Aku Benci Jam 10 Malam

Aku benci ketika kehangatan temaram menghisapmu masuk ke lorong gelap
Aku benci ketika cahaya bintang-bintang mulai bersinar pendar
Aku benci suara bising yang telah memudar dan berganti dengan keheningan
Aku benci rintik hujan yang mempercepat langkahku menuju rumah
Aku benci wanita-wanita malam yang betebaran di bawah papan-papan gemerlap
Aku benci melihat warung-warung penjaja makanan mulai terbongkar
Aku benci ketika jalan mulai dingin dan binatang nocturnal berkeliaran
Aku benci ketika merasa ada bagian di hati ini yang retak kemudian pecah

Aku benci harus menahan rasa benciku ketika mengantarnya pulang
Aku benci harus mengikhlaskan hariku dengannya berakhir oleh sang malam
Aku benci jika tak ada lagi waktu yang tersedia untuk terus bersamanya
Aku benci saat kepalaku tertunduk lesu menahan rindu yang menunggu di ruang yang sepi
Aku benci kaki ini yang tak bisa dikendalikan membawaku kembali ke kandang
Aku benci cahaya kemilaumu tak pudar digerus hawa kelam
Aku benci berpisah denganmu wahai malaikat penjaga canda dan tawa
Aku benci tatapan sayang dan senyum terakhirmu di suatu malam walaupun esoknya kita bertemu kembali

Aku benci harus memandangi sungai hitam sendirian tanpa keceriannya
Aku benci membiarkan waktu mengalun anggun hingga ku mampu menyapanya kembali
Aku benci bersabar untuk melihat pancaran indah yang bisa disampaikan oleh sebuah senyuman
Aku benci melihat lenggok langkah tubuhnya yang menjauh dari jarak yang bisa ku pandang
Aku benci melepas tenagaku yang hilang begitu saja dengan kepulangannya
Aku benci membayangkan sejuknya suaramu yang selalu mampu menghapus segala peluh hati
Aku benci tertawa di dalam kehampaan yang muncul dari sudut-sudut dinding nan hampa
Aku benci sekali dengan senja yang sangat cepat berpaling kemudian tumbang

Aku benci musik keras yang terjebak di telinga lalu menemani sisa-sisa hidupku di hari-hari itu
Aku benci memperhatikan diriku terdampar di sebuah arus cepat yang terpasang kokoh di bawah langit
Aku benci menatap bulan yang mengintip nakal menertawakan anak Adam yang ingin menjadi anak Siti Hawa
Aku benci menembus kegelapan yang memenuhi jalan bagaikan asin memenuhi garam
Aku benci mengkhayalkan dirimu di sana yang sedang sendirian mengistirahatkan kalbu
Aku benci menatap kembali dinding-dinding suci yang bertuliskan puisi cinta bait demi bait
Aku benci ketika dirinya mengatakan salam lalu berpaling menyembunyikan wajahnya
Aku benci ketika ku menyadari bahwa yang ku benci adalah jam 10 malam, ya benar aku benci jam 10 malam

(1 Februari 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s