Jari Manis yang Terkait

Senja dalam suatu hari di bulan Ramadhan, sangat tenteram walaupun penuh akan kebisingan
Ironis sekali, satu bulan spesial yang diberkahi oleh Allah, satu bulan yang penuh berkah, satu bulan ketika manusia diperintah untuk menahan emosinya, namun ketika waktu pulang dari aktivitas telah tiba segala perintah tersebut hilang
Hilang karena mereka ingin cepat-cepat berada di rumah, ingin mendapatkan berkah dengan cara ikhlas dikuasai oleh emosi, merupakan ironi di dunia penuh ironi
Memperhatikan ironi tersebut, ku bersyukur masih sanggup menikmati keindahan dan hangatnya bulan penuh api suci ini

Hangatnya senja, tiada pernah ku bosan menatapinya, dan meratapinya
Senja kala itu sungguh berbeda dari yang biasanya, semua pikiran-pikiran burukku mulai mengumpul menjadi gumpalan awan, kemudian turun ke bumi dan berubah menjadi kabut tebal
Menghalangi jarak pandangku dalam dunia nyata, lalu menuntunku ke dalam dunia ilusi penuh kepedihan
Kelabu, segala sisinya terlihat kelabu, menyengat hati dan membakar pikiran

Berjuta-juta pikiran terbang mengambang di udara, sangat banyak hingga ku mampu melihatnya dari dalam kabut
Isak tangis dan gelak tawa, riuh bersenda gurau, ingin ku teriak sampai parau, ingin ku tersedak hingga terhentak
Ketika goresan-goresan jari berubah menjadi sayatan-sayatan tipis namun dalam, hingga membelah nurani
Batinku terkelupas, teriakan orang-orang di belakangku, tak ku dengar, mereka berteriak bagaikan suara sirine pintu kereta api, sangat keras namun terabaikan

Suara-suara yang mengiris kalbu, membuatku terlupa akan kuasa Ilahi
Aku hanya bisa terpaku, tiada mampu ku bersuara, jangankan bersuara, berbisik pun aku tak mau
Aku takut, matahari akan marah kepadaku dan mengeluarkan seluruh lidah apinya untuk membakarku hingga mati
Aku takut, dunia ini akan menjadi kiamat, ketika matahari menabrakkan dirinya ke Bumi lalu alam semesta akan pecah seperti isi perut yang terburai
Aku takut, aku akan ditinggalkan oleh gadis yang sangat ku sayangi dan cintai

Ku lukiskan kembali kebodohan-kebodohanku di masa lampau, ku ukir kembali ketidakmampuanku yang membuatku tak berdaya hingga kini, seperti tenggelam dalam lumpur hisap, semakin berusaha keluar, semakin cepat dan kuat cengkeramannya
Aku memanglah tak sekuat prajurit yang sebelumnya, aku memanglah tak seindah bulan yang sebelumnya
Aku hanya manusia biasa, yang berasal dari keluarga biasa, hidup di dunia yang biasa, dan berdosa karena telah memimpikan hal-hal yang luar biasa

Mimpi-mimpi untuk bisa terus bersamanya, hingga mati nanti setelah keluarga kuat yang menguatkan dan besar yang membesarkan telah berdiri dengan kokoh
Mimpi-mimpi untuk bisa berada di surga nanti bersamanya, mimpi untuk melingkarkan janji di jarinya
Mimpi untuk menimang buah hati kami, dan meniupkan doa dan harap di keningnya
Mimpi untuk menjadi manusia yang keringatnya saja membawa keberkahan dan manfaat untuk sesama

Membayangkan mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan, membuat roda tak terasa berputar
Pintu rumah yang ku tuju, telah berada di depan kakiku
Air mata adalah satu-satunya kekuatan yang bisa memaksaku terus bertahan di dunia yang seperti bola yang menggantung ini
Ku sembunyikan air mata, karena ku tahu pasti akan merusak waktu berbuka puasa yang sungguh penuh kebahagiaan
Hingga nanti sholat maghrib usai ku selesaikan

Cepat saja, ku masuk ke ruangan yang bisa menahan seluruh erangan kuatku, sebuah tempat yang terpisah dari dunia luar, hingga aku mampu mengeluarkan semua siksaan yang telah berpesta pora di tubuh ini
Sampai pada suatu titik, dimana aku merindukan kehadiran matahari pagiku
Aku merindukan kedatangannya
Aku merindukan obat dari segala keluh kesahku, seperti dulu ia mengobatiku dari seluruh penyakit jiwa yang ku terima
Menjadikanku sehat dan siap menerima kembali penyakit dunia

Dan benar saja, ia tiba, jelas sekali ku mampu mendengar suara harpa yang dimainkan oleh bidadari kayangan, keluar dari mulutnya yang tak terlihat namun mampu ku bayangkan
Seketika kerinduan yang melanda, buyar dan berubah menjadi benih-benih cinta yang kemudian menggantung di atap ruangan
Ku coba lupakan pilu dan kelu yang menyerangku sore tadi, dan mencoba kembali menapaki kakiku ke dunia nyata lalu menikmati indahnya benih cinta yang terus bersemi, bagaikan bunga sakura yang selesai menghadapi musim dingin
Aku malu bila air mata masih hinggap di pipiku, kemudian orang lain melihatnya, termasuk ibu dan nenekku, jadi ku hapus air mata ini, ku lupakan tatapan kosongku ke arah langit biru tua, ku lupakan angin siluman yang ku tiupkan dengan maksud mengundang bencana

Kini ku tatap matahari pagiku di tengah malam yang hitamnya membelah cakrawala
Haru biru menguasaiku setelah mendengar pengorbanannya
Kata maaf dan kaitan antara jari manis yang kuat, mengembalikan kasih sayang kami ke dalam jalur awan yang biasanya kami lalui
Merangkai mimpi, menguatkan hati, mempersiapkan diri, masih banyak hal yang akan terjadi
Masa depan, kami datang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s