“Somewhere Only We Know”

Sore hari di tengah perjalanan pulang dari Kota Hujan. Matahari terbenam tertutup awan. Samar ku lihat dari kaca biru di kereta menuju Jakarta. Menjadi penghias perjalanan indah kisahku dengannya di hari itu. Kepalanya yang bersandar di pundakku, sungguh menggetarkan hati. Ingin ku dekap erat tubuhnya, ingin ku jaga terus lelap tidurnya, ingin ku pertahankan terus wajah polosnya, ingin ku kecup kepalanya dan berbisik “I don’t wanna lose you, dear”. Kereta pun gagah melaju membawa kami pulang dengan damai.

Seperti pagi hari biasanya, jendela bahkan belum terbuka, handphone sudah berdering. Yah, ku yakin semua tahu betapa beratnya mengangkat handphone di pagi hari. Namun, tak akan ku biarkan handphone ku lama-lama berdering, karena apa? Karena ku tahu, setiap pagi. (Ku ulangi) setiap pagi, dialah yang selalu membangunkanku. Samar cahaya lampu kamar, ku perhatikan radio yang telah usang, poster Manchester United dan Tazmania berputar di pandanganku, ku dengar suara lembutnya mengalun indah di telinga. Membangunkanku, suaranya seperti setengah berteriak. Lembut, selalu lembut terdengar di telinga ini. Bagai hangat matahari atau sejuk hujan yang menyambut setiap pagi indahku.

24 Januari 2013, sudah dijadwalkan sejak beberapa minggu yang lalu, kami akan pergi. Bogor, Kebun Raya. Kami akan mengunjunginya. Mengunjungi kota itu pada musim hujan di negara beriklim tropis ini barang pasti mengundang sedikit keraguan. Karena seminggu yang lalu, Jakarta dihantam hujan deras yang tak kunjung padam, sampai banjir menggenang menghiasi indahnya Jakarta berhari-hari lamanya. Bagaimana dengan Bogor? Yap, lagi-lagi. Selalu ada kata “namun” untuknya. Teringatku pembicaraan dengan orang Andalusia setahun yang lalu. Saat itu sedang hujan deras, di depan lobi suatu apartemen, orang-orang lalu lalang membawa cipratan air di kaki mereka. Ku sedang membantunya membetulkan handphone. Dalam bahasa Inggris Si Andalusia berkata “Mengapa orang-orang Jakarta takut akan hujan? Itu kan cuma air.”. “Kami ini hidup di negara tropis yang biasanya bersuhu panas, kami tidak biasa hidup dengan suhu dingin dan air yang terus mengguyur.”, jawabku. “Oiya, di Andalusia hujan selalu turun, dan kami tidak pernah bermasalah akan hal itu, sudah biasa.”. Ku hanya tersenyum, jawabanku hanya terkata di benak “Benar juga, mengapa harus punya masalah dengan hujan? Anak kecil saja yang rentan terhadap penyakit sangat menikmati hujan, mengapa aku tidak?”. Sejak berbicara dengan Si Andalusia, tak lagi-lagi ku bermasalah dengan sang hujan. Semoga kelak, aku dan dia akan menjadi sosok yang semakin mampu menikmati hujan seiring waktu berjalan. Begitu juga dengan perjalananku kali ini dengannya.

Tumpukan buku berserakan di atas meja, laptop pun masih menganga di atas kasur tersayang. Cekatan ku bereskan semua, dan lalu “Mau kemana las?”, tanya Ibu. “Bogor Bu”, jawabku. “Bogor? Yakin kamu? Musim ujan lho.”, tak ku jawab. Ku teruskan saja beres-beres. Handphone berdering lagi, kali ini sms darinya “Gausah buru2, saya masih harus nyuci dl. Tapi jam 8 mas udh harus sampe sini.”. “Oke teh.”. Aha! Kabar bagus. Baru saja ingin ku baringkan kembali tubuhku di kasur yang merayu, ku membayangkan dirinya yang sedang mencuci, lalu masih harus mempersiapkan keperluan untuk perjalanan dengan badannya yang tipis itu. Yah akhirnya ku lakukan juga hal yang sama dengannya, mencuci pakaian.

Pukul tujuh, selesai mencuci, selesai sarapan, sepatu ku pakai sambil terkekeh mendengar ibu-ibu berteriak di depan rumah, tawar menawar dengan si pemilik warung. Ku berangkat, menuju rumahnya, bolak balik membawakan pesanannya (yang ku setengah sangka itu adalah kue ulang tahunku yang ke-21). Padahal sudah lewat dua hari, ku kira hadiahnya hanya di malam sebelumnya saja, ternyata masih ada lagi. Lalu lintas pagi ini entah mengapa mengingatkanku oleh Wilo di kamar sendirian menatap kekosongan. Wilo adalah hadiah pertamaku darinya, sebuah boneka beruang yang memakai toga dan memakai pin bergambar lambang kampusku, STEI Rawamangun. Di semester delapan ini, ku yakin Wilo akan selalu mengingatkanku untuk tak pernah lelah mengerjakan skripsi yang awalnya dianggap sebagai tesis yang tak dapat ku selesaikan.

Di rumahnya, setelah menyelesaikan repotnya perdebatan. Metromini 49 mengantar kami menuju stasiun. Berangkat dari Pramuka menuju Manggarai di pagi hari libur nasional tak membutuhkan waktu lama. Apalagi diselingi oleh canda tawa, dan bangunan-bangunan baru yang sampai sekarang pun masih terasa asing di mataku. Seketika ku ingat pesannya, pesan yang selalu menenteramkan temaram malam “Selamat malam masku, selamat tidur :-)”. “Mas, maas, mas! Oy! Dikacangin.”. Seperti suara lebah terbang di dekat kuping. Suara rewelnya mengalihkan pikiranku (selalu begitu), senyumnya tak pernah gagal menarik lengkungan bibir ini, dan gelak tawa pasti ikut berhamburan memenuhi seisi ruang.

Sesampainya di stasiun, susu yang selama ini menjadi dopping bagi kami pun sudah bergelantungan di genggaman tangan. Di depan loket tiket, pilihan kami jatuh pada kereta ekonomi Jakarta Kota-Bogor. Bergegas melewati selasar, tak lama kereta tiba. Kami berangkat.
Canda tawa kami mengisi gerbong kereta yang tidak terlau terisi penuh itu. Tepat jika disebut dengan “kebodohan”. Yap, kebodohan yang mengundang gelak tawa. Bersama dengan para penumpang lain, ku lihat banyak sekali hal di sini. Jarak antara kaum mampu dan tidak. Bersamaan dengan gerbong yang bergetar dan berbelok, bersamaan dengan suara keras klakson kereta dari arah berlawanan, ku perhatikan dirinya, ku perhatikan semua yang ada di sekitarku. Manusia cacat yang berjalan lebih rendah dari orang lain yang sedang duduk, meminta dan meronta demi uang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Terbersit keinginanku untuk menata hidup kota ini. Inginku memiliki daya, kekuatan, dan tenaga untuk memperbaiki kota ini. Memimpin kota ini menuju perbaikan di setiap partikelnya. Ajaran sosialis, ilmu politik, hukum, dan ekonomi. Tata ruang, teknik sipil, mekanikal industri, dan sistem komunikasi dan komputerisasi ingin sekali ku pelajari semuanya agar bisa membawa kembali kejayaan layaknya dulu ketika Monas dibangun.

Di tengah tekad yang ku kobarkan, yap benar. Sekali lagi, dan selalu sekali lagi ia menghamburkan renunganku. Tak pernah bisa ku lama-lama berpaling darinya, tak pernah bisa. Angin yang berhembus menerpa indah wajahnya, seperti mengurangi waktu tempuh perjalananku. Ah Bogor, tak sesejuk yang dibayangkan. Seperti biasa angkutan umum di sana bejibun, dan penuh semua. Sesak, keringat tak berhenti mengucur menahan sesak. Hari itu tiket Kebun Raya Rp9.500. Rute yang kami ambil, sama seperti rute yang menggiring kami ke tempat itu untuk pertama kali. Melewati Museum Zoologi, Garden Shop, Istana, lalu ke padang rumput, dan ngalor ngidul nyasar mencari Si “Raflesia Arnoldi” (Amorpophalus Titanum).

Di bawah pohon rindang, yang mengucurkan air hujan deras langsung ke kepala. Dekat sekali dengan keberadaannya, sangat dekat. Ingin ku peluk erat tubuhnya, ketika ia mengucapkan perandaian jika saja kami bertemu beberapa tahun lagi, ketika sudah siap menikah. Tanpa harus melalui banyak hal yang rentan akan resiko perpisahan seperti saat ini. Terasa sekali panasnya kekejaman sang waktu yang mampu membekas di hati siapapun, termasuk dia dan aku. Ungkapan rasa sayangnya, menemani udara di sekitarku hingga sampai ke “padang rumput kenangan” itu. Terharu pasti, jika seseorang yang kita sayangi mempersembahkan sesuatu yang spesial untuk kita. Haru dan bahagia, menguasai setiap momen di hari itu. Suara kaku dari nyanyian ulang tahun yang dibawakan oleh adik-adik piyik dari Bojong. Alif, Siti, Risya, dan lainnya. Kue itu, rumput, hangatnya langit, bentol-bentol di tangan. Hahaha, semuanya indah. Namun tetap tak seindah, momen bersamanya, bersama dirinya di sampingku.

Hari mulai sore, semua salinan yang ku bawa sudah ku kenakan. Dari rumah, ku bawa tiga kaos, satu flannel di tas. Satu kaos dan satu jaket sudah ku kenakan. Dan jelang sore hari, semuanya sudah ku kenakan. Semua sudah bau keringat. Tak pedulikan bau, kami saling menuntun langkah menuju rumah. Tak kalah seru dari perjalanan berangkat, kami nikmati kekosongan kursi kereta yang dingin itu. Menjilati kaca, tertawa tak peduli orang lain. Malam menjelang, kami masih terbahak-bahak duduk di bagian belakang angkot 49, lagi-lagi tak peduli tatapan sinis penumpang lain. Menertawakan segala kesenangan-kesenangan kecil yang mungkin tak disadari orang lain.

Bukannya tidak mampu bersikap dewasa, kami hanya menikmati kehidupan apa adanya. Dan kenikamatan itu, terbawa terus hingga keesokan harinya. Pagi ini, 25 Januari tertera jelas di layar handphone. Sepertinya ku melihat senyuman dari matahari. Meja kantor dan seisi ruangan seperti sedang menari. Seketika terbayang kenangan ketika kami jalan berdua untuk pertama kali. Terngiang kembali soundtrack film yang kami tonton waktu itu. Somewhere Only We Know, lagunya Keane. Menggema di telinga, ku putar lagu itu berkali-kali. Memang isinya tak sesuai dengan apa yang ku rasakan. Namun kenangannya, selalu mampu menggetarkan relung jiwa.

Kalian tahu? Kebahagiaan akan selalu ada di sana, di tempat manusia mampu menemukan kenikmatan di dalam sebuah kebersamaan. I’m so sure of that. And for me no place is better than somewhere only we know.🙂

(28 Januari 2013)

2 thoughts on ““Somewhere Only We Know”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s