Mesin Waktu

Mesin waktu yang sempat hilang dari laboratorium milik malaikat penjaga kedamaian
Telah ditemukan dalam keadaan rusak total, tidak ada lagi yang bisa diperbaiki
Aku ditangkap karena telah dituduh dan dijadikan tersangka atas kejahatan yang menggemparkan dunia
Mesin waktu itu ditemukan di dalam rumahku, oleh seseorang bertanduk yang seluruh kulitnya merah

Seingatku tak ada tindakan jahat yang ku lakukan malam itu
Namun mengapa mereka bersaksi bahwa aku rela menghabisi nyawa beberapa malaikat penjaga laboratorium
Hanya untuk menggunakan mesin itu
Untukku, mempermainkan waktu adalah hal yang mengada-ada dan tidak dewasa

Untuk apa bermain di dunia waktu?

Aku tersentak, pertanyaan itu mengingatkanku pada semuanya
Ketika aku menghancurkan dinding, ketika aku terbang dengan kuda bersayap yang juga ku curi dari penduduk sekitar
Ketika aku membawa pedang lalu menggunakannya untuk menebas sayap dan leher malaikat-malaikat penjaga
Ketika aku bersusah payah memasukkan mesin waktu seluas lapangan badminton ke dalam tas ranselku
Ketika aku kembali ke rumah dan menggunakannya, kemudian dengan sengaja merusaknya agar tiada lagi yang dapat menggunakannya setelah aku
Ketika aku membawa salinan dari prototipe mesin waktu ini supaya aku bisa buat sendiri
Aku ambil seluruh partisi dan sumber tenaganya
Lalu aku pergi ke suatu masa saat seluruh cinta menyergapku dan meraibkan seluruh kesepian

Ku gunakan kenangan-kenangan indahku sebagai peta yang ku yakini takan membuatku tersesat
Aku catat seluruhnya ke dalam buku, puisi-puisi yang ada di dalamnya ku gunakan untuk mengingat kembali keadaan dan situasi yang sempat terjadi kala itu
Agar aku mengerti, bagaimana bisa aku tersenyum di dalam dunia yang penuh kelembutan dan kasih sayang
Juga penuh dengan kecantikan dan kebrutalan
Gambar-gambar wajahnya, ku jadikan jimat pelindungku agar aku tetap terlindungi dari semua godaan setan yang terkutuk

Aku pergi ke tempat dan masa dimana aku yang satunya lagi (ada di masa lalu) sedang merasakan keindahan duniawi

Aku melihat saat itu,
Aku pergi ke sebuah taman yang tak begitu luas
Ada kolam hijau pekat berada di tengahnya
Sejenak sambil memandang air mancur dan dedaunan pohon-pohon rindang di sekitarnya
Yang disinari oleh mentari yang akan terbenam

Aku ingat saat itu,
Aku berpikir betapa kecilnya kami, yang tinggal di sebuah dunia yang dianggap hanya sebesar tetesan air yang jatuh dari jari di tengah lautan
Jika dunia diibaratkan seperti setetes air di lautan, lalu bagaimana dengan kita?
Bagaimana dengan cinta kita?

Aku juga ingat saat itu,
Aku tak terlalu memikirkannya jika sudah bersentuhan dengan cinta
Aku hanya melanjutkan keceriaanku bersamanya
Menikmati hari dengan alunan gitar dan keberadaan dirinya di atas rerumputan di hadapan angin senja
Menikmati tawa, canda, dan riuh ramai suara kasih sayang yang sedang kami besarkan bersama

Aku menyaksikan diriku sedang tertidur pulas di atas pangkuannya di dalam kamar sebuah rumah sakit
Andai saja waktu itu aku tahu bahwa aku yang satunya lagi (ada di masa depan) sedang memerhatikanku, aku pasti akan menyapanya
Namun begitulan semua hal, pasti ada syarat, ketentuan, dan peraturan yang tiada pernah boleh dilanggar atau bahkan dimodifikasi sedikitpun

Aku melihat diriku yang sedang tersenyum memandangi indahnya matahari tenggelam di antara gedung-gedung yang tertancap di antara bibir daratan dan lautan
Bersamaan dengan itu, aku memandangi indahnya tatapanku sendiri ketika ada dia yang berada di samping diriku sedang memandangi matahari tenggelam juga
Tatapanku waktu itu sepertinya adalah tatapan yang sangatlah membahagiakan

Lalu dalam semak belukar di sebuah kebun raksasa di suatu kota yang sejuk
Aku menyaksikan diriku sedang tertawa terbahak-bahak penuh kesenangan dan kebersamaan
Aku yang satu itu sedang menikmati hari ulang tahunnya yang ke-21
Bersama dengan gadis yang paling ia sayangi
Bersama dengan gadis-gadis muda yang baru ia kenal
Yang sebelumnya sedang memautkan janji di dalam masing-masing hati di bawah guyuran hujan keromantisan

Kemudian aku melihat juga diriku yang sedang bertengkar dengan wanita
Ketika ingin menikmati sebuah kota yang terkenal dengan gedung berpucukkan tusukan sate
Yang kemudian kembali berpelukan padahal sudah bertengkar setengah panjang jalan
Indah sekali aku perhatikan, hingga membuatku berpikir untuk kembali lagi ke masaku yang sebenarnya

Namun sangat disayangkan, ketika aku pulang ribuan tuntutan telah dilayangkan untukku
Aku tahu ini konsekuensinya, aku tahu aku akan dihukum mati
Sembari menunggu eksekusi, aku sibuk memilih hukuman mati apa yang aku terima nantinya
Saat merogoh kantong, aku tersenyum
Mesin waktu portabel yang ku buat masih ada di kantongku
Aku gunakan saja untuk kembali di saat aku sebelum mencuri mesin waktu itu
Dan aku merasa layaknya dewa
Yang bisa memainkan ruang dan waktu seenaknya

Rindu telah terpuaskan
Saatnya aku kembali ke dunia nyata, dan melanjutkan pergerakan demi tercapainya rencana besarku bersamanya
Ku kuatkan lagi diriku
Ia pun begit

Ketika aku terbangun di suatu pagi, menatap ke jendela seperti biasa
Tersemat dalam benakku
Untuk apa bermain di dunia waktu?
Bagiku, untuk menyaksikan kehidupan dari sisi yang benar-benar berbeda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s