Aku Membutuhkanmu

Kau boleh menganggapku lancang, atau kau juga boleh melarang
Mungkin juga aku tak perlu merasakan ini, karena bagaimanapun jua itu adalah masa lalumu yang suci
Aku tahu, tak pantas bagiku untuk menjadi seperti ini
Namun, tak pernah bisa ku tahan rasa ini, tak pernah bisa ku tak berterus terang

Aku tak memahami dan tak menyukai, bahkan membenci mereka yang telah mencaci maki dirimu
Lalu membuat lubang di hatimu, akan sesuatu yang sebenarnya bukan dirimu melainkan hanyalah emosi setan belaka berupa ucapan yang dilampiaskan kepadamu
Menggantungkan bekas luka yang kerap kali nampaki kembali, tak terkendali dan terakhiri
Tak ku sangka engkau menitikkan air mata karena hal itu
Benar-benar kuat terkepal telapak tanganku, mengetahui bahwa kau pernah diperlakukan seperti itu

Betapa pedih hati ini sebelumnya, ketika melihatmu terkulai lemah berusaha menopang diri untuk terus berjalan bersamaku
Ku berjanji takkan melakukan hal seperti itu lagi kepadamu, maafkan aku
Maafkan diri ini, yang tak kunjung berperikemanusiaan dalam berbicara
Maafkan diri ini, yang mementingkan ego untuk menyampaikan rasa, dibanding dengan yang kau rasa
Maafkan diri ini, yang lamban dalam mempelajari gerak gerik tubuhmu
Maafkan diri ini, yang amat menyayangimu, hingga selalu memikirkanmu dan merindukanmu di setiap hari-hariku

Dari balik kaca kecil aku melihat wajahmu, berdampingan dengan cahaya bulan sabit yang redup terlapisi oleh awan malam kota
Menatap nanar bangunan-bangunan pinggir jalan yang berbaris dan berhimpitan, penuh dengan kekosongan
Ingin sekali ku berhenti, lalu ku dekap tubuhmu dengan erat, dan ku ucapkan beribu kata maaf karena telah membuatmu menjadi seperti itu

Rintihanmu, mengalun bersama ringkihan yang betul-betul merobek-robek hatiku
Membuatku berjanji, agar tak akan membuatmu menjadi seperti itu lagi walau ku tahu, itu akan menjadi janji yang sulit ditepati
Namun, ku ‘kan tetap berusaha untuk menepatinya, menepati janji terhadap diriku sendiri

My dear, ku yakin kau pasti tahu bahwa sebuah caci maki diterima tidak untuk selalu dikenang lalu ditangisi
Caci maki, bagi mereka yang gemar bangkit dari keterpurukan adalah sebuah pecut yang mengharuskanmu melakukan sesuatu yang lebih baik, hingga membuktikan bahwa cacian dan makian yang kau terima adalah sebuah kesalahan besar
Ku yakin kau mampu

Kau adalah kau, yang selalu ku harapkan keberadaannya di sampingku demi kuatnya keberadaanku untukmu
Kau telah lakukan banyak hal untukku, kau telah lakukan banyak hal untuk dunia
Kau masih bisa melakukan hal-hal lain lebih banyak lagi

Setiap manusia tak pelak dan tiada ragu memiliki fungsi dan perannya masing-masing
Tiada manusia yang tak berguna, karena setiap manusia pasti dibutuhkan keberadaannya untuk orang lain
Begitu juga denganmu untukku, untuk keluargamu, untuk teman-temanmu
Lakukanlah yang terbaik, lakukanlah peranmu dan fungsimu dengan kekuatan terbaikmu
Dan tuntunlah aku menuju keyakinan besar untuk melakukan peran dan fungsiku dengan kekuatan terbaikku

Kecupanmu, pelukanmu, selalu membawaku melayang menuju indahnya asmara yang penuh kedamaian
Selalu ku rasakan itu
Te amo mi reina
Untukmu, ku kutipkan sebuah lagu mi reina

Engkau bagai air yang jernih
Di dalam bekas yang berdebu
Zahirnya kotoran itu terlihat
Kesucian terlinding jua

Cinta bukan hanya di mata
Cinta hadir di dalam jiwa
Biarlah salah di mata mereka
Biar perbedaan terlihat antara kita

Kuharapkan kau kan terima
Walau dipandang hina
Namun hakikat cinta kita
Kita yang rasa

Suatu hari nanti
Pastikan bercahaya
Pintu akan terbuka
Kita langkah bersama

Di situ kita lihat
Bersinarlah hakikat
Debu jadi permata
Hina jadi mulia

Bukan khayalan yang aku berikan
Tapi keyakinan yang nyata
Kerana cinta lautan berapi
Pasti akan ku kenang jua

Sekali lagi ku terakan keyakinanku untuk mengingatkanmu
Kau tidak pantas menerima cacian dan makian itu, kau tidaklah seperti itu
Bahkan kau jauh lebih baik dari pujian yang kau terima
Di bawah langit senja yang sering ku lihat terpampang sangat indah
Di hadapan matahari yang mengintip hangat dari ufuk timur nan jauh di sana
Yakinlah mi reina, untukmu, untukku, untuk kami, untuk kita semua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s