Berbicara dengan Bulan

Kesunyian memenuhi mulutku, aku tak mampu berpikir apa yang ku tatap dan aku tak menatap apa yang berada di pikiranku
Senyap sembap, sedih pedih, hancur lebur, menghiasi segala dinding dan atap hati
Lampu jalan yang telah padam namun tetap memaksakan kehendaknya untuk terus menyala menyinari jalan yang telah usang bekas lalu lalang para penjaja obat-obatan pinggir jalan
Anak bocah yang terserempet kepalanya oleh pengendara sepeda bermesin yang ugal-ugalan berkendara tanpa menggunakan isi kepalanya
Tak memedulikan semua, aku menatap dalam langit, sangat dalam
Hitam, penuh misteri, sejuk, mirip sepertimu
Ku perhatikan awan yang bergerak, menuju arah timur laut dengan cepatnya, cepat atau terburu-buru? Aku tak tahu, awan tak pernah menunjukkan dirinya sedang mengalami apa
Ku pandangi bulan purnama di akhir Pebruari, terang, bulat sempurna, ia seperti menatapku sangat tajam namun tetap hangat
Ku ajak ia berbicara, ku ajak kegilaanku tertawa, ku ajak ia tersenyum, ku tersenyum seperti orang gila
Lebih tenggelam lagi aku terjatuh ke kegilaan, sang bulan membalas sapaku lalu tak segan memberi senyumnya
Ia mengerti, emosi yang meluap-luap seperti ini, tak membakarku
Justru malah mendinginkanku, hingga sedingin es yang sedang mencair
Tak bisa bergerak, tak bisa menggunakan ekspresi, tak bisa berpikir, tak bisa menangis
Bukan marah, bukan sedih, bukan kecewa, bukan benci
Hanya lemas tak karuan, hanya tenaga yang lenyap seketika
Tersenyum ku mampu, tertawa ku mau, namun tak selepas biasanya, tak senikmat setiap harinya
Awan ungu itu, sangat menyebalkan, menutup pembicaraanku dengan saudara seibu dari sang fajar
Aku tak tahu apa urusannya, namun ku sangat tak suka jika aku sedang berbicara dengan bulan, lalu ada yang memotongnya, sekalipun itu asteroid atau lidah matahari
Ah, ku teringat pada sepotong kayu yang ku tinggalkan di rumah, di atas lemari pendingin yang umurnya sama dengan daging bekas khitanku
Dibungkus kertas cokelat, sangat mencurigakan orang yang belum mengenalnya, bagaikan manusia besar yang berdiri di atas tumpukan jerami yang terbakar, dan orang itu diam saja tak meneriaki apapun
Ku gambarkan pola di tengahnya, penuh harapan sambil menebar senyum iseng
Dengan sisa-sisa tenaga yang ku punya, aku mulai pahat kayu itu, berharap bisa ku selesaikan
Mungkin bulan di atas sana telah bebas bersinar kembali tanpa ada interupsi
Rahasia dari manusia itu bagaikan ruh, setiap manusia memilikinya, namun tak ada yang mampu melihatnya
Pukulan demi pukulan, ku cungkil, ku tekan, ku pahat kembali
Tak lupa ku bisikkan suara sayangku di setiap goresan kayu itu, tak ku lupa membisikkan suara inginku pada sang udara agar hujan datang menemaniku malam ini karena sang dewiku sedang beristirahat dengan sang raja
Aku merindukanmu, aku juga merindukan api semangatku, api semangat dari seorang pemadam kebakaran yang sedang memadamkan api dengan api
Keringat menyelinap dari balutan kain yang ku kenakan, buku cinta tergeletak rapi tepat di sampingku, kayu pahatan yang tadi belum ku selesaikan sedang ku diamkan sejenak untuknya beristirahat sebelum besok menyalami tusukan-tusukan pisau dapurku
Sementara aku bermimpi padahal kuping ini masih mendengarkan suara angin yang begerak teratur
Aku berkhayal menjadi manusia api yang bisa terbang kemanapun ku mau, juga bisa membakar semua yang tak ku suka
Menembakkan sinar laser ke arah matahari, terbang ke antartika, ikut membantu gletser menari dengan gagah perkasa
Tersadarkan oleh suara-suara melodi setan yang sedang senang ku dengarkan
Aku kembali memasuki dunia nyata, bersiap menghadapi esok hari yang pastinya akan tak jauh beda dengan hari ini
Tak lama kemudian ku lewati gerbang mimpi, berada lama sekali ku di sana, kebingungan
Untungnya saja malam tak berlalu terlalu lama, sangatlah cepat, hingga mentari pun bersinar
Aroma tanah yang ku pijak, dinginnya air yang ku basuh ke wajah, langit yang berwarna-warni
Sungguh keindahan pagi memang tiada duanya
Kegelisahan kembali menghampiriku, dengan tenangnya ia membalut pundakku lalu meraih tanganku
Tak bisa berpaling ku dibuatnya
Hanya rasa kantuk yang mampu membuatku lupa akan kekhawatiran dan kegelisahan yang sedang membungkusku
Akhirnya ku tetapkan biar dunia mimpi lagi yang mengawali hariku, dengan begitu aku akan sedikit lebih lega dibandingkan mengawali hari dengan kesiapan yang selalu mengkhawatirkan dan menggelisahkan
Lalu ku minta pada bulan untuk tetap tinggal di situ walau hitam langit telah memudar, menjagaku dan mimpiku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s