Impian yang Hakiki

Ketika pusat kendali tubuh ada di hati,
kalian penggal leherku pun aku akan tetap hidup
Mungkin tidak di dunia ini,
namun cukup di nurani kalian

Walau kalian berusaha membunuhku
Kalian pecahkan kepalaku atau kalian penggal leherku
Lebih baik begitu daripada
Aku dibohongi oleh lidahku sendiri

Namun tetap aku takkan mati, sedikitpun tidak
Terserah jika kalian menganggapnya sebagai kematianku
Karena apa?
Karena pusat kendali tubuhku tidak seperti kalian,
Tidak seperti kalian yang berada di kepala
Melainkan ada di hati ini

Benih-benih luka ku tebarkan
melalui lisan yang masih saja kekal dalam kebodohan
Tubuhku menjadi panas, air mataku mendidih
Berbicara pun tak pantas, hanya mampu meringkih

Kuku-kuku yang ku gunakan untuk menguliti setiap lapisan kulit
Tajam sekali ternyata, atau kulit ini yang terlalu rapuh?
Ku dengar deru angin bertabrakan di lorong sempit
Melodi penyesalan kembali mengalun di atas tubuh yang bersimpuh

Sedang memohon kepada sang pagi, agar memberikan kesempatannya sekali lagi
Lagi dan lagi, meminta tanpa malu, menangis tiada ragu
Membayangkan esok saja aku tak tahu, rasa ini mungkin lebih buruk dibanding mati
Lembutnya kain pengantarku tidur, menjadi alas bagi nafas sedu

Kesalahanku, sejak awal memang selalu seperti itu
Maukah ia memaafkan ku lagi? Maukah ia kembali menjadi mentari?
Maukah ia menjadi penghapus rindu? Penghilang sendu?
Atau menjadi bidadari yang biasa saja, lalu mengisi hari demi hari

Wujud rasa sayang yang ia sampaikan, wujud rasa sayang yang ku sampaikan
Tentu saja berbeda, namun tetap saja berlandaskan dari kekalnya cinta
Kalian seharusnya memanggilku gila, tak apa aku tak peduli
Sebolehnya juga kalian menyebutku terobsesi, yang ku tahu ia ialah sang pengisi hati

Jangan tinggalkan aku, ku mohonkan maaf melalui dinginnya tanah
Merana di atas singgasana, memperhatikan kegelapan yang mulai merekah
Beruang kecil tersenyum kepadaku, mengingatkanku pada impian-impian
Yang ku rangkai agar bisa terwujudkan ketika aku dengannya menari di atas kehidupan

Salahku, yang membuatnya seperti itu
Egoisku, yang malu untuk ku akui
Sesalku, tak bosan menegur
Lisanku, membuatku tersungkur

Maafkan aku cinta, aku menyesal telah mengatakannya
Aku menyesal suara itu keluar dari mulutku nan hina ini
Lewat garis jingga ku kirimkan bisikkan janjiku kepadanya
Demi tidak melakukan kesalahan semacam itu kembali

Tak akan ku lepaskan ia dari sampingku, karena ia lah yang ku butuhkan
Tanpa perlu diperrtanyakan lagi mengapa aku bisa tahu
Berlututku pada langit mungkin mampu menambahkan penjelasan
Bahwa tiada lagi manusia lain yang seperti dirinya di dalam hidupku

Mataku telah terasa sangat lelah menatap dunia
Rinduku ini ingin sekali memejamkan matanya untuk mengintip mimpi
Pelukan kematian sepertinya sudah tak sabar ingin mendekapku dengan hangat dan ceria
Namun aku masih di sini, meniti langkah untuk kesucian surga yang hakiki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s