Permintaannya Di Hari Itu

Ku mulai dari momen ketika kenangan tentang matahari senja yang diapit oleh gedung-gedung elok di pantai Muara Karang membuatku teringat bahwa aku bukanlah siapa-siapa, tak akan ada yang mampu ku lakukan jika selain memberikan kebaikan untuk orang lain
Riak air dan hembusan angin pantai pun pasti bisa mendengar janji yang ku tanamkan di bebatuan yang ia duduki waktu itu, untuk terus menyayanginya dan berusaha menjadi yang terbaik untuknya
Dan kini, aku sangat merindukan momen kala itu, kala senyumannya dan keindahan dunia memenuhi kebahagiaan
Kala jari jemari ini, saling mengikat untuk pertama kalinya dalam diam dan keistimewaan
 
Mereka bilang, cinta harus dibangun dengna pondasi yang baik, dan pondasi yang baik juga harus ada keyakinan di dalam campurannya sebelum mengisi bagian paling dasar dari sebuah bangunan bernama cinta
Lalu apakah sebutan bagi mereka yang tidak yakin akan dirinya, akan diri pasangannya, akan mereka berdua namun masih tetap bersatu padu dan kompak dalam meniti impian?
Hingga pada akhirnya mereka benar-benar bersatu mulai dari pernikahan hingga berakhir pada kematian
Apakah itu bisa disebut dengan keyakinan? Atau bukan? Jika bukan, mengapa pada akhirnya mereka bisa bersatu hingga nyawa mereka direnggut dari jasad? Jika iya, mengapa bisa ketidakyakinan disebut dengan keyakinan? Apakah karena mereka terus bersama?
 
Bagiku, bisa terus bersama hingga mata tak lagi terbuka dan nafas tak lagi mengudara, sudah merupakan segalanya
 
Pernah ku dengar, ada orang asing yang bilang
Dalam sebuah pasangan, jika hanya satu yang mempertahankan, maka itu bukanlah sayang, melainkan obsesi
Apakah itu benar? Jika iya, untuk apa yang satu lagi tetap bersama jika tidak disebut dengan mempertahankan? Bagaimana jika ternyata yang terobsesi adalah yang tidak mempertahankan?
Atau bagaimana jika, yang mempertahankan ini bukanlah mempertahankan pasangannya, namun mempertahankan hidup dan kebersamaannya karena ia tahu ia takkan mampu sendirian, dan orang yang tepat baginya adalah kekasih yang terus berada di sampingnya, walaupun kekasihnya tidak mempertahankannya
 
Bagiku, tidak ada pernyataan yang sepenuhnya benar, atau sepenuhnya salah
Semua pernyataan pasti diikuti dengan kata “tergantung”, “jika”, “terkadang”, atau “ada kalanya”
 
Kalian juga pasti sudah sering dengar kata-kata ini “jika memang kita ditakdirkan untuk bersama”
Salahkah aku bila mengartikan ini seperti seorang anak kecil yang sedang membaca buku, di tengah cerita ia membayangkan akhirnya, lalu mencoba menyamakan akhirnya dengan ekspektasi yang ia miliki?
Atau seperti sekelompok pengembara yang sedang memikirkan di kota mana petualangan akan berakhir. Lalu, mencoba menyamakannya dengan perkiraan yang ia buat?
Atau seperti sekumpulan pengendara yang sedang membayangkan kapan ia akan pulang padahal mereka baru saja berangkat?
 
Egoiskah aku jika aku berdoa meminta agar didekatkan jodohku dan ia menjadi jodohku agar Allah menghentikan langkahku sekarang juga jika ia memang bukan jodohku?
 
Jika memang aku mencintainya dalam ketergila-gilaan
Jika memang aku menyayanginya dalam naif
Maka tunjukkanlah bahwa kalian memang benar
Dan buktikanlah bahwa kalian tidak mengada-ada
Janganlah kalian berbicara dalam iri atau kesoktahuan
Karena jika begitu, kami akan membakarmu dengan minyak dari kedengkian kalian
 
Manusia berdoa, berharap, dan meminta
Mereka biasanya yakin bahwa doanya pasti dikabulkan, walaupun mata sendu penuh harap masih menghujami sajadah dengan air mata
Atau tangisan pengakuan dari seorang anak kepada Bapanya, atau ketika mereka yang sedang mempertemukan air di wajahnya dengan asap yang berasal dari dupa yang menyala
Kita boleh meminta dan berharap, prosesnya juga harus benar, namun ketika dihadapkan dengan hasilnya, manusia tidak boleh memrotesnya
 
Seperti itulah, pemikiran dari seorang manusia, yang pasti berbeda dengan manusia lainnya, juga berbeda dengan barisan kejadian yang disiapkan Allah
Yang pasti, aku tetap menyayanginya, tetap berdoa kepada Allah, tetap terus bersamanya dalam suka dan duka, sampai pada suatu hari ia memintaku untuk memenuhi permintaannya
 
Permintaannya hari itu, akan mengajarkanku bagaimana menerima takdir setelah memperjuangkan takdir tersebut
Ku akui,
permintaannya hari itu membuatku merasa sedih karena ia seperti meragukan pertautan ini
Namun setelah ku dalami lagi makna dari setiap kata yang ia kirimkan kepadaku, semakin aku memahami bahwa,
permintaannya hari itu, sungguh menyadarkanku atas ketidakmampuan seorang manusia apabila tidak sesuai dengan kehendak Allah, walaupun sudah berusaha dan berdoa jutaan kali
Permintaannya hari itu, menyentuh hatiku bahwa aku harus selalu memasrahkan segala daya dan upayaku kepada Allah

Permintaannya hari itu, mengingatkanku bahwa setelah berusaha dan berdoa, selalu ada bertawakal kepada Allah
Permintannya hari itu, memberikan peringatan kepadaku agar selalu menyelipkan keikhlasan kepada Allah dalam setiap hembusan kasih sayangku untuknya
Permintaannya hari itu, memberitahukanku bahwa ia akan masuk ke jenjang yang berikutnya dan tak ingin gagal lagi
Entah, atau tidak peduli apapun yang terjadi nanti, tanpa ia ketahui
permintaannya hari iti, membuatku semakin menyayanginya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s