Lisanku, Serigalaku

Terkadang, lisan ini bak sungai yang mengalir menuju muara
Sepertinya damai, senyap, tiada gemuruh air yang bertabrakan dengan bebatuan
Kecuali mereka tahu bahwa ada banyak satwa liar seperti buauya di dalamnya
Yang siap menerkam siapa saja yang masuk ke wilayahnya tanpa menggunakan cara yang benar

Terkadang, lisan ini bagaikan petir di teriknya siang hari
Panas menyengat, membakar rambut-rambut tipis yang tumbuh di kulit
Sumber keluhan dari banyak makhluk keturunan Adam
Mengagetkan dan mampu menyakiti hati yang mendengar serta melihat

Terkadang, lisan ini seperti hujan di musim penghujan
Hujan yang disebut-sebut sebagai sumber rezeki, namun terus menerus turun tanpa henti
Kemudian menyebabkan banjir luas menutupi semangat para pejuang duniawi
Terus bermunculan tak berhenti, hingga sudah banyak pohon akasia tertelan

Terkadang, lisan ini layaknya suara memrdu para penyanyi solois
Suara dari getaran pita suara yang mampu mengubah hidup suatu kaum
Suara yang tak tenilai harganya, yang selalu ingin didengar, yang bila didengar takkan pernah dilepaskan
Selalu dilatih dan tidak pernah dikeluarkan untuk hal-hal yang tak berguna

Terkadang, lisan ini mirip dengan keringat pria-pria bertubuh gemuk
Mereka tak banyak bergerak, namun keringat mereka banyak keluar
Bau, lengket, dan tak sedap dipandang maupun didekati
Namun apa daya, dibalik kelebihan, selalu ada kekurangan

Terkadang, lisan ini persis dengan serigala buta yang menyerang temannya sendiri
Bahkan ketika ada mangsa di depannya, mungkin karena iri dan dengki sebab dirinya buta sedangkan yang lain tidak
Tak memedulikan raungan sakit kawannya, ia terus mencabik daging kawannya di depan hewan yang seharusnya menjadi mangsanya

Sesaat setelah ia mengunyah bagian gigi kawannya, barulah ia tersadar, siapa sebenarnya yang telah ia makan

Dikuasai oleh hal-hal yang tak ku ketahui, berbicara layaknya dewa yang tahu segalanya
Hanya mengikuti apa yang hati rasa, bukan yang orang lain rasa
Tak pantas ku dekati mata air kebijaksanaan jika aku terus seperti ini
Namun layak ku dapati air mata penyesalan atas segala lisan buruk yang telah atau sering ku perbuat

Hati dapat merekam segala sesuatunya dengan baik
Mulai dari indera netra, wicara, atau rungu
Walaupun tak terlihat seperti merekam, namun di dalam situ, hati bekerja menyerap seluruh hal yang terjadi pada tubuh
Dan ku tak ingat, bahwa hal itu bekerja untuk semua manusia, termasuk untuknya

Terkadang, ku ingin diam, namun ku tak bisa
Terkadang, ku ingin berbicara, namun ku takut
Hingga kini ku terus belajar untuk diam secukupnya dan bicara sepatutnya
Walu ku tahu tembok besar menghalangiku, tembok besar yang terbangun tepat di salam jiwa ini
Dibangun oleh sesosok makhluk yang juga berasal dari dalam diriku
Yang ingin ku kalahkan namun tak pernah bisa
Yang ingin ku tumpas keberadaannya di dunia, namun itu pun akan memusnahkan keberadaanku

Ingin ku menjadi seperti mereka, para pebicara yang lisannya mampu mengubah dunia
Tidak seperti lisan ini, mengubah diriku sendiri saja belum becus
Apakah perubahanku mampu muncul seperti kota

Ombak terus bergerak dan menggulung, perahu pun terus mengapung dan berlayar
Ombak bergantung pada arus laut, angin, suhu air laut, gravitasi bulan, dan pergerakan lempeng bumi
Perahu bergantung pada bagian lambungnya, layarnya, angin, laut, dan awak kapal
Sedangkan aku, bergantung pada insting fiktif dan firasat belaka

Kawanan awan telah melintas, menyebrangi langitku, menyebrangi pikiranku
Ku gantungkan janji-janjiku di atas sana, ku kaitkan mereka dengan jangkar yang ku peroleh sepulang berlayar dari negeri kepedihan
Agar awan selalu bisa melindungi janji-janjiku, seperti ketika mereka melindungi bumi dari sinar matahari

Janji-janji yang ku buat berdasarkan tersadarnya aku dari kebodohan, tak boleh menjadi suatu kebodohan pula
Aku adalah pemuja keindahan, lalu mengapa tak ku indahkan semua yang sebenarnya bisa kulakukan
Satu malam tak pernah cukup untuk memikirkan dan mengingat kembali bukti-bukti dari kesalahanku di putaran matahari sebelumnya
Lagi-lagi ku putuskan untuk lebih baik istirahat malam ini, sambil berharap, pagi nanti aku bisa memperbaikinya kembali, dan senyumnya masih hadir menemani waktu yang ku miliki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s