Kertas

Malam ini cerah, malam cerah pertama di musim hujan penghujung tahun 2013
Biasanya malam di musim hujan adalah malam yang dingin, penuh air dan kelembaban
Tidak seperti ini, sejuk dan hangat menjadi satu
Angin mengalir melewati cahaya dari lampu-lampu pendar yang kesepian menerangi jalan
Hangat menelisik nakal ke dalam kamarku melalui kesunyian
Dan dari suara yang memasuki kepala melalui telingaku, suara peri

Sedikit kantuk merupakan hal biasa yang selalu kita lewati sebelum memasuki gerbang mimpi
Namun bukan penghalang untuk tetap terjaga apalagi jika dunia mimpi belum tentu lebih indah dibandingkan dengan dunia nyata
Itu mungkin yang dimaksud dengan “Rasional lebih baik dibanding kemungkinan”
Seperti itulah yang sedang aku alami saat-saat ini

Ku nikmati rembulan bersinar terang, yang ditemani bintang-bintang di seklilingnya
Tiada awan mendung yang mengganggu
Begitu juga dengan kami, aku menikmati senyumnya sepanjang malam
Tanpa ada pengganggu, kedamaian dan kebahagiaan mulai merasuki hatiku dan membuatku merasa seperti menari di ruangan tanpa gravitasi

Menghadapi realita yang berpotensi memunculkan rasa suntuk sebelum matahari terbenam
Terkadang membuatku merasa stres atau depresi, yang paling minimal adalah rasa bosan
Namun bersyukurnya aku memilikinya, orang dengan kemampuan tinggi dalam menghapuskan penat
Dengan caranya sendiri dan dengan situasi atau keadaan tersendiri
Lebih dari cukup bagiku untuk melengkapi kehidupanku agar tidak jatuh tersandung karena tidak seimbang selama berjalan di atas panggung panas berbatu

Banyak impian yang kami ciptakan, tinggal pembuktiannya yang akan kami buktikan
Semoga saja Tuhan selalu memberi kehendak-Nya kepada kami untuk melakukan tindakan bertahap demi tercapainya impian-impian tersebut
Belum lama ku pikirkan hal itu, mulai lagi aku memikirkan yang lain
Ketika kami bertengkar, lalu berdamai, setelah itu bertengkar lagi dengan penyebab yang sama, kemudian berdamai lagi
Begitu saja terus hampir setiap hari
Tentu, dengan latar belakang kisah yang berbeda, tempat, waktu, dan kondisinya berbeda

Di sudut kiri pandanganku, sebelah kiri dari tempat aku duduk menulis ini
Aku melihat boneka yang ikut mengantarku menuju tangga kesuksesan
Ia ikut membantuk menaiki satu anak tangga menuju lautan awan yang di dalamnya penuh bertaburan harta benda dan kekayaan
Boneka yang ia berikan hampir setahun yang lalu, tidak lusuh, masih tegak berdiri di dalamnya habitatnya
Akan menemaniku menaiki anak tangga yang satunya, terus dan terus hingga mencapai puncak

Sering aku membicarakan tentang angin malam yang sejuk
Namun tak pernah aku rasakan angin malam sesejuk ini
Bukan karena anginnya berbeda, namun karena suasana hatiku yang berbeda
Kehangatan yang ada, bertambah berkali lipat karena hati yang bergelora atas nada-nada cinta

Aku memang sering menangis, tetapi asal kalian tahu
Tangisanku bukan untuk keegoisanku, namun semata-mata untuknya
Tak ingin ku perkeruh air keruh
Tak ingin ku panasi air yang mendidih
Tak ingin aku bakar api di atas bara
Tak ingin aku dinginkan es batu

Mereka bilang kristal hanya bisa dipotong oleh kristal
Garam hanya bisa dicuci dengan air garam
Namun tak seperti itu bagiku
Bagiku, garam tetap butuh air untuk mencuci dirinya sendiri
Dan kristal, tak hanya butuh kristal untuk menunjukkan kecantikannya
Kristal juga butuh emas, perak, dan bahkan keringat untuk menampilkan kemolekan dari lekuk tubuhnya yang kaku tapi tetap menawan

Aku tak ingin menjadi angin untuk api
Angin hanya membuat api menjadi besar ketika dibutuhkan untuk memasak
Aku juga tak ingin menjadi air untuk listrik
Air hanya untuk listrik ketika tiada penghantar lain yang bisa digunakan untuk menyerahkan energinya kepada unsur lain

Aku lebih baik menjadi air untuk api
Menjadi air untuk batu
Memadamkan dan melunakkan
Seperti itu ilustrasi sederhana dari penjelasan yang mungkin akan menjawab pertanyaan yang secara otomatis muncul dari mulut para manusia yang hanya bisa berbicara tanpa ingin mengetahui kenyataan yang sebenarnya dan kebenaran yang senyatanya

Aku menyayanginya

Aku menyayangi mereka
Aku menyangi diriku dan kehidupanku
Aku menyayangi dunia dan akhirat
Aku menyayangi Tuhan dan Rasul serta Malaikat-Nya

Itu adalah hal yang wajar bagi setiap manusia, yang beragama sama tentunya
Melalui pena yang diberikan burung pelatuk kepadaku
Pena yang dibuat dari pintalan awan di siang hari yang bercampur dengan ranting-ranting kering yang terlupakan padahal masih bisa digunakan
Tulisan yang aku buat di atas kertas abadi, kertas dimana aku mencurahkan isi hatiku tentangnya dan tentang dunia
Kertas dimana aku memamerkan isi hatiku pada dunia
Kertas dimana aku tuliskan kisah-kisahku bersamanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s