunyai masalah besar dengan disiplin diri, aturan main sosial, dan perasaan serta pemikiran orang lain. Keyakinan yang umumnya berada dalam diri seseorang yang sedang mengalami ini adalah: “aku berhak atas apa pun yang aku mau”, “aku adalah orang yang khusus”, “orang lain harus patuh padaku”, “aku tahu apa yang aku inginkan”, “orang lain tidak bisa dipercaya”, “aku harus dimengerti”, “aku merasa diterima saat orang lain patuh padaku”, dan “aku hanya berharga saat orang tunduk pada kemauanku”.`

Kesebelas jebakan kehidupan tersebut telah menghancurkan hidup sedemikian banyak orang. Hubungan sosial terhambat. karir mandek, kondisi keuangan hancur, keinginan belajar berhenti, dan akhirnya kesuksesan adalah hal yang sangat sulit untuk dicapai ataupun dinikmati. Untungnya semua jebakan tersebut bisa diperbaiki dan diluruskan, selagi kita bisa mendeteksinya secara dini.

Semoga bermanfaat.🙂

Sumber: Ludvianto, Bayu. Analisis Tulisan Tangan (Grapho for Success). Jakarta: Kompas Gramedia, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s