Zaman

Lantang ku menantang, mantap ku berucap
Bahwa zaman sekarang adalah zaman ketika kesucian menjadi bahan tertawaan
Kehormatan yang dipertahankan untuk tetap menjaga amanah dari Tuhan dan nama baik dari keluarga, serta kesucian jiwa dan lahiriah yang merupakan fitrah bagi setiap manusia,
Dianggap sebuah hal yang menjadi biang kerok kemunafikan bagi orang-orang kotor yang tak percaya akan cahaya kehidupan,
tak percaya bahwa mereka hidup di bawah kegelapan karena terhalangi oleh pagar yang menutupi cahaya,
Bahwa mereka bernafas di sisi lain dari sebuah koin yang menggantung miring di udara

Potongan-potongan adegan di drama dunia fana ini menyadarkanku, dengan memberikan sebuah pertanyaan
“Apa yang lebih buruk dibanding keadaan dimana kesucian telah menjadi sumber olokkan?”
Diamku saja tak mampu menjawabnya, mana berani ku bertanya pada semut-semut kecil yang sedang berbaris
Alunan musik melayang indah, perlahan dan anggun, menyulam kenyamanan, membuatku merasa terduduk di depan singgasana yang menghadap surga, dengan bidadari abadi menemani senyumku
Khayalan yang ku buat-buat untuk mengobati kesengsaraan hatiku yang telah terlanjur peduli pada dunia busuk

Mengapa mereka menganggap bahwa berani kotor itu baik?

Sejak kapan idealisme seperti itu melekat di hati petarung-petarung muda bangsa?
Sejak kapan kenikmatan sesaat mampu mengalahkan seluruh nasihat?
Sejak kapan rayuan mesum menjadi sangat memikat padahal itu tipu muslihat?
Sejak kapan tak mudah lagi menemukan putih yang masih sangat terjaga?

Siang menjadi malam, malam menjadi siang
Asap mengepul melalui mulut dan hidung, membanjiri dada yang sesungguhnya sudah sesak oleh kurangnya kasih sayang
Cita-cita tak lagi terukir di kepala, cita-cita kini menjadi candaan bocah dan anak naif yang bahkan belum mengerti apa arti kata “bangsa”

Malam itu, aku melihat seorang wanita yang digoda oleh seorang pria
Dari yang bisa ku lihat, wanita itu digoda karena masa lalunya me nurutku terlihat jauh lebih baik dibanding sosoknya yang kini ku lihat
Namun, yang terjadi berikutnya, di luar sangkaku
Wanita itu tertawa, jauh lebih keras dibanding tawa si penggoda, ia menertawakan masa lalunya, masa lalu yang cerah menjadi kaleng untuk cemoohan

Melihat lakon seperti itu, aku merasa sangat sedih
Kepedulian yang ku pertahankan untuk golongan pelanjutku, telah sia-sia berdiri tegap di dalam keyakinan
Mimpi yang terkunci, mungkin akan terus terkunci,
kuncinya hilang tertelan waktu, jeruji pun kan membatu

Aku tahu, matahari akan terus menyinari bumi hingga kapan pun ia mau
Aku tahu, bulan pun akan terus bersama bumi hingga kapan pun ia mau
Namun apakah kemurnian manusia akan terus seperti matahari?
Apakah keistimewaan manusia akan terus seperti bulan di malam hari?

Sejenak beristirahat dari waktu yang sedang berjalan cepat
Memperhatikan kesibukan kota dari balik kamar yang terletak lebih tinggi dari riuh rendah semilir angin di dedaunan bambu hijau
Kota ini, masih layak dihuni sampai berapa tahun lagi?
Apakah ketika aku menjadi seorang ayah, kota ini masih bisa dijadikan tempat tinggal?
Situasi yang ku bayangkan adalah suatu tempat dan masa yang bisa saja lebih buruk dari zaman ini
Akankah tempat ini masih mampu ku jadikan istana bagi keluarga dan keturunanku?

Sebuah buku takkan pernah dibaca hingga selesai, jika tiada yang mampu mengerti isi di dalamnya
Seekor burung takkan pernah terbang, jika tak belajar menggunakan sayapnya
Seekor mamalia darat, langsung belajar berdiri dan berjalan setelah beberapa waktu ia dilahirkan
Sebuah jendela adalah bagai layar yang menghubungkan dua dunia yang sempat terpisahkan

Semoga saja, harapan-harapan generasi ini dan sebelumnya terpenuhi semua oleh generasi mendatang
Agar tak ada kekecewaan yang dibawa mati oleh para penegak keadilan dan pembela kebaikan
Kesucian yang sebelumnya ditertawakan, akan menjadi kebanggaan besar bagi setiap anak muda
Kehormatan dari seorang manusia akan selalu menjadi dambaan bagi orang lain yang mencintainya
Kemurnian jiwa akan selalu berada tepat di samping nurani, selama kau ingat siapa dirimu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s