Maafkan Hitamku

Aku lihat ia berjalan cepat, menjauhiku
Begitu ku rasakan betapa takutnya ia pada diriku
Atau betapa menakutkannya diriku
Ku sesali sikap kasar yang telah ku perbuat kepadanya

Aku lihat ia berjalan semakin cepat, terus turun meninggalkanku
Tak mengerti mengapa, langkahku semakin terasa berat dan melambat
Bukannya mengejarnya, aku justru merasa bahwa lebih baik jika aku tak lagi mengikutinya
Ku sesali bisikan cinta yang tak sempat ku sampaikan kepadanya beberapa saat sebelumnya

Aku lihat ia mendekap erat tubuhnya
Melindungi hatinya yang telah hancur oleh harapan yang telah ku sia-siakan
Aku coba berdoa dan terus berdoa kepada Tuhan
Aku telusuri lorong-lorong jalan gelap di Jakarta, sekedar untuk menguras mata

Aku lihat ia sebenarnya masih ingin terus duduk di tempat makan itu
Namun, ada sesuatu yang harus ku lakukan, untuk memenuhi janjiku pada ibuku
Menjadi sebuah kesalahan yang ku pahat ketika tak ku sampaikan kembali kepadanya
Ku sesali, caraku yang salah untuk mengajaknya menemui Sang Pencipta sebentar

Besar sekali rasa cintaku kepadanya
Sering kali aku menyakitinya
Ingin sekali aku untuk terus tetap bersamanya
Kadang kali aku merasa tak pantas untuknya

Aku benci melihatnya pergi dari sampingku
Aku benci, mengapa aku seperti ini, mengapa tak ku sampaikan saja ucapan halus, bukannya cengkeraman keras yang memaksa
Dedaunan yang berjatuhan di bawah hadapan kaki-kaki pencakar langit Jakarta
Tak memberikan jawaban yang tepat untukku, agar bisa memperbaiki kesalahanku ini

Ketika aku berniat untuk berjanji, aku sangat takut bahwa janjiku akan dikecap sebagai makanan ringan yang kadaluarsa
Padahal aku sangat membutuhkannya, aku selalu membutuhkan keberadaannya
Aku akan sangat mati, jika ia tak lagi mampu menerima permintaan maafku dan permintaanku untuk tetap berjalan bersama
Karena di sepanjang perjalanan, aku pasti akan memintaa maaf kepadanya, ada saja kesalahan yang ku perbuat

Aku ingat ketika ia memberikan kepadaku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki diri
Dan aku hancurkan kesempatan yang telah ia berikan kepadaku itu
Ia sangat berarti bagiku, kata-kata ini, bukanlah omong kosong
Namun sungguh, aku sepertinya tak ingin melihat ia seperti malam itu lagi

Seperti seorang gadis belia yang sedang dirayu oleh pebantai massal
Seperti anak-anak domba yang sedang diajak bermain oleh serigala besar
Seperti seorang wanita yang mengalami trauma akan sesuatu yang sangat meledakkan hatinya berkeping-keping
Seperti bertemu hantu, hantu yang tak pernah ada orang lain yang ingin melihatnya

Aku ingat ketika matanya hingga tak mampu lagi mengeluarkan air mata
Aku ingat, aku ingat erat tangannya yang menjaga benar-benar tubuhnya agar tak tersentuh olehku
Kala itu, aku adalah pecundang terbaik sepanjang masa
Yang selalu mengharapkan perjalanan cinta bersama malaikat penjaga gua

Ketika seluruh tatapan wanita yang ku lihat malam itu, seperti menyeretku pada suatu tempat yang mampu menjelaskan betapa indahnya hati wanita jika dikasihi juga betapa rapuhnya hati wanita jika disakiti
Ingin sekali ku menyerah pada sistem dunia ini, biar saja mengalir, tak usah berpikir akan dibawa kemana oleh arus dunia
Asalkan aku tidak mati dalam keadaan memalukan

Oh langit, kawan setiaku, sedikit demi sedikit, sepertinya aku bergerak maju ke arah lumpur hidup yang menghisap semua orang yang hanya bisa melakukan hal-hal yang memalukan
Apakah kau mau melemparkan tali untukku ketika aku terjebak di dalamnya?
Apakah jika aku tak mampu keluar dari lumpur itu, aku akan terjebak selamanya?
Atau ada jalan lain di dasar lumpur itu? Walaupun tidak akan ada dasar yang ku sentuh nanti, karena paru-paruku sudah penuh akan lumpur dan kekalahan

Aku ingat senyumannya yang beradu dengan cahaya sore itu atau sinar pagi pada waktu sebelumnya
Ku sesali tatapan tajam yang ku arahkan langsung menuju matanya malam itu
Dengan hilangnya penglihatanku, dengan hilangnya kesadaranku, aku masih merasa pantas jika ia tak memiliki alasan untuk percaya lagi pada kata-kataku
Kata-kata aku akan memperbaiki kesalahanku yang telah ku ciptakan hingga menghancurkan waktu-waktuku bersamanya, bahwa aku membutuhkannya, bahwa aku sayang padanya

Maafkan aku, maafkan hitamku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s