Dari Balik Topeng Besi

Di balik topeng besi ini aku menangis, di luar topeng besi ini aku tersenyum
Di balik topeng besi ini aku marah, di luar topeng besi ini aku tertawa
Di balik topeng besi ini aku merintih, di luar topeng besi ini aku ceria
Di balik topeng besi ini aku meronta, di luar topeng besi ini aku bahagia

Tiada yang akan peduli, tiada yang akan mengetahui
Duniamu adalah duniaku, namun duniaku bukan duniamu
Ku rasakan angin berhembus dari balik topeng ini, tak sebegitu nikmatnya ketika dulu ku masih kecil, ketika tidak ada besi yang terpasang di rahang, belakang kuping, dan ubun-ubunku
Aku duduk, di atas potongan batang pohon, ku lihat pria-pria rupawan di seberang sana
Mungkinkah aku akan menjadi sesempurna mereka kelak?
Mungkin, jika aku mampu meletakkan kepalaku di atas punggungku

Mungkin mereka belum pernah diberi cap di punggungnya
Sebuah cap berbentuk lambang, yang menggambarkan dan menjelaskan bahwa takdirmu sudah dikunci
Dikunci menjadi seorang penjaga dan penjagal, yang tak boleh menunjukkan emosi
Tak boleh merasakan kasih sayang, dan tak boleh menjadi makhluk yang dicintai

Dari balik topeng ini, aku tatap langit senja
Sempit sekali, tak seindah dulu ketika aku muda
Dalam rupa seperti ini, apakah sudi orang lain menganggapku sebagai manusia?
Atau memang aku ditakdirkan menjadi manusia yang bukan manusia
Wajar saja bila mereka menganggap begitu, bagaimana bisa orang lain menganggapku sebagai manusia jika terdapat pedang menancap di kedua tanganku
Tak bisa menggenggam, tak bisa menyentuh, hanya bisa mengiris dan memotong atau menusuk dan menikam

Apakah aku bisa membuka topeng ini?
Apakah aku akan membuka topeng ini?
Apakah aku ingin membuka topeng ini?

Untuk apa? Untuk apa! Untuk apa aku buka topeng ini!
Dunia saja tak bisa menerimaku, tak ingin menjadikanku sebagai penghuninya, dan takkan menganggapku sebagai makhluk ciptaan Tuhan juga

Dari balik topeng besi ini, aku tertawa, menertawakan diriku sendiri dan nasib buruk yang memeluk erat usiaku hingga nanti aku mati
Ku jalani tugas-tugasku dengan baik sepenuh hati, ku lakukan untuk mereka yang ditunjuk sebagai majikanku
Tak diberi ku sedikitpun makanan, karena pada dasarnya tubuh ini sudah dibentuk agar mampu hidup tanpa makan
Makananku hanyalah kehampaan, kehancuran, dan kebinasaan

Mungkin kalian mengira bahwa aku berkawan dengan setan dan sejenisnya
Bodoh
Neraka saja enggan membiarkan ku masuk dan mencicipi api serta airnya yang membakar apapun yang menyentuhnya

Jadi ingat, hari itu, ketika aku ditunjuk menjadi “benda” menjijikkan ini

Hari itu ibu menatapku dengan tatapan terburuknya, kesedihan yang terpancar, masih mengiris hati ini hingga kini. Sambil berjalan menuju penjara, ayahku ada di sana, sedang menatapku juga, dengan penuh kekuatan dan ketidakrelaan, ia memandangku dengan seksama hingga pedang pancung memenggal kepalanya. Ibuku menungguku di gerbang masuk penjara, ibuku berkata “Jalani hidup ini, anggap semua yang kau lakukan nanti adalah pengabdianmu untukku wahai anakku. Aku, dan ayahmu menunggumu di surga. Topeng apapun yang membungkus wajahmu, takkan merubah hatimu dan semangat dari keluarga kita.”.

Di situ, di bawah teriakan pengkhianatan dari teman-teman lama kami, aku menangis. Aku menangis, aku meraung, bersimbah di kaki ibuku, untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Ku coba meyakinkan semuanya, dengan mulut ini untuk jiwa ini “Tenang Ibu, kita akan baik-baik saja, jangan menatapku seperti itu.”. Kakakku sudah menyusul ayahku, dengan bermandikan zat asam yang mampu menggerogoti tulang, dengan sorak sorai warga kota yang mengantarnya pergi di surga, dengan cepat ku ucapkan salam pada adik termanisku, ku tahan ia agar tak mengikuti ibuku pergi ke sarang pendosa. Adikku hanya berkata “Kakak, kau adalah penerus keluarga ini, aku tak peduli akan menjadi apa aku nanti, yang penting, jangan kau sia-siakan kehidupanmu kak, agar kematian tak menjemputmu dengan senyumnya yang menyeringai”. Ia lalu berjalan menyusul ibuku ke dalam sarang pendosa dengan senyuman memenuhi wajahnya

Hatiku pilu, ku teruskan langkahku menuju tempat yang akan mengubah seluruh hidupku hingga bertahun-tahun nanti. Ku biarkan mereka melubangi kepalaku, ku biarkan mereka merenggut kehormatanku, ku biarkan mereka mengambil seluruh emosiku. Merenggut masa depanku, menghapus masa laluku, menguasai seluruh waktuku. Tapi di situ aku berjanji, untuk menjalani tugas sebaik yang ku bisa, agar nanti, aku bisa bertemu lagi dengan keluargaku di surga. Entah itu membunuh, entah itu menyiksa, hanya ini yang bisa ku lakukan. Mencoba kabur, atau merubah keadaan hanyalah menambah penderitaanku, begitulah kata mereka. Keyakinanku akan surga sama besarnya dengan keraguanku pada neraka.

Demi kesempurnaan senyum ibuku, demi kehangatan pelukan ayahku
Demi ketenteraman canda kakakku, demi kedamaian sentuhan adikku
Akan ku lanjutkan penderitaan ini, akan ku lanjutkan perjalanan pengabdianku pada yang mereka sebut kejahatan
Langit malam, langit siang, tak berarti bagiku
Semuanya kelam, semuanya suram

Dari luar topeng ini aku bersenang-senang bermandikan darah
Dari balik topeng ini aku merindukan surga, dan mereka di dalamnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s