Sesalku Karena Hujan, Kesalku Kepada Malam

Hujan malam itu, telah menemani isak tangisnya dan mengawali kepedihanku
Benar-benar menyakitkan hujan kala itu, hingga membuatku ingin sekali membenci sang dewi air pebawa rezeki
Andai saja aku adalah manusia yang tidak bodoh dalam mengambil keputusan
Takkan aku buat ia, wanita terkasihku, berada dalam ambang kesakitan

Untuk orang lain mungkin hujan malam itu adalah berkah, atau teman di kala duka gemar menghardik
Namun bagiku, hujan malam itu adalah siksaan perih
bagai butiran api yang jatuh dari lubang hitam
Masih menyisakan penyesalan yang mendalam di hatiku sampai cahaya dari mataku terbentang dari pejamannya yang kelam

Nafas hangatnya, isak tangisnya, tangan-tangan lembutnya
Semua memelukku sangat erat, aku pun seperti tak mau melepaskan semua itu dari tubuh ini
Hujan sudah cukup mempermainkan aku, aku tak ingin waktu juga ikut menyiksa kerinduan yang tercipta
Padahal langit juga sudah mengelabui keyakinanku, sayang sekali aku harus membenci kalian saat itu

Lebih baik, aku berdiam berdiri saja bersamanya di dalam ruangan yang pengap akan hasrat tak bersuara
Lebih baik, aku temani ia, tak memperdulikan ketidakmampuanku, tetap ku di sampingnya ketika vertigo kian melanda
Tidak masalah dengan dentangan jarum jam yang mencekik, atau kegelapan malam yang mencekam
Daripada harus menanggung sesal karena telah membawa wanitaku yang tersayang menerobos hujan dan harus meresikokan kesehatannya

Menurutnya, banyak hal dalam diriku yang telah berubah, menjadi berbeda, seakan-akan tak peduli atau sudah tak sayang lagi
Hingga ketakutannya akan hal itu muncul, yang berawal dari praduga lalu berakhir pada sikap yang berbeda
Aku tak mau ia dikuasai oleh perasaan itu, karena kenyataannya adalah rasa sayangku kepadanya tak berubah sedikitpun, kecuali bertambah
Cukup langit, kau mengkhianati kawanmu sendiri malam itu, jangan sok peduli dan tak usahlah kau berdoa untukku

Pagi pun tak sehangat biasanya, meski aku melihat sinar matahari sangat jelas menempel di dinding biru
Dari balik jendela ini, pikiranku menjelajah udara di luar sana, berusaha mengirimkan kerinduanku yang seperti terhalangi sesuatu
Harus ada yang ku perbaiki agar tiada lagi aku dibohongi oleh cuaca, biar jika angin membenciku, ia tak bisa membangkitkan jiwaku ketika teman-temannya sedang bernyanyi di antara langit dan bumi
Jalan-jalan kota yang basah, menyaksikan air mataku yang tak bisa ku tunjukkan bahkan kepada sang penguasa

Aku perhatikan melalui sudut pandang kaca yang berdebu, cakrawala menghampar luas
Tarian cahaya jingga, membentuk lengkungan dan bentuk indah, menghiasi kota yang penuh kekejaman halus dan kejahatan kasar
Sedangkan aku di sini, berteriak memanggil namanya, berusaha untuk mendapatkan setidaknya sedikit perhatiannya
Yang juga aku tahu, mungkin ia sama sepertiku

Sepertinya ada racun yang menjalar melalui saluran darahku
Pernafasanku mulai goyah, aku pun tak mampu lagi menatap titik kecil yang biasanya jadi pusat latihan konsentrasi
Merasa amat payah, ketika dadaku terasa sesak, tubuhku menggigil, namun mataku sangat panas
Yang ku ingat ketika itu hanyalah kata-katanya “aku kuat, aku kuat”, hingga membuatku kembali tersadar dan mencoba untuk tetap terjaga meskipun pada akhirnya gagal dan lelap pun membungkusku rapi

Dalam mimpi, aku bertemu dengan seorang nenek, tak tahu juga megnapa aku bisa menyebutnya cantik
Ia tinggal laut dengan kedalaman yang dalamnya melebihi tinggi dari puncak tertinggi di dunia
Saking dalamnya, jari saja tak mampu bergerak karena tekanan kuat dan udara yang tipis
Namun nenek itu, berenang begitu lihai, lembut seperti sehelai sutera yang terbang di dalam air
Nenek itu membisikkan sesuatu di kupingku, aku yakin sekali ia berkata “Semua yang kau sayangi, itulah dirimu.”

Kemudian nenek itu pergi menjauh,
berenang menuju sekawanan paus harimau,
mereka bergerak cepat menuju permukaan,
hingga tak bisa ku lihat lagi riak airnya bertebaran

Mengapa banyak sekali buih-buih udara di sini?
Siapa yang menghabiskan udaranya di kedalaman laut seperti ini?
Ternyata itu buihku sendiri, gelagap dan gemetar, tak mampu mengendalikan tangan dan kaki
Aku berusaha menyelamatkan diri, ternyata hanya mimpi

Aku pun tersadar, tak selamanya hujan itu menyenangkan, tak selamanya malam itu menyejukkan
Dengan pesan dari nenek dalam mimpiku, dan kepala yang masih pening akibat hujaman air di hujan malam itu
Aku menuliskan sedikit nafas rindu di atas kanvas yang terpasang di awan
Berjanji dan berdoa, untuk terus bersama, dalam satu dimensi, di atas satu garis waktu

Cinta, kau tak perlu takut, kau tak sendirian. Ada aku di sini, menemanimu dalam rasa sayang yang ditambah dengan sedikit kebodohan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s