Sumpah Serapah dari Takdir yang Terkurung

Hei kau sang pengendali waktu dan penguasa mimpi, ku peringatkan
Jika aku sedang bermimpi, jangan bangunkan aku
Tidak ada tempat lagi selain di alam mimpi di mana aku bisa selalu melakukan semua yang ku inginkan, tanpa larangan oleh apapun bahkan oleh kalian
Bila kalian membangunkanku, aku berjanji takkan pernah memejamkan mata lagi, walaupun hanya seperti menjentik ujung kuku

Tidur adalah hiburan yang ku miliki selain udara pengap dan keringat gatal
Tak pernah cukup, ku takkan pernah bisa merasa cukup, bahkan kala kematian telah mengecup hangat keningku
Kebencianku terhadap dunia ini sangatlah besar, sama besarnya dengan keinginanku untuk hidup di alam mimpi atau alam lain
Lalu, apakah di surga nanti, aku akan merasa cukup? Sebuah tempat terindah yang pernah ada, dambaan seluruh jiwa, hingga tak mampu bagi manusia untuk menggambarkannya
Itu pun jika aku diizinkan ke sana, naif sekali

Terkadang, ku harap aku bisa mati sekarang, hanya untuk kembali hidup di tempat yang lain
Tidakkah itu lebih baik? Dibandingkan menjalani kehidupan seperti menjadi batu di gua yang setiap detik ditimpa tetesan air
Tak mampu bergerak, tak mampu menggeliat, hanya diam di tempat gelap dan lembab
Sedikit demi sedikit terkikis hingga habis, tiada yang mengetahui tiada yang peduli

Beruntunglah kalian jiwa-jiwa muda yang bebas, tak butuh kendali
Tak terkekang terali, tak terkurung jeruji
Masih bisa membedakan antara air mata kesedihan dengan air mata kebahagiaan

Kalau boleh memilih, aku tak ingin lahir di dunia ini, aku takkan memilih kehidupan ini
Hei Dewa Kronos! Jadikan saja aku sebagai angin, ombak, meteor, atau komet
Bebas pergi ke manapun ku mau, bebas menghantam apapun yang ku tuju
Tidak seperti ini, seperti ulat yang bermetamorfosis menjadi kepompong tapi tak menjadi kupu-kupu
Mati saja begitu, jatuh dari dahan, lalu digerogoti sampai kering oleh serangga jahat

Kata sayang yang kalian ucapkan, penuh akan dusta
Kepedulian yang kalian serukan, hanyalah bualan belaka
Cinta yang kalian berikan, tak lebih dari rekayasa saja
Pergilah kalian ke neraka, oh tidak. Jangan. Aku tak mau bertemu kalian di neraka

Berbagi kesedihan? Tidak, terimakash
Aku juga manusia, tapi aku tahu kapasitas kalian dalam menahan kepedihan
Cukup aku saja, lagipula kepedihanku tak sudi ku bagikan untuk orang lain

Yang indah di dunia ini hanyalah tidak dilahirkan
Untuk apa dilahirkan?
Jika tak mampu merasakan cinta hingga hati tak mampu lagi merasa
Jika tak mampu melihat dunia hingga mata tak lagi berguna

Petang itu ku ingat rumah-rumah di pinggiran sungai yang terbakar, orang-orang berteriakan histeris di bawah sinar matahari senja. Mayat-mayat yang masih tergulung api mengapung di atas sungai yang warnanya mulai memerah. Dari bawah puncak phon pinus, aku sembunyi tak bergerak. Memperhatikan keluargaku di sana, dibantai satu per satu oleh penduduk desa. Semenjak api terbakar, orang tuaku memerintahkanku untuk tak akan turun dari pohon ini hingga salju mulai datang dan melapisi tanah. Diam saja ku di dahan, merenungkan ternyata memang benar, yang tak diakui lebih baik menyingkir daripada mati dikuliti.

Hujan tak kunjung tiba, aku kelaparan. Hanya keringat dan air mata yang bisa ku minum. Berani bersuara sama saja dengan berani mengundang maut. Orang-orang dengan kemarahan di kepala meraeka mencariku. Api yang mereka nyalakan di tongkat, anjing-anjing liar yang mereka biarkan membuas, teriakan-teriakan kotor yang tak bisa lagi ku cerna. Bergidik aku dibuatnya. Sudah tak ingat lagi waktu, sudah tak mampu lagi mencium aroma kotoran. Hampir saja aku mati kedinginan, beruntung seekor macan kumbang betina menyusuiku dan menghangatkanku, merawatku bersama anak-anaknya hingga musim dingin tiba. Ia melepasku, dengan bekal dan kemampuan ia wariskan aku berubah menjadi pemburu manusia, sekaligus pembenci ras mereka.

Aku benci melihat mereka bernafas. Dan ku putuskan untuk melakukan perjanjian dengan Dewa Kronos, sang penguasa waktu, yang juga ayah dari Dewa Zeus. Aku menjual jiwaku padanya, untuk membeli jaminan hidup selamanya, bebas dosa dan kekal hukum. Dengan syarat, keseluruhan aku adalah miliknya, sedangkan ia membiarkanku mencabut nyawa manusia sebanyak apapun yang ku mau. Tak akan pernah puas, ribuan manusia mati dengan tanganku. Sang Kronos mulai risau, Kronos tak lagi bisa membiarkan hal ini terus terjadi. Ia tak inginkan hal itu, ribuan manusia tak bersalah mati di tangan manusia setengah setan. Karena kematian ribuan manusia dengan cepat dapat merusak keseimbangan semesta. Lantas ia mengurungku di sini, di penjara ini, tepat di tengah inti bumi. Ia berjanji akan mengeluarkanku nanti, setelah ia putar balik rotasi bumi terhadap matahari. Bersabarlahku hingga kiamat tiba, lalu perlahan berjalan menapaki jalur menuju neraka. Nasib yang menjijikkan.

Balas dendam kepada manusia, hingga tetes darah mereka yang terakhir dari manusia terakhir
Itulah kehidupan yang ku idamkan, melebihi semua pujaan yang ku buat untuk kekasihku dulu
Mendengar tangisan bayi yang menyaksikan orang tuanya terbunuh
Melihat orang-orang tua mati berlumuran darah dan isi perut mereka
Menyaksikan anak-anak lugu yang mati keracunan, bersama dengan orang tua mereka
Terkadang ku sesali perjanjianku ini, mengapa tak ku putar balil saja waktu? Lalu aku selamatkan orang tuaku dari peristiwa itu?
Atau ku belah saja kepalaku, sesaat sebelum aku ditangkap dan ditawari perjanjian oleh dewa busuk itu
Namun sepertinya,
Hati dan nafas ini lebih memilih kebencian dibandingkan dengan unsur-unsur dunia lainnya

Hidup tak lagi sudi, tapi tak bisa mati
Sampai jumpa di kiamat nanti

(22 Februari 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s