Cerita dan Cinta

Kepala yang tertunduk, bukan pertanda tenaga yang telah lesu
Kepala yang tertunduk, bagiku di sore itu adalah kekesalan yang bercampur dengan kerinduan di masa mendatang
Terbersit pembicaraan mengenai rencana-rencananya yang ingin pergi menapaki jalan menuju pancang-pancang bumi
Seketika jiwaku tertatih, oleh ketidakmampuanku untuk ikut dengannya menaklukkan dunia

Berimajinasi tentang betapa aku akan merindukannya, betapa aku akan merasa sangat kesepian dalam tawa, dan merasa kosong dalam hening
Baru membayangkan kedua hal itu saja, sudah membuat hatiku bergidik, apa yang terjadi dengan hati ini?

Hujan takkan mampu menyejukkan
Matahari takkan sanggup menghangatkan
Jiwa yang terlanjur basah oleh sepi
Jiwa yang terlanjur mati karena api

Jika memang awan mampu menyediakan air untuk memandikan seluruh daratan
kemduain membersihkannya dari kotornya kejahatan
Mengapa mereka tak mampu mengobati laraku?
Mengapa langit tak kasihan kepadaku?

Tersiksa oleh perasaanku sendiri, tersakiti oleh bayangan hampa yang kenyataan saja belum terjadi
Sesak nafasku jika ketakutanku akan sendiri menggerayangi seluruh tubuh
Ingin sekali ku perbaiki tubuh ini, memodifikasi dan memanipulasinya hingga bisa melakukan apapun yang kepalaku mau
Dan ingin sekali ku menemukan jawaban mengapa aku tak bisa melakukannya?

Orang bilang Jakarta itu memuakkan, menyebalkan, kejam dan keras
Namun jika mereka mampu melihat keindahan Jakarta ketika hujan berhenti dan matahari kembali bersinar
Ketika jalan masih basah, angin sejuk menerpa, matahari hangat bercahaya, senja pun mengetuk pintu langit sore
Jika mereka mampu melihat keindahan ini, mereka salah

Teralih sejenak pikiranku kepada keadaan Jakarta yang indah, ketika senja dan subuh hari Jakarta seperti sebuah kota indah yang jarang dikunjungi
Angin mengalir melewati bagian belakang leherku,
sedangkan ku masih memperhatikan keadaan sekitar dan bertanya-tanya mengapa mereka tak bisa sedikit saja menyadari bahwa dunia mereka juga indah?
Walaupun aku tahu bahwa hatiku ini baru saja tercubit kecil,
namun aku ingat bahwa yang ku pikirkan adalah paranoid keterlaluan yang akan menjadi sumber dari asap penyesalan yang memedihkan mata
Untungnya aku punya langit,
ia lah yang mengingatkanku pada keyakinan dan kepercayaan kepada orang yang kita sayangi merupakan pondasi kuat yang kan mempertahankan candi cinta berdiri melewati zaman

Aku tahu, sinar matahari mungkin takkan sama lagi
Bumi yang ku pijak juga mungkin takkan bersahabat lagi
Angin, air, awan, malam, badai, takkan membuatku takjub lagi
Namun selalu ku tahu bahwa cinta yang penuh keajaiban akan selalu menyesuaikan dan memperbaiki dirinya sendiri, lagi dan lagi

Satu lagi hari indah di bulan Ramadhan, hari yang spesial karena kenangan-kenangan manisku bersamanya terus saja menghiasi sudut-sudut pandangan
Kerenggangan mulai merekat dan saling mengikat
Pelajaran muncul lagi untuk menambah ilmu dan pengalaman

Senyuman nikmat ketika matahari terpejam,
tangisan hamba-hamba penuh harap ketika matahari terlelap,
semangat dari mata sayu ketika matahari kembali terbangun,
tenaga yang penuh harap ketika matahari terjaga

Kita nikmati lagi hari-hari penuh kebersamaan, kita rangkai lagi tawa yang sebelumnya sempat istirahat ketika sehatmu tertidur pulas
Ku nikmati lagi senyum polosmu, ku genggam lagi lembut tanganmu yang terus menguatkan
Kita terobos lagi hujan deras yang seharian penuh mengguyur ibukota, ku percayakan keyakinanku atas kesehatan dan kekuatan tubuhmu yang kembali pulih
Tak peduli basah atau dingin ataupun sakit, aku mampu tertawa lagi di bawah hujan
Dengan bersamamu di dekatku, dengan pepohonan yang basah kuyup tersenyum sendu sambil mempehatikan kita
Yang mereka rasakan adalah hujan yang kejam, yang ku rasakan adalah mentari yang sedang memilih untuk tidur supaya besok, ia bisa menemani kita dengan penuh semangat sekuat tenaga

Dari tadi sore, hingga malam ini hujan terus menerus menari
Tak permisi kepada bulan dan bintang, tak jera oleh kutukan para pekerja dunia
Hanya sedikit beristirahat di tepat tengah malam, entah berhenti atau sedang pergi ke belakang
Yang pasti aku senang sekaligus murung karena deru rintik tak lagi menghentak

Surga akhirat adalah tujuan yang telah menjadi fitrah
Dosa merupakan musuh abadi manusia
Jangan sampai hujan saja menghentikan langkah
Jangan sampai dunia menghentikan mimpi kita

Maafkan aku cinta, aku tak bisa menghilangkan rasa takut sendiri tanpa dirimu
Keindahan dunia akan menjadi lengkap dengan keberadaanmu di sisi
Dinding-dinding sunyi yang terpajang, menjadi penuh lagi dengan inspirasi
Terimakasih cinta, apapun yang terjadi kau sudah menjadi cerita dan cinta dalam hidupku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s