Hujan adalah Rahmat

Hari ini tak ada matahari yang menemani sepi
Ia seperti hendak pergi ke suatu tempat yang aman dari cercaan manusia yang benci akan panasnya
Tak tanggung-tanggung, ia memberikan balasan kepada mereka sebuah hari yang menyusahkan
Berupa kesempatan bagi hujan untuk menguasai langit selama berhari-hari
Hingga air melapisi permukaan tanah kota seperti rambut menutupi kulit domba
Dan seluruh manusia yang benci akan panas, sekarang menjadi benci kepada hujan

Tiada ampun, berhari-hari ratusan atau mungkin lebih manusia di kota ini tersiksa karena air
Terlalu banyak air yang diterima, tidak sanggup lagi tempat kami menampungnya
Sampai-sampai kehidupan ikut termakan olehnya dan tenda-tenda pengungsian kembali lamar dijajaki
Air jatuh banyak sekali dari langit, membuat pabrik-pabrik listrik untuk sementara berhenti berkarir
Tapi banyak juga manusia-manusia yang kesulitan mendapatkan air untuk membersihkan badannya
Atau memenuhi kebutuhannya, karena air yang jatuh tak dapat digunakan pun dinikmati

Sesekali hujan berhenti mengguyur asa, menegakkan kembali kepala yang tertunduk lesu
Itupun karena matahari ingin mengintip sedikit bagaimana keadaan kehidupan jika ia tidak ada
Sebentar saja matahari sudah pergi lagi ke tempat yang lain, dan hujan kembali turun penuh gelora
Mematahkan semangat yang sudah dipupuk perlahan oleh mereka korban
Memimpikan udara yang sejuk kini berganti menjadi khayalan ketika langit memancarkan cahaya hangat

Jutaan doa, bantuan, simpati, dan empat dikirim untuk mereka yang telah menjadi tumbal
Dari dendam sang matahari kepada manusia yang terus memaki dirinya
Aku ikut mengirim doa melalui awan-awan kelabu di atas sana
Ku kirimkan untuk mereka yang masih bersemangat dan tetap tersenyum saat tinggal di dalam sebuah musibah
Sembari mengamati dan menanti langit cerah yang entah sampai kapan akan tiba

Ada yang bilang, hujan selama beberapa hari ini bukanlah apa-apa dibandingkan hujan yang akan menerjang kota beberapa hari lagi
Aku bergidik, lalu bulu romaku merinding
Membayangkan volume air yang mengalir melalui udara kemudian menerjang bumi dan menggenanginya tanpa kompromi
Bagaimana nasib mereka? Apakah akan lebih lama lagi menahan diri di bawah tenda?

Kebanjiran melanda titik-titik rendah kota, bantuan pun mulai berdatangan dari pelbagai penjuru
Hal yang patut disyukuri oleh semua penduduk, tidak hanya yang sudah menjadi korban tetapi yang belum pun juga harus

Malam ini, di luar sana hujan masih saja turun
Bagai kuda dengan ekornya, badai dan halilintar berteriak silih berganti mengikuti raungan rintik hujan yang bertaburan di atas atap
Aku tak ingin ada korban yang berjatuhan lagi, bahkan sampai mati
Aku tak ingin hujan turun lagi, aku tak ingin matahari jauh dari kami
Kekasihku pun telah menjadi korban dari ulah mereka

Sudah saatnya untuk mensyukuri panas yang diberikan matahari
Atau dingin yang diberikan hujan
Mungkin bencana ini terjadi bukan karena hanya ulah mereka saja, tetapi juga ulah kita
Sudah saatnya untuk membenahi diri sendiri, lalu orang lain
Bukan mencemooh pihak yang dirasa bertanggung jawab atas hal ini
Sebab jika seluruh pribadi melakukan perbaikan terhadap dirinya sendiri, saksikanlah perubahan yang terjadi pada kehidupan bersama kelak

Ah, hujan sudah mulai reda
Mungkin itu hanya harapan kosong belaka
Aku berharap ini akan berakhir secepatnya
Dan kehidupan menjadi lebih bermakana

Rasa rindu memuncak di dalam hati
Suara hujan tak ku dengarkan lagi
Kikuk dalam hiruk pikuk menyaksikan air mata nurani
Kala mata tetap terjaga tetapi ia yang disayang perlahan pergi

Hujan turun begitu derasnya
Lebat tak terkira air yang dibawanya
Aku di sini memandangi cahaya
Yang terdapat potret dirinya

Malam ini tiada bintang atau pun bulan di langit
Padahal seharusnya ini adalah purnama pertama di tahun ini
Langit berwarna ungu sedang bersedih, seperti perawan sedang dipingit
Menyaksikan penderitaan mereka yang tak bisa tertidur sepanjang hari

Kebakaran datang melanda mereka yang lalai
Kebanjiran tiba menyiksa mereka yang tak bersalah
Bencana datang tanpa mengenal kata damai
Membuat jiwa resah, gundah, dan gelisah

Tengah malam menjadi saksi, kesunyian sedang tertidur dan bermimpi
Sisa-sisa air dari atas atap jatuh menuju atap yang lain
Suasana hening dan sepi, membuat kantukku menjalari tubuh inci demi inci
Membuatku merasakan lembutnya kasur yang terbungkus kain

Langit mendung terus bergemuruh
Air di dalam awan masih mengulum penuh
Tak ku sangka setiap tahun, musuh kita adalah air
Tak ku ragu bahwa ini akan segera berakhir

Di tengah malam sehabis hujan reda
Aku menyendiri kembali, melihat awan mendung dari sisi yang berbeda
Aku menyesal, kemudian aku berdoa

Ya Tuhan
Sang Pemilik semesta alam
Hujan ini adalah rahmat-Mu, yang Kau berikan untuk kami
Kami memohon kepada-Mu, jadikanlah hujan yang Kau turunkan hari ini bermanfaat untuk kami
Jadikanlah berkah, dan janganlah Kau jadikan azab

Maafkan aku yang telah bersumpah serapah karena hujan-Mu
Bencana ini adalah ulah kami
Terimakasih karena Kau telah memberikan sumber kehidupan untuk kehidupan kami
Jadikanlah kami sebagai orang yang semakin kuat setelah melewati ujian ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s