5 Pasang Bait Usang

Kini dunia sudah tak seindah dulu lagi
Mereka punya tempat bersandar
Namun ku tak jua memiliki
Dimana tempatku bersandar?

Kesedihan menyeruak melalui mata
Namun mata berusaha menyembunyikannya
Bibir tetap menebar senyuman
Hati masih sanggup menahan

Nihil manfaatnya jika ku berbagi
Aku tak mau menyakiti siapapun lagi
Biarlah ku nikmati semua ini sendiri
Lagipula, hari akan terus silih berganti

Seseorang yang diasingkan
Hanya kan berbicara di dalam hati
Karena penjara adalah seorang kawan
Tanpa ada teman selain jeruji

Kemenangan menghasilkan euforia
Mulut yang kalah pasti terbungkam membatu
Kami sulit sekali untuk mengangkat kepala
Sebab lebih pantas bila tertunduk lesu

Mengapa aku selalu merasa bodoh?
Apalagi ketika sedang belajar
Bak diterpa badai, goyah dan segera roboh
Putus asa mencari tempat aman dari dunia luar

Tumbuhan berkelakar, binatang menyeringai,
Udara berubah menjadi racun berbahaya
Ingin ku minum air dari aliran sungai
Tapi apa daya, ku hanya bisa meminum air mata

Ku dengar mulutku berdesah
Ku dengar hidungku berdengus
Tanda dari semangat yang sedang lelah
Keputusasaan tertanam di atas tanah tandus

Kematian berdecak di atas kepalaku
Heran dengan semua hal yang ku rasakan
Mengambil nyawaku ia segan
Tapi membiarkanku ku hidup ia tak mau

Mataku selalu bersedia untuk terbuka
Memandangi indahnya kehidupan
Bersiap dengan sisa-sisa nyawa yang masih ada
Entah apa yang akan terjadi di masa depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s