Mengejar Keabadian

Ketika hati menyesak terasa sampai kerongkongan karena menahan kesedihan
Aku seperti orang-orang lalim yang tidak memiliki teman setia seorangpun
Dan tiada pula memiliki seorang pemberi bantuan yang diterma pemberiannya
Menengadah ke langit, meminta, sambil meyakini permintaan naifku dikabulkan

Membungkuk di hadapan bulan purnama
yang telah termakan separuh badannya oleh kekuatan absolut alam
Ku perhatikan dunia, ku perhatikan diriku sendiri, ku teringat dan ku tersadar
Dunia adalah cerminan diriku sendiri

Aku meminta maaf kepada kalian, kalian yang pernah secara sengaja atau tak sengaja ku sakiti
Aku pantas menerima perlakuan yang setimpal
Aku tak ingin lagi mengecewakan orang lain, aku akan terus berusaha memperbaiki caraku mengayuh pedal
Melaju pelan pun tak apa,aku mau dan akan belajar dari awal lagi

Terkadang aku bagaikan ikan kecil yang berenang-renang begitu bebas di dalam sebuah gelas
Riang dalam batas, tak pernah sedikitpun bermimpi untuk pergi menuju sungai yang deras
Jentik nyamuk memanggil, aku benci itu, aku makan mereka, agar tak mampu terbang ke dunia
Tinggal bersama kotoranku sendiri, tak membuatku merasa kotor, tidak juga membuatku hina

Meniti langkah demi langkah di dalam lorong penuh kegelapan
Terhenti di suatu kamar yang ku pikir cukup nyaman bagiku untuk menikmati kesendirian
Heran ku rasa ketika banyak sekali cahaya yang memanggilku keluar dari kamar lembab ini
Dan aku tak beranjak keluar, aku hanya memperhatikan cahaya itu semakin lemah dan pergi

Ku keluar dari ruangan itu, kembali menapaki jalan yang licin dan penuh bangkai kelelawar
Mereka mati karena tak sanggup lagi menahan malu, atau mati karena tak menerima takdir
Bahwa mereka hidup di tengah malam, kemudian bermusuhan dengan matahari
Dikira menghisap darah, kelelawar tak peduli, dikekang oleh bulan, mereka malah mati

Di dalam lorong yang gelap membuatku sangat peka terhadap cahaya
Cahaya sekecil apapun akan terlihat oleh mataku, seperti yang satu itu di ujung lorong
Aku berjalan hingga telapak kakiku terluka, namun cahaya itu tak kunjung dekat
Hingga akhirnya aku merasa bahwa perjalanan ini tak akan berakhir dan tak berguna

Percuma jika ada cahaya yang menuntunku, namun tak menemani petualanganku
Kesepian yang tak bisa teratasi, membuatku ingin selalu menangis dan membeku
Namun jika ku menangis, akan ada malaikat yang merasa sedih
Mengurungkan niat, ku simpan air mata ini baik-baik di dalam hatiku

Ku biarkan air mata menjadi oase dalam nuraniku, menghidupi seluruh kehidupan di taman hati
Dengan begitu akan lebih bermanfaat dibanding hanya keluar begitu saja
Sudah mengalir membasahi wajah, mempermalukan kehormatan dan kebanggan seorang pria
Tetapi hanya disela agar tak terlihat lemah, air mata memang sejak dulu tidak pernah dipedulikan

Semakin dalam ku berjalan, semakin jauh ku berlari
Semakin banyak lukisan-lukisan dinding yang ku lihat, ada yang menceritakan tentang keabadian cinta
Ada yang menceritakan tentang kekuatan seorang manusia ketika melawan dunia
Ada yang menceritakan tentang kematian malaikat oleh saudaranya sendiri

Kian kini aku sangat menyadari
Mataku semakin jelas melihat
Telingaku pun semakin mampu mendengar
Selaras dengan hati yang semakin bisa merasakan

Dunia ini dipenuhi ketidakpastian, memunculkan kekhawatiran, kekecawaan, dan harapan
Akan tetapi, akan selalu ada semangat untuk tetap berjalan pada apa yang diyakini akan membawa kebaikan
Kemudian untuk meyakini sesuatu tersebut dibutuhkan pemahaman dan pemikiran tersendiri berdasarkan fakta, pengalaman, dan teori yang sah
Keyakinan boleh saja membutakan akal, yang pasti jangan sampai menghentikan langkah

Aku lelah, aku akan beristirahat sejenak, tenang saja takkan ku biarkan tidurku mengambil nyawaku
Aku hanya ingin menghilangkan penat sejenak dengan air yang menggenangi lorong terkutuk ini
Tak terasa, bajuku sudah lusuh oleh waktu, wajahku telah pudar termakan pergeseran makna
Andai saja takdir bisa ku ubah seenak hati, takkan ku biarkan diriku hadir di dunia busuk ini

Mimpi mulai merasuk, ku dapat mendengar suara hela nafasku yang perlahan melambat
Sinar yang menerangi mataku berangsur temaram, kemudian padam tanpa celah
Semoga tempat yang lebih fana dibandingkan dunia, juga lebih baik dari dunia
Hingga membuatku lupa akan tujuanku berada di lorong ini adalah mengejar kekalnya cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s