Semangkuk Asa dari Cahaya Senja

Hujan deras mengguyur ibukota dari bagian tengah hingga bagian tenggara
Namun rumahku tak tersentuh hujan, aku bisa merasakannya
Sebaiknya aku tetap di rumah, menikmati kehangatan dari siang yang tenteram dan damai jua
Namun ku lebih memilih untuk menerobos hujan, terus melaju ke arah gunung-gunung menjulang begitu tingginya

Basah kuyup menembus masuk ke perutku, namun tidak ke dalam semangatku
Tanganku tak ku hentikan untuk menarik kendali gas, kakiku tak ku izinkan untuk menginjak pedal rem
Terus saja ku melaju cepat, sedetik ku berharap mampu melihat pelangi di ufuk langit yang sepertinya sedang sendu
Bukan pelangi yang datang, hanya awan hitam yang menemaniku bagai kertas dan lem

Dingin sudah menguasai beberapa bagian tubuhku
Ku lihat banyak juga pejalan yang merasakan hal yang sama denganku, mereka berjalan cepat terus menembus butiran-butiran hujan yang berjatuhan
Aku akan sangat dipermalukan jika berhenti untuk beristirahat dan menikmati kopi sejenak di pinggiran jalan sambil memperbaiki otot tangan yang mulai kaku
Aku teruskan perjalanan, tak memedulikan apa-apa kecuali waktu tiba yang harus ku tepati dan rasa rindu yang mulai menerpa bagai ribuan tetes air hujan

Seperti melewati beberapa fase, siang dengan hujannya dan sore dengan panasnya
Lalu memasuki lagi kota hujan dengan udara lembabnya dan daerah pengrajin dengan rintik-rintik airnya yang kembali menerpa
Di tengah perjalanan, aku banyak sekali berpikir dan mengingat hal-hal yang ku lihat
Memang selalu seperti ini, tak bisa ku berlari dari ingatan-ingatan yang memaksa untuk dikenang dan dipikirkan

Mulai dari seorang lelaki tua yang pincang, tengah malam menggendong anaknya, berjalan menelusuri gemerlap pinggiran kota
Tak bisa ku bayangkan bagaimana beratnya menjadi seorang dia, aku pernah melihatnya beberapa kali
Aku tahu dia berjalan sangat jauh, dengan ketidaksempurnaan tubuh dia membawa beban berat tubuhnya dan anaknya
Bagaimana jika anaknya menjadi besar? Apakah akan masih digendong? Ataukah dibawa oleh semacam alat besar yang bisa ditarik? Mengapa anak itu tidak mampu berjalan? Apakah ia mengalami ketidaksempurnaan yang lebih parah dari ayahnya?
Membayangkannya saja bagiku sudah cukup untuk menitikkan air mata
Semoga bermunculan manusia-manusia muda hebat yang siap dan mampu membenahi negeri ini
Dan semoga aku termasuk di dalamnya

Langit semakin menjingga, aku tahu senja akan tiba dalam beberapa menit lagi
Aku sudah tiba, seperti yang telah ku janjikan
Menunggunya keluar, aku nikmati sore hari di cisarua
Panganan lezat dan langit dengan hiasan matahari terbenam, sudah cukup untuk menghilangkan lelah dan dingin dari basah tubuhku
Tak lama langit mulai menghitam, ku lihat ia sudah menungguku di depan

Aku lanjutkan perjalanan, namun kali ini, perjalanan pulang bersama dengan seseorang yang sangat aku sayangi dan ku cinta
Rasa ini pernah ku alami, rasa ketika aku merasa di rumah dan tak pernah merasa jauh dari keluarga saat bersamanya
Untukku sudah cukup merasakan cinta hanya dengan mendengarkan ia bercerita
Untukku sudah cukup merasakan kebersamaan hanya dengan berdua dalam perjalanan

Waktu takkan terasa lama, jarak takkan terasa jauh, bila sudah berada di dekatnya
Begitu ketika aku melihat wajahnya dari cermin musafir, bagai hiburan yang tiada pernah gagal membuatku tersenyum
Setelah kami tiba di kediamannya, dan aku pamit menuju kediamanku
Diam-diam aku jejakkan rasa rinduku yang masih belum hilang, aku bayangkan jari-jemariku mampu melukis langit, kemudian aku terakan pesanku untuk sang bulan si penjaga malam, “Jaga ia dalam tenang ketika ia beristirahat, wahai malam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s