Tak Tersentuh

Apa yang terjadi jika kau tak mampu lagi mencari cara untuk menahan emosi?
Apakah kau akan menghancurkan semua benda yang ada di sekitarmu?
Apakah engkau hanya berdiam saja hingga waktu yang belum kau tentukan?
Ataukah kau akan menangis, dan memaki dirimu sendiri hingga hembusan nafas pun tak mampu kau dengar?

Mengapa aku selalu seperti ini?
Aku selalu menangis ketika aku sedang dibanjiri emosi
Aku tak tahu harus berbuat apa, aku hanya diam dan menikmati bisikan ini sendirian
Di sudut-sudut kamar, di balik jendela, dengan cahaya lampu temaram

Menatapi langit, sendirian dan berharap bahwa ada seseorang yang mengerti tangisanku
Alasanku menangis, dan selalu berada di sampingku ketika aku merasa sedih
Tak jarang aku membayangkan diriku sedang mengalami kecelakaan, ataupun musibah yang lain
Entah mengapa, aku seperti ingin mendapat perhatian lebih darinya

Aku sadar betul bahwa aku mengatakan sesuatu di malam itu
Namun tak ku dengar ada kalimat yang terlontar, yang ku rasakan hanya mulut yang terutup dan terbuka di luar kendali
Dan ketika ku coba pastikan bahwa aku tak mampu berbicara, seluruh kelebatan cahaya menggangguku dan mencoba menahan pergerakanku
Hingga aku mengetahui bahwa memang aku terpedaya, oleh kata-katanya yang memesonakan siapa saja yang membacanya

Sesaat setelahnya, ketika ku sandarkan kelelahan tubuhku di pundak kemurungan
Ku rebahkan tubuhku di dalam fantasi kedewasaan
Dan ku baringkan batinku di depan pintu gerbang menuju altar pemakaman semangat yang terbuang percuma
Namun bagiku, lebih tepat jika disebut aku menangisinya yang ku sayang

Aku sangat menyayanginya, lebih dari yang ia kira
Aku selalu yakin dan percaya, ia akan selalu menjadi sosok yang lebih baik dibandingkan yang sebelumnya
Semua yang ada di dunia ini, sungguh ada karena dan untuk alasan serta tujuan tertentu
Walaupun terkadang aku kerap kali merasa tak berdaya, ketika alasan dan tujuanku melakukan sesuatu adalah untuknya namun semuanya menjadi sia-sia ketika ia tak suka apa yang aku lakukan untuknya

Aku tertidur pulas, tak terasa hingga aku masih dalam posisi duduk
Semua berlalu tanpa ku sadari, dan tanpa tersentuh kenyataan, matahari pagi telah membangunkanku
Seperti biasa, pening hinggap di kepalaku
Agak berbeda pagi ini, karena suaranya tak ikut hinggap membelai telingaku

Tidur adalah obat yang paling mujarab bagiku untuk menenangkanku dan mengobati luka-luka batin
Luka batin yang disebabkan oleh dirku sendiri
Aku tak pernah mampu membuatnya terkesan, aku pun juga sering membuatnya marah
Tak tahu apa yang bisa ku banggakan dari diriku ini

Aku layaknya enigma, yang menjadi ujian bagi mereka yang berada dekat denganku
Seperti Legion, yang entah bagaimana caranya datang ke bumi dan menyebarkan kemarahan
Seperti parasit dalam jaringan daging, yang tak henti-hentinya memakan apa yang ada di sekitarnya hingga menjadi penyakit
Aku seperti bulan pada gerhana matahari, yang membuat gelap seluruh dataran ketika matahari sedang asyik berbicara denngan sang langit biru

Namun ku terus berusaha untuk selalu mampu dan menjadi pantas untuknya
Seperti kata pepatah, just do it
Aku adalah pemikir berat, yang selalu memikirkan apa yang telah, sedang, dan akan ku lakukan
Sampai-sampai tak lagi teringat bagiku untuk langsung saja melakukan sesuatu

Perlahan namun debu menutupi langit-langit, menunggu untuk dibasmi
Aku rindu kepadanya, sedang apa ia di sana?
Maafkan aku yang selalu membuatmu berada dalam posisi ini
Aku tak pernah bermaksud untuk menyakitimu, aku hanya sedang belajar untuk membuatmu bahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s