Dia, Keceriaan yang Menceriakan

Ini adalah satu cerita perjalanan indah yang orang lain juga pasti punya
Bagiku, ini bisa menjadi segalanya

Suara kekhawatiran yang terdengar di pagi nan indah
Menaungkan simponi merdu yang sebenarnya bergema,
namun tertutupi oleh wajah murung karena kepedulian akan keselamatan
Memang tiada embun yang ku lihat, tiada cercahan matahari subuh, tidak begitu lumrah dibanding dengan pagi-pagi lain yang pernah ku akhiri

Tetapi,
Semangat yang sudah ku asah sepanjang malam, senyuman-senyuman dalam igau ku yang ku tabung di dalam saku
Berhamburan mengisi dinding, langit-langit, dan halaman,
di pagi yang sangat cepat terlewat, di pagi yang sangat damai terurai
Melukis langit, menyentuh matahari, tersenyum hingga mata terhimpit, ku kirimkan salam selamat pagi untuk sang bidadari

Tak lama jarak ku tempuh
Tawanya, semakin memeriahkan suasana pagi itu, renyah dan begitu menyenangkan
Lembut tangannya yang merangkulku erat, menguatkanku dalam ikatan cinta
Gemericik jarinya yang sangat mengganggu perutku
Tiada akan lagi bisa ku dapatkan selain dari dirinya
Oleh sebab memang tak ada lagi yang mampu, terkasihanilah aku jika dia tak ada lagi untukku bahkan di pagi hari

Dengan asa yang terkumpul di setiap urat nadi, dengan tenaga yang terkumpul di dalam aliran darah
Dengan kasih sayang yang merekat di setiap helai serat daging
Dengan kebersamaan yang menyulam rapi saraf-saraf tubuh
Kami berangkat, menuju tempat yang menurutku jauh dari kegaduhriuhan kota
Menyeimbangkan kembali distorsi potensi depresi yang bisa melanda kapan saja mereka mau

Angin dingin yang menerpa mataku, mengeringkan mulutku, tetap tak bisa membisukan tawaku
Ku rasa ia lebih kuat dariku, memang jelas lebih kuat
Kuatnya menguatkanku, bahagianya membahagiakanku, sakitnya menyakitiku, damainya mendamaikanku, tenangnya menenangkanku, hidupnya menghidupiku
Lekuk demi lekuk jalan kami lewati, gundukan tanah, deretan bangunan mulai berubah-ubah, tak lagi padat, tak lagi riuh
Kesejukan yang sudah lama ku rindukan, menyapaku dengan hangat dan menyambutnya dengan cerah ceria

Mereka yang tak mampu melihat cinta, tidak akan berdaya melihat langit
Mereka yang tidak berdaya melihat langit, sama saja hidup di dalam gundukan tanah
Dan kami, bukanlah orang mati berbadan manusia namun berkepala hewan seperti itu
Kami hidup, kami bisa merasakan keindahan di setiap lekuk awan yang melimpah ruang di angkasa

Terkadang aku merasakan harapan yang menyala untuk menunjukkan jalanku kepada kebahagiaan bersamamu
Bersamaan dengan,
Ketakutan yang menghantuiku akan penderitaan dan keputusasaan jika aku dilahirkan bukan untuk kita
Dengan gelora pertarungan yang seperti busa menahan ganasnya api aku terus berusaha untuknya, berusaha untuk kami
Begitu juga dengannya, aku sangat yakin

Lembah hijau terpampang jelas di samping kami, menggelar karunia Tuhan yang menawannya bukan main
Semakin indah karena kehadirannya di dekatku, mendekapku begitu dekat, seperti burung dengan sayapnya, dan ikan dengan airnya
Semak belukar yang mengikuti riuhnya jalur yang meliuk-liuk, memompa semangat untuk terus menambah kecepatan pacu

Berada di tempat sepeti ini, bagiku layaknya berada di rumah yang ku idam-idamkan
Terletak di tempat yang tinggi hingga dengan bebas ku dapat melihat matahari yang menyembul dari balik awan, awannya pun terasa amat dekat dengan kelopak mata
Dipenuhi oleh pepohonan, yang sudah jelas menjadi arti dari namaku
Dan yang paling sempurna dari itu semua adalah, kehadirannya bersamaku

Tak lama ku bertemu dengan mesjid yang bertengger kokoh di tebing landai
Menghadap barat tanpa titik ketidaksempurnaan yang nampak
Menjadi tempat ibadah, wisata, dan persinggahan bagi siapa saja yang mengetahui ketampanan atau kecantikannya
Ku tolehkan kepalaku, ku pandangi ia seperti memandangi rentetan semut yang bersama-sama membawa sebuah permen memasuki markas koloni mereka
Aku terkagum
Mencoba melirik-lirik kembali ke arah matanya, melihat cahaya kegembiraan dari dalam matanya
Kalian pun akan merasakan hal yang sama denganku ketika melihatnya tersenyum, keceriaan yang menceriakan

Sedikit naik lagi, kami bertemu dengan puncaknya
Paduan kasih sayang yang tercipta di antara dua insan, saling beradu pandang dalam ikatan kehangatan, terlindungi dari dinginnya selimut kabut
Pemandangan yang takkan ku dapatkan di tempat kelahiranku
Suasana ramai, tapi tetap dapat ku rasakan ketenangan di tempat ini
Beratus-ratus meter dari permukaan laut, terhampar panorama luar biasa
Dipamerkan kepada manusia, sengaja untuk menunjukkan keperkasaan dan kepedulian-Nya terhadap rasa kekaguman manusia akan Tuhan dan semua ciptaan-Nya

Menempelnya suhu panas, lalu bertenggernya ia di kelopak mataku
Ku biarkan saja menggantung di situ, karena ia menjaga kesadaranku
Kesadaranku melindungi tenagaku
Tenagaku membawa kami menuju tempat tujuan kami
Oleh sebab itu, terkadang aku sangat menikmati panas
Ku arahkan telapak tanganku ke matahari, lalu ku serap panasnya, dan ku nikmati sensasi keringat yang mulai menembus pori-pori

Hamparan perbukitan hijau, landai dan tenteram
Dibelah oleh jalan yang meliuk-liuk dengan sangat lembut
Tak ada suara bising, tak ada jeritan sakit
Hanya ada ketenangan dan kenikmatan
Menikmati begitu dekatnya diri kami dengan langit, begitu dekatnya diri kami dengan kebersamaan
Seiring roda berputar dan kami terus bergerak, menuruni bukit dan semakin dekat menuju tujuan

Menempel kelelahan dan keceriaan di wajahnya
Menempel rasa syukurku di hati, sejenak ku lepaskan kelegaanku menyatu dengan angin
Ku biarkan langkahku menelusuri tapak-tapak pejalan kaki dan pendaki gunung
Ku hirup udara lembab, ku raih tangannya, ku genggam, dan tak ingin ku lepaskan walaupun terlepas pasti kan ku raih lagi lalu ku genggam lagi
Ya, kami telah tiba
Perjalanan terjauh yang pernah kami capai, awal yang bagus untuk perjalanan yang lebih jauh lagi, hingga tak ada lagi tempat yang bisa kami tuju

Tenaga yang sedang diisi, aroma tubuh yang sedang diperbaiki
Nafas yang mulai diatur kembali, dan tubuh yang mulai dilengkapi kesiapan mendaki
Walau sebentar, namun pasti akan terasa sangat melelahkan
Karena ketidakadanya pengalaman bagi kami di bidang seperti ini

Meniti langkah demi langkah, memperhatikan jalur yang nyaman untuk dipijak
Sebentar menoleh ke sekitar, yang ada hanya aku, cintaku, dan keagungan-Nya
Keringat mengucur deras dari punggungku, keningku, bahkan hampir di seluruh permukaan kulitku
Tak tahu berapa lama lagi kami harus mendaki, yang ku tahu adalah kami harus tiba di sana, tanpa ada yang terluka tanpa ada yang merasa lelah

Bebatuan keras, semak belukar, dan rimbunnya pepohonan besar penunggu gunung, menemani nafas berburu kami
Kicauan keras burung-burung hutan, monyet yang bergelantungan, dedaunan yang tak ku ketahui jenisnya
Tidak seperti makhluk yang lain, sekumpulan pepohonan adalah makhluk hidup yang tak asing bagiku namun tak bisa ku kenali

Gelora kasih dan sayang, mulai berjatuhan bersamaan dengan jatuhnya air hujan menuju kepala kami
Lagi, di bawah tumbuhan raksasa, di bawah hujan, kami menyatu
Dalam kehangatan dan kekompakan, ku perhatikan hatiku membaur dengannya
Tak ingin ku biarkan tubuh ini merasakan sakit, kami putuskan untuk menyatu di tempat yang lebih nyaman
Menunggu bersama para penanjak lainnya yang membawa keceriaan, meski lelah kian menerpa

Hela nafasku memenuhi pagelaran cinta yang dipersembahkan hutan kepadaku
Wajah hangatnya menjagaku agar selalu jauh dari dinginnya waktu
Ketika itu, aku berharap hujan berhenti, karena ku ingin melanjutkan perjalanan dengannya
Dan tak lama kemudian, awan mendengar harapanku, kelabu langit memudar, dan matahari kembali muncul memikat asa

Kami lewati danau hijau, diam seperti patung sesembahan di situ
Tak ada yang mengusik
Keheningannya menjadi sensasi tersendiri yang hanya bisa dirasakan di tempat itu
Sebuah pesona yang tak bisa ku dapatkan dari kampung halamanku

Kerasnya detak jantung kami, beradu kuat dengan beratnya langkah kami
Bebatuan yang kami pijak, serasa tak lagi bersahabat
Hingga akhirnya kami tiba di suatu tempat
Tempat yang ku gambarkan sebagai ruang kosong dari hutan ini
Dan semakin memperjelas keyakinanku bahwa dari semua hal di dunia ini, pasti ada ruang ksosong yang terang benderang di dalamnya

Jembatan panjang yang membelah dataran bekas rawa
Di bawahnya mungkin ada binatang hutan yang memperhatikan kekagumanku
Tak bisa ku bedakan, antara kesombongan kaki gunung atau sifat pemalunya, karena kabut yang selalu melindunginya
Setelah berada di bawah naungan jutaan daun, kini ku merasa seperti sangat dekat dengan langit
Dengan mulut terbungkam, dan mata terpejam, sejenak ku nikmati hidangan batin yang disediakan Tuhan untuk, untuk kami

Menakjubkan, ku yakin tenaganya hanya tinggal seperempat
Tetapi kebesaran Tuhan yang muncul dalam wujud manusia masih dapat ku lihat
Sebuah keceriaan yang menceriakan, tak peduli keadaan
Kekagumanku akan hal ini, selalu hadir menemani senyuman dan tak pernah merasa bosan

Kembali kami lanjutkan perjalanan

Dan suara gemuruh air mulai terdengar membungkus rapi daun telinga kami
Tenagaku pun telah terisi kembali
Semangat menempel di kedua telapak kaki ini
Ikut menelusuri jalan yang di sampingnya diikuti dengan aliran air deras yang menyejukkan nurani

Tak lama menunggu dan berharap, dua air terjun megah terhampar di hadapanku
Yang membuatnya istimewa adalah aku bisa menyaksikan keindahan dari ciptaan Tuhan bersama dengan keindahan ciptaan Tuhan yang lain yaitu, dirinya
Tanpa ada kata yang bisa kuucap untuk mewakilkan penuhnya rasa dalam jiwa

Gemuruh keras beribu ton air yang jatuh menuju pecahan batu
Dingin, bersih, sejuk, dan tenteram
Mengalun riuh, satu nada dengan hiruk pikuk orang-orang yang juga sama dengan kami
Berbondong-bondong menikmati keindahan salah satu hasil kreasi alam yang ada di bumi pertiwi
Memang di lokasi itu, masih banyak lagi yang bisa dikunjungi,
Namun untukku, sesuatu yang diperoleh dengan jerih payah selalu lebih baik

Buih-buih air beterbangan ke seluruh pelosok udara yang terhampar luas, membentang perbukitan dan lembah hijau yang misterius
Kelembabannya menerpa wajah merah cintaku, membuat wajahnya menjadi semakin merona, bersinar, dan menawan
Tidak cantik, hanya bersinar dan menawan

Siapa yang bilang keabadian itu tidak ada, bagiku keabadian adalah sebuah perspeksi yang tidak mutlak
Abadi bagi satu orang dengan orang lainnya mungkin berbeda, karena terletak pada perbedaan perkiraan mengenai hari akhir yang kelak kan tiba
Entah hari akhir itu adalah hari kematian atau hari kiamat
Namun untukku, suatu keabadian selalu bisa diperoleh
Seperti dengan memotret atau merekam
Potret-potret keabadian cinta ku ambil, untuk terus mengingatkanku akan indahnya kasih sayang sesama manusia dan dengan pencipta-Nya

Rerumputan menyeruak dari dalam bebatuan hitam, di sana ku lihat jalur lain menuju puncak
Puncak yang selalu ia idam-idamkan
Puncak yang selalu menjadi penggerak pedal semangatku untuk selalu bisa untuk bersama

Awan kelabu, tak membuatku merasa sendu
Bahwa akan ada dingin yang menempel pada setiap partikel-partikel udara yang kan ku hirup
Udara dingin, tak membuatku merasa yakin
Bahwa akan selalu ada hujan setelah kedatangan sang awan kelabu

Lagu-lagu cinta terngiang di kepala, mulutku tak mampu terkatup
Hatiku tak bisa berhenti bersuara, mengalihkan pandanganku darinya pun ku tak sanggup
Dari perpindahan satuan detik ku nikmati keceriaan tawanya
Dari tawa ku nikmati hari-hariku bersamanya
Dari hari-hariku bersamanya ku nikmati waktu dan tenaga yang telah Tuhan anugerahkan padaku
Dari anugerah Tuhan tersebut ku lakukan hal-hal yang bisa membuatnya tawa ceria

Dia, Keceriaan yang Menceriakan

Rasa lelah tak bisa ku pungkiri, layaknya kabut yang menghapus senja kami
Sejenak beristirahat dan membetulkan “kekasih”ku sang kuda pacu, kami pun berangkat untuk pulang
Ingin saja ku tidur di pangkuannya, ingin saja ku terlelap di pelukannya, ingin saja ku bangun dalam dekapannya, ingin saja selalu ku melihat senyuman di wajahnya

Udara yang sangat dikin kali ini mampu menggetarkan rahangku
Ku yakin begitu juga dengannya
Telapak tanganku juga menjadi kaku, seperti ditusuk jarum
Terus berkonsentrasi sambil menikmati sisa-sisa perjalanan panjangku dengannya
Tak terasa, ku lihat sebuah matahari terbenam yang tak pernah ku lihat sebelumnya
Matahari terbenam yang cerah menyinari bukit, hangatnya juga menyelamatkanku dari dinginnya kabut
Dekapannya yang ikut membuat mataku tak berhenti menitikkan air mata
Sungguh, ku rasakan sekali keagungan-Nya

Menuju matahari terbenam, kami pun melanjutkan perjalanan kami untuk kembali ke rumah, kembali ke kehidupan biasa kami yang pasti akan menjadi berbeda setelah perjalanan ini
Sejenak kami berhenti di tempat penjualan susu, dari situ matahari terbenam sungguh mampu membuat manusia biasa sepertiku ini tercengang
Aku sangat menyukai matahari terbenam, dia pun tahu itu
Biru, ungu, jingga, biru, putih, hanya warna yang mampu menggambarkan keindahannya
Langit senja, kau memang selalu indah, selalu indah, tak akan bisa ku meragukannya

Sepanjang langit yang mulai menghitam
Selama pandanganku yang mulai memudar
Ku tancapkan sebilah tombak baja yang kujadikan satu dari beribu pondasi kasih sayang dalam hatiku
Di bagian tengahnya bertuliskan

Terimakasih Tuhan ku Yang Maha Esa
Kau telah memberikanku keagungan-Mu
Dia, adalah sebuah keceriaan yang selalu mampu menceriakanku
Aku menyayanginya dengan seluruh jaringan sel yang ku punya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s