Terbanglah, Walau Tanpa Sayap Di Punggungmu

Air mata kebahagiaan telah membasahi seluruh pipiku
Menghapuskan keringat yang mengucur cepat dari dahi
Tak terasa begitu cepatnya rasa takutku berubah menjadi kebahagiaan yang tak terganggungkan nikmatnya
Tak terasa begitu hebat sensasi dari kepuasan dan kelegaan yang muncul karena sebuah senyuman dan beribu berkah dari Tuhan

Berawal dari pagi yang sedikit menyebalkan
Berakhir dengan malam yang menyenangkan
Senyumannya, kepeduliannya untukku, tak akan tersaingi
Doa mereka, dukungan mereka, sungguh menguatkanku

Hanya ucap syukur dan rasa terimakasih yang mampu ku sampaikan kepada Tuhan dan mereka

Bu, terimakasih atas doa dan segalanya yang telah diberikan kepadaku sampai kini
Pak, terimakasih atas doa dan segalanya yang telah diberikan kepadaku sampai kini
Mbah, terimakasih atas doa dan segalanya yang telah diberikan kepadaku sampai kini
Ri, terimakasih atas doa dan segalanya yang telah diberikan kepadaku sampai kini
Teh, terimakasih atas doa dan segalanya yang telah diberikan kepadaku sampai kini

“Selangkah lagi menuju kunci impian”
Begitulah ada apa yang dikatakannya, dan memang benar
Aku sudah mampu melihat benang putih yang mulai menutup benang hitam yang selama ini berkuasa di ufuk langit timur
Layaknya patung dirgantara yang ada di Pancoran, aku siap menjelajah langit

Senjata yang selama ini aku rakit dan pedang yang selama ini aku tempa sebentar lagi akan selesai
Peluru dan perisai yang ku miliki sudah mantap untuk digunakan
Dentuman dari asa yang membenamkan segala ketidakyakinan akan keberhasilan
Terasa sangat keras, dan sepertinya telah bekerja dengan baik walau hanya ku bayar dengan nafas dunia

Kemarin akan menjadi pengalaman dan pelajaran
Hari ini adalah saatnya membuktikan
Dan esok, adalah saat untuk menentukan arah dan menyiapkan tenaga serta semangat
Api hitam yang tak akan berhenti membakar seluruh benda yang mengenainya, semoga semangatku menjadi seperti itu

Menunggu satu demi satu kawan-kawan yang sedang dalam gilirannya untuk dihakimi
Aku berusaha untuk setenang mungkin, merancang tawa serenyah mungkin
Tak menyadari bahwa seluruh telapak tanganku sedang bergetar dan keringatku sudah membanjiri tubuh
Yang ku lakukan hanyalah bagaiana cara untuk tetap fokus, memperhatikan kelopak mawar tanpa memedulikan durinya
Memetik mangga dengan menghiraukan dedaunnya

Sekuntum mawar dan setangkai duri
Tiada yang bisa membedakan mereka kecuali perspeksi

Perspeksi pertama,
Mawar adalah makhluk rapuh yang harus dilindungi
Pasukan duri selalu siap dan menempel pada tangkai yang mengkokohkan mawar sang mahkota kerajaan
Demi melindungi sang mawar dari serangan makhluk rakus dan tak mencintai keindahan, mereka berdiam di situ

Perspeksi kedua,
Duri hanyalah menjadi pengganggu bagi keindahan mawar, seperti parasit yang berkembang biak pada tubuh seorang ratu
Tak seharusnya ada duri pada bagian tubuh sekuntum mawar, tak seharusnya kecantikan mawar dinodai oleh hal-hal yang sarat akan kekerasan
Hingga mereka selalu mencoba menumbuhkembangkan mawar tanpa duri, walaupun harus memaksa

Ya, begitulah perspeksi
Tak salah jika mereka sering menyebutkan bahwa perspeksi adalah segalanya

Tiada ubahnya dengan keberhasilan, yang tak lepas dari perspeksi
Berhasil atau gagalnya kita, yang menentukan adalah perspeksi
Dan kini, perspeksi menuntunku untuk melihat dari banyak sisi
Yang kulihat kali ini adalah keberhasilanku, iya jika kubandingkan dengan diriku sendiri namun tidak jika kubandingkan dengan orang lain

Mengurungkan kepedulianku, yang harus ku lakukan sekarang adalah bersiap untuk beban yang jauh lebih berat dibanding sebelumnya
Tanggung jawab yang lebih besar dibanding seluruh peluh yang telah ku nikmati
Langit yang lebih luas dan gravitasi yang semakin kuat
Keinginan untuk terbang akan semakin besar, namun yang menahan pun juga akan semakin buas
Dan kebahagiaan yang akan semakin tersembunyi di balik bayangan merah yang uzur

Ku pasang kuda-kuda bertarung, kemudian menyusun strategi untuk melawangan bayangan merah tersebut
Seperti seorang samurai yang akan pergi berkelana untuk menyelesaikan tugasnya melindungi seorang pewaris tahta
Dengan dua pedang yang melindungi kedua sisi pinggang, dan kimono seorang prajurit
Terus sepanjang perjalanan, bertarung dan menang, menambah kekuatan untuk melebarkan batas
Demi melindungi harapan seluruh penduduk kota, walau padahal ia bertarung untuk keluarganya
Hingga tugas tuntas, dan tugas lain datang menghampiri dengan senyuman sinisnya

Aku inign menjadi cahaya yang menerangi kehidupan, aku ingin menjadi raksasa yang membangun sebuah kota besar, aku ingin menjadi ksatria terkuat hingga bisa melatih ksatria lain hingga menjadi lebih kuat
Yang pertama harus ku lakukan adalah meraih apa yang telah menjadi doaku selama ini
Bersama dengan orang yang sangat ku sayangi dan keluarga yang ku cintai

Akhirnya aku melihat cahaya, akan ku kejar
Angin kan membantuku melompat, walau tanpa sayap di punggungku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s