Konsep Dasar Sistem Ekonomi Islam

A. KONSEP DASAR SISTEM EKONOMI ISLAM
1. Gambaran Kecil Dari Pengertian Islam
Dari sisi bahasa, kata “Islam” berasal dari kata “aslama, yuslimu, islaman” yang artinya “tunduk dan patuh”. Jadi, seorang yang tunduk dan patuh kepada kepala negara, secara bahasa, bisa dikatakan “aslama li-rais ad-daulah”. Inilah makna generik atau makna bahasa dari kata Islam. Islam tidak memisahkan ekonomi dengan agama, politik, dengan agama atau pun urusan dunia lainnya dengan agama.
Jadi Islam adalah sebuah pedoman hidup dan berkehidupan yang dikeluarkan langsung oleh Allah SWT sebagai Pencipta, Pemilik, Pemelihara, dan Penguasa tunggal alam semesta, agar manusia tunduk, patuh, dan pasrah kepada ketentuan-Nya untuk meraih derajat kehidupan lebih tinggi yaitu kedamaian, kesejahteraan, dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.

2. Hakikat Ekonomi Islam
Manusia merupakan ciptaan ALLAH yang paling sempurna. Salah satu unsur kesempurnaan manusia adalah dapat membedakan antara benar dan salah, unsur ini disebut nurani. Nurani akan membawa hati manusia lebih sensitive terhadap perilaku yang baik atau buruk. Hal ini akan mendorong kehidupan masyarakat yang saling menghormati dan menghargai.
Kegiatan manusia di bumi dalam memenuhi kebutuhannya dijaman dulu cenderung mengalami proses yang sama, bagaimana dahulu ia berburu, meramu dan bercocok tanam. Demikian juga perilaku manusia saat ini, mengalami kecenderungan ke arah yang sama, bagaimana mendapatkan pekerjaan, mempertahankan pekerjaan, dan menyelesaikan pekerjaan. Hal ini menandakan bahwa manusia mempunyai pola perilaku untuk memenuhi kebutuhan yang relative sama walaupun tidak persis. Proses yang berulang dari pemenuhan kebutuhan ini menjadikan manusia dapat mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan memverifikasi pola perilaku yang lebih efektif dalam memenuhi kebutuhannya dengan melakukan sesuatu kegiatan untuk mendapatkan keuntungan maksimal dan menghindari kerugian seminimal mungkin dari setiap pemenuhan kebutuhannya.
Dalam mempertahankan hidupnya manusia diberi kebebasan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, namun kebebasan manusia ini tidak berlaku mutlak karena kebebasan itu dibatasi oleh kebebasan manusia lain.
Pada hakikatnya Ekonomi Islam timbul akibat pemenuhan kebutuhan manusia yang terbatas karena disesuaikan oleh kebutuhan jasmani manusia, sedangkan sumber dayanya tidak terbatas, sehingga manusia dituntut untuk bekerja keras guna memanfaatkan nikmat sumber daya tersebut tanpa menimbulkan kerusakan, karena mamfaat dan kerusakan yang terjadi akan menimpa kepada manusia itu sendiri.
Ekonomi Islam juga merupakan ilmu yang dihasilkan dengan sebuah upaya manusia untuk keluar dari persoalan ekonomi dengan cara yang sistematis, sehingga menimbulkan keyakinan akan kebenaran Al Qur’an dan Al Hadits. Untuk itu, tentunya manusia memerlukan kaidah-kaidah yang berlaku secara umum dan mendapat pengakuan secara umum agar dapat dibuktikan bahwa Ekonomi Islam juga sebagai ilmu pengetahuan yang bisa dipraktekan dalam ilmu kehidupan dan pelaksanaannya pun dapat dipaksakan karena alasan ke-maslahatan manusia.

3. Keterkaitan Ekonomi Islam dalam Ilmu dan Nilai
Ekonomi Islam bukan semata – mata bidang kajian yang berdasarkan pada persoalan – persoalan nilai, tetapi juga bidang kajian keilmuan. Keterpaduan ilmu dan nilai mejadikan ekonomi Islam sebagai konsep yang integral dalam membangun keutuhan hidup bermasyarakat. Ekonomi Islam sebagai ilmu menjadikan ekonomi Islam dapat dicerna dengan menggunakan metode – metode pengetahuan pada umumnya, sehingga ekonomi Islam dapat dikaji dan dikembangkan sekaligus dapat dipraktekkan.
Sementara itu, nilai menjadikan ekonomi Islam relevan dengan fitrah hidup manusia, yaitu menuntun ke jalan kebaikan dan menjauhi jalan kehinaan. Keberadaan nilai – nilai Islam dalam ekonomi Islam ada karena memiliki tujuan untuk memberilan kesejahteraan hidup bagi manusia, karena tidak mungkin Allah memberikan tuntunan yang menyebabkan manusia terjerumus dalam kehinaan.
Untuk itu keterpautan antara Ilmu dan nilai menjadi sinergi bagi perkembangan ekonomi Islam.

B. PERBANDINGAN ANTARA SISTEM EKONOMI ISLAM DENGAN SISTEM EKONOMI KAPITALIS
Ekonomi syariah merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang dilhami oleh nilai-nilai Islam.
Ekonomi kapitalisme Dalam sistem ekonomi kapitalis, materi adalah sangat penting bahkan dianggap sebagai penggerak utama perekonomian. Dari sinilah sebenarnya, istilah kapitalisme berasal, yaitu paham yang menjadikan kapital (modal/material) sebagai isme. Ilmu ekonomi kapitalis sangat memegang teguh asumsi bahwa tindakan individu adalah rasional.
Sistem ekonomi syariah sangat berbeda dengan ekonomi kapitalis, sosialis maupun komunis. Ekonomi syariah bukan pula berada di tengah-tengah ketiga sistem ekonomi itu. Sangat bertolak belakang dengan kapitalis yang lebih bersifat individual, sosialis yang memberikan hampir semua tanggungjawab kepada warganya serta komunis yang ekstrem, ekonomi Islam menetapkan bentuk perdagangan serta perkhidmatan yang boleh dan tidak boleh di transaksikan. Ekonomi dalam Islam harus mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, memberikan rasa adil, kebersamaan dan kekeluargaan serta mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha dan Islam menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan. Selain itu, ekonomi dalam kaca mata Islam merupakan tuntutan kehidupan sekaligus anjuran yang memiliki dimensi ibadah.
5 perbedaan mendasar antara ekonomi Islam dan ekonomi konvensional. perbedaan mendasar itu adalah:
1. Rasionaliti dalam ekonomi konvensional adalah rational economics man yaitu tindakan individu dianggap rasional jika tertumpu kepada kepentingan diri sendiri (self interest) yang menjadi satu-satunya tujuan bagi seluruh aktivitas. Ekonomi konvensional mengabaikan moral dan etika dalam pembelanjaan, dan unsur waktu adalah terbatas hanya di dunia saja atau mengesampingkan hari akhirat. Sedangkan dalam ekonomi Islam jenis manusia yang hendak dibentuk adalah Islamic man dianggap perilakunya rasional jika konsisten dengan prinsip-prinsip Islam yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang seimbang. Ekonomi Islam menawarkan konsep rasionaliti secara lebih menyeluruh tentang tingkah laku agen-agen ekonomi yang berlandaskan etika ke arah mencapai al-falah, bukan hanya kesuksesan di dunia malah yang lebih penting lagi ialah kesuksesan di akhirat.
2. Tujuan utama ekonomi Islam adalah mencapai falah di dunia dan akhirat, sedangkan ekonomi konvensional semata-mata kesejahteraan duniawi.
3. Sumber utama ekonomi Islam adalah al-Quran dan al-Sunnah atau ajaran Islam. Segala sesuatu yang bertentangan dengan dua sumber tersebut harus dikalahkan oleh aturan kedua sumber tersebut. Berbeda dengan ekonomi konvensional yang berdasarkan pada hal-hal yang bersifat positivistik.
4. Islam lebih menekankan pada konsep need daripada want dalam menuju maslahah, karena need lebih bisa diukur daripada want. Menurut Islam, manusia mesti mengendalikan dan mengarahkan want dan need sehingga dapat membawa maslahah dan bukan madarat untuk kehidupan dunia dan akhirat.
5. Orientasi dari keseimbangan konsumen dan produsen dalam ekonomi konvensional adalah untuk semata-mata mengutamakan keuntungan. Semua tindakan ekonominya diarahkan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Jika tidak demikian justru dianggap tidak rasional. Lain halnya dengan ekonomi Islam yang tidak hanya ingin mencapai keuntungan ekonomi tetapi juga mengharapkan keuntungan rohani dan al-falah. Keseimbangan antara konsumen dan produsen dapat diukur melalui asumsi-asumsi secara keluk. Memang untuk mengukur pahala dan dosa,tidak dapat diukur dengan uang, akan tetapi hanya merupakan ukuran secara anggaran unitnya tersendiri.

C. DAMPAK NEGATIF SISTEM EKONOMI KAPITALIS
A. Tidak Merata
Persaingan bebas menimbulkan kecenderungan setiap orang untuk lebih mementingkan kepentingannya sendiri. Bagi orang yang telah berkecukupan dalam bidang ekonomi tidak banyak yang peduli dengan orang yang kurang mampu, karena kepedulian bukan bagian dari kewajibannya. Maka ketidak merataan sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat yang individualis. Ketidak merataan sosial ini secara tidak langsung mengubah struktur masyarakat menjadi dua bagian yakni kaya dan miskin, terkadang dengan posisi ini mereka gunakan sebagai legitimasi untuk menuntut lebih banyak kepada pemerintah. Yang kaya merasa berhak diberi fasilitas lebih karena ia ikut membantu pembangunan Negara, demikian juga yang miskin merasa bahwa ia berhak dipelihara Negara, karena ia miskin akibat system ekonomi yang dipakai pemerintah.

B. Tidak Selaras
SetIap orang menggunakan kebebasan untuk mengeksplorasi sumber daya yang dimilikinya dengan efisien guna memperoleh keuntungan yang lebih banyak. Keadaan ini yang menyebabkan terjadinya eksploitasi sumber daya dengan alasan, segala apapun yang dikerjakan merupakan upaya untuk mengaktualisasikan kebebasan yang dimilikinya

C. Maksimasi Profit
Efisiensi usaha biasa dijadikan legitimasi untuk menaikkan batas produksi dan mengurangi biaya guna mendapatkan keuntungan yang maksimal. Hal ini dilakukan sebagai alasan bagi pengusaha untuk mempertahankan produksi dan memenangkan persaingan usaha dengan pihak lain. Konsep kerja kapitalis telah menjadikan sebagai syarat terjadi efisiensi telah membangun struktur kependudukan yang diskriminatif.

D. Krisis Moral
Dalam kapitalisme setiap orang berusaha mengejar kekayaan supaya mendapatkan peran lebih di dalam masyarakat. Hal ini mengakibatkan perencanaan dalam mendapatkan kekayaan mendominasi hidup manusia dari hari ke hari. Kapitalisme telah menjerumuskan manusia pada sikap mempermaklumkan keadaan.

E. Materialistis
Nilai-nilai sosial seperti kerjasama, saling membantu, dan lain sebagainya, kurang mendapat tempat dalam kehidupan kapitalis. Dalam system kapitalisme segala kegiatan ekonomi didasarkan atas terpenuhinya optimalisasi produksi guna mencapai output produksi dan keuntungan produksi yang diharapkan. Keadaan ini menjadikan hidup bermasyarakat hanya untuk memenuhi aspek-aspek produksi saja, sehingga menimbulkan dorongan bagi manusia untuk selalu berhitung. Hal ini yang menjadikan perilaku transaksional di dalam kehidupan masyarakat.

F. Mengesampingkan Kesejahteraan
Konsep kapitalis cenderung memahami pertumbuhan ekonomi lebih harus diperhatikan daripada pemerataan ekonomi, karena pemerataan akan timbul setelah adanya pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini merupakan dampak dari mekanisme modal yang cenderung berputar pada kalangan pengusaha. Bila pengusaha mendapatkan keuntungan maka secara tidak langsung akan bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kebijakan ini menjadikan kesejahteraan masyarakat terabaikan.

D. RESISTENSI SISTEM EKONOMI ISLAM TERHADAP SISTEM EKONOMI KAPITALIS
Tatanan Ekonomi Baru dan Peran Pemerintah: Perspektif Islam
Berbagai peristiwa dekade terakhir, terutama krisis ekonomi tahun 1997 di Asia telah semakin menimbulkan kesadaran bahwa tatanan ekonomi dunia saat ini mencerminkan ketidak-adilan dan ketimpangan struktur ekonomi di banyak tempat terutama negara-negara berkembang. Beberapa alternatif telah dimajukan, seperti green economy. Belakangan banyak kalangan, termasuk ahli-ahli ekonomi Barat mulai melirik sistem ekonomi yang ditawarkan oleh Islam sebagai pilar tatanan ekonomi baru dunia.
Tatanan ekonomi baru yang diperlukan itu harus mencerminkan keadilan, pandangan yang sejajar terhadap manusia dan moralitas. Tatanan ekonomi yang ditawarkan Islam dilandasi dengan fondasi yang kuat, yaitu tauhid (keesaan Tuhan), khilafah (perwakilan), dan ‘adalah (keadilan).
Ketiga landasan tersebut merupakan satu kesatuan yang saling terkait. Tauhid merupakan muara dari semua pandangan dunia Islam. Tauhid mengandung arti alam semesta didesain dan diciptakan secara sadar oleh Tuhan Yang Mahakuasa, yang bersifat esa, dan tidak terjadi secara kebetulan atau aksiden (Q.S. Ali Imran: 191; Shad: 27; al-Mu’minun: 15). Sumber daya alam yang diciptakan harus dimanfaatkan untuk pemenuhan kebahagiaan seluruh umat manusia. Pada sisi ini, jelas bertentangan dengan konsep self interest kapitalisme. Implikasi dari pandangan tersebut adalah pandangan persaudaraan universal, yang kemudian menimbulkan persamaan sosial dan menjadikan sumber daya alam sebagai amanah karena statusnya sebagai wakil Tuhan yang menciptakan alam semesta. Pandangan ini akan terlaksana secara substansial jika dibarengi dengan keadilan sosial-ekonomi. Dalam tatanan ekonomi baru tersebut, paling tidak, mencakup empat hal.
Pertama, maksimalisasi tingkat pemanfaatan sumber daya. Pemanfaatan sumber daya tersebut memperhatikan prinsip kesejajaran dan keseimbangan (equilibrium). Dalam ekonomi Islam konsep al-‘adl dan al-ihsan menunjukkan suatu keadaan keseimbangan dan kesejajaran sosial (Q.S. an-Nahl: 90).
Kedua, minimalisasi kesenjangan distributif. Tujuan ini berkaitan dengan prinsip dasar ekonomi Islam, keadilan distributif. Keadilan distributif didefinisikan sebagai suatu distribusi pendapatan dan kekayaan yang tinggi, sesuai dengan norma-norma fairness yang diterima secara universal. Untuk mencapai tujuan ini beberapa institusi Islam dimanfaatkan seperti zakat dan wakaf
Ketiga, maksimalisasi penciptaan lapangan kerja. Pertumbuhan ekonomi merupakan sarana untuk mencapai keadilan distributif, sebagian karena mampu menciptakan kesempatan kerja (baru) yang lebih banyak daripada yang mungkin bisa diciptakan dalam keadaan ekonomi statis.
Keempat, maksimalisasi pengawasan. Salah satu bagian integral dari kesatuan sistem ekonomi Islam adalah lembaga Hisbah. Peranannya, sebagaimana dirumuskan Ibn Taimiyah, adalah melaksanakan pengawasan terhadap perilaku sosial, sehingga mereka melaksanakan yang benar dan meninggalkan yang salah. Lembaga Hisbah adalah lembaga pengawasan terhadap penyimpangan, di antaranya dari kegiatan ekonomi. Pengawasan dalam ekonomi Islam adalah penting, karena suatu sistem ekonomi yang adil tidak akan berjalan apabila terjadi kecurangan yang disebabkan oleh perilaku menyimpang pelaku ekonomi.

E. PERLUNYA ISLAMISASI TERHADAP ILMU EKONOMI
Islamisasi adalah pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-nasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari belenggu paham sekuler terhadap pemikiran dan bahasa. Islamisasi adalah suatu proses menuju bentuk asalnya yang tidak sekuat proses evolusi dan devolusi .
Ini artinya dengan Islamisasi ilmu pengetahuan, umat Islam akan terbebaskan dari belenggu hal-hal yang bertentangan dengan Islam, sehingga timbul keharmonian dan kedamaian dalam dirinya, sesuai dengan fitrahnya.
Proses Islamisasi ilmu ekonomi atau penerapan sistem ekonomi Islam untuk bisa keluar dari sistem yang berlaku pada saat ini bukan sebuah pekerjaan yang dapat selesai dalam waktu singkat, apalagi jika kita perhatikan bersama bahwa kebangkitan pemikiran ekonomi Islam baru berlangsung sekitar 40 tahun. Artinya terjadi kekosongan pemikiran yang cukup jauh.
Komparasi yang bisa kita lakukan, jika ekonomi konvensional diasumsikan sudah terbangun cukup lama, lalu bagaimanakah proses meng-Islamkan sistem ekonomi, sedikit mengingat sejarah, ketika peradaban madani telah terbangun, di sisi lain berlangsung perang berkepanjangan Persia-Romawi. Terjadi pungutan pajak dan tarif yang luar biasa berat untuk pembiayaan perang, sehingga menghambat perdagangan dan pembangunan. Sementara wilayah dibawah pengaturan Islam menjadi pangsa pasar yang luas dan terbuka dengan pajak minimum, perputaran uang yang pesat, tempat penyimpanan barang-barang, kapital, dan interaksi antar manusia yang bebas dan aman. Hal ini bisa terjadi karena konsep ekonomi Islam yang berdasarkan asas keadilan.
Keberhasilan ekonomi Islam bukanlah fantasi, karena keberhasilan tersebut pernah berjaya dari abad 7 hingga abad 12 atau selama 600 tahun, tentu hal ini mengindikasikan bahwa “hanya” dengan ekonomi Islam akan tercipta suatu kesejahteraan dan peradaban yang gemilang.
Momen paling menentukan bagi perkembangan ekonomi Islam adalah didirikannya IDB th 1975 dirancang untuk “menyaingi” World Bank. Selanjutnya ADB yang dibentuk oleh negara2 yang tergabung dalam OKI, salah satunya Indonesia Menkeu ketika itu menjabat Dewan Gubernur. Berdirinya IDB memicu berdirinya bank2 Islam di seluruh dunia, bahkan di kawasan Eropa. Bank Mu’amalat Indonesia (BMI) sendiri berdiri pada tahun 1991. Perkembangan ekonomi Islam dipandang sebagai sebuah gerakan (harakah), meliputi aspek pengembangan, teoritis dan praktis.
Pada dasarnya Islam adalah sebuah sistem norma universal, di mana teks-teks keagamaan mempunyai cakupan menyeluruh keuniversalan nilai-nilai Islam tanpa mengalami sekat-sekat. budaya, waktu, geografis bahkan ilmu. Islamisasi ekonomi, menjadikan al-Qur’an dan sunnah sebagai rujukan utama dalam menjustifikasi argumen-argumen dan eksistensi ekonomi.
Dalam bidang Ekonomi, Islam telah meletakkan kaidah-kaidah umum yang sangat prinsipil, apabila prinsip ini dipahami dan diterapkan dengan sempurna, maka dapat dipastikan akan dapat menyelesaikan permasalahan ekonomi saat ini. Dunia pun akan segera mengetahui bagaimana kesejahteraan masyarakat dapat meningkat, sekaligus meredam kesenjangan dan kecemburuan sosial di lapisan masyarakat, karena dengan Islam akan ditemukan jalan terdekat menuju kemakmuran (hayat thoyyibah).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s