Matahari Pagiku

Hatiku lebur bagai besi yang dipanaskan hingga mencair
Lalu tumpah dan menetes terus ke tanah kemudian kembali membeku tak beraturan
Membayangkan sang waktu memberi pertanda hidupku telah berakhir
Menghentikan peredaran seluruh planet, dan lalu matahari meledak menghancurkan seluruh kehidupan

Itu hanyalah fantasi gila yang muncul jika ku tak bertemu dirinya
Ketika kerinduan bercampur aduk menjadi satu dengan setiap hembusan nafasku
Dia mentari pagiku, yang menyinari dan menghangatkan jiwaku
Dia hujan pagiku, yang menyejukkan angan dan tubuhku, ya benar, dia

Ku rindu aromanya, ku rindu suaranya, ku rindu wajahnya, ku rindu senyumnya, ku rindu amarahnya
Ku rindu perilakunya, ku rindu dekapannya, ku rindu lembut tangannya, ku rindu hangat wajahnya
Sepotong surga yang bisa ku dapatkan selama akarku masih tertanam di sini
Setapak jalan menuju cahaya yang niscaya bisa ku lalui selama kamu menemani

Senyumannya tidak manis, juga tidak cantik, apalagi menawan
Tapi, senyumannya menyenangkan, amat menyenangkan
Kalian mungkin tidak akan percaya kata-kata yang terlontar
Kalian mungkin tidak akan percaya kata-kata yang terucap
Karena kalian belum pernah melihat, senyuman semenawan itu, senyumannya
Mungkin sudah dengan mata telanjang, tapi belum dengan hati penuh kasih sayang

Ketika tertawa, tidak hanya manusia, udara pun ikut tertawa mengikutinya
Ketika bersedih, bahkan hujan tak mampu menyentuhnya
Ketika amarah menguasainya, tak bisa kalian bayangkan betapa berat tekanan di sekitarnya
Ketika kelembutan melindunginya, dedaunan tak berhenti berjatuhan menyapanya

Aku, termasuk yang beruntung karena selalu dapat bertemu dengannya
Terkadang, tak butuhlah aku bertemu dengan malaikat, jika ada dia di sampingku
Kelak jika aku dinobatkan sebagai pria tersial, karena selalu mendapatkan kepala yang terbakar karena nafas api yang ia keluarkan dengan gagah membara
Takkan pernah lagi ku hidup di dunia yang berani-beraninya melakukan itu, lebih baik aku tinggal dalam dunia mimpi, atau tenggelam menuju laut dalam tanpa oksigen nan membelenggu

Wajahnya, ialah jendela hatinya
Apa yang sedang ia rasakan, derita, atau nikmati akan terpancar jelas melalui wajahnya
Sedikit berbeda denganku, yang seperti melamun setiap saat
Wajahku, ialah aib bagiku

Gilakah aku jika berkhayal tentang waktu yang berjalan lebih lambat daripada seekor siput yang sedang sekarat?
Meminta sang petir menyambar ujung lidah agar aku bisa tersadar, tak apa jikalau langsung kembali terkapar
Asalkan jiwaku terselamatkan, dari hujan meteor yang sebentar lagi akan mendarat
Seharusnya boleh kan? Aku berkhayal tentang kapal pesiar yang membawa matahari di dalamnya, bersinar terang memenuhi sudut-sudut tergelap di hati yang terbakar

Kembali ku merenung di malam pekat, gelap, namun menenteramkan
Membayangkan suatu pagi yang tidak begitu indah jika tak ada suaranya
Kembali ku memikirkan senyumnya yang menyenangkan
Bagaikan matahari pagi yang selalu bercahaya tak kenal patah asa, tak kenal habis tenaga

(15 Februari 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s