Kisah Pohon Apel dan Malaikat

Ini adalah cerita tentang sebatang pohon apel
dengan seorang malaikat kecil yang baik hati

Dahulu kala, ada seorang perempuan kecil yang sedang bermain di tengah hutan
Di sana ia melihat ada biji apel yang tergeletak di atas dedaunan
Karena sifatnya yang baik hati dan penyayang, ia tanam biji apel itu ke taman
Taman dimana tanah yang tinggal di sana adalah tanah tersubur di seantero hutan

Taman itu adalah tempat favoritnya, ia sering bermain dan belajar di sana
Ia memelihara semua benda yang ada
Termasuk biji apel yang kemarin ia tanam
Semuanya ia jaga, hingga si pohon apel sudah besar dan bisa balik menjaganya

Pohon apel itu sangat bahagia memperhatikan bidadari kecilnya sudah berubah menjadi malaikat besar bersayap
Ia sangat suka ketika apelnya dimakan oleh si malaikat
Ia senang bisa menjadi pelindung malaikat kecilnya dari antupan panas matahari atau terjangan dinginnya hujan

Semakin besar tubuhnya, semakin erat akarnya, semakin berlimpah kasih sayangnya untuk si malaikat
Ia tak pernah bisa pergi kemana-mana, bahkan keluar dari taman itu pun tidak
Akarnya memang menggapai daratan dengan radius sepuluh meter di sekitarnya, hanya dedaunannya keringnya yang bisa bepergian
Dalam kematian, mengikuti arah angin, mencoba menemukan pelajaran kehidupan yang belum pernah ia kecap

Semakin lama, pohon apel ini semakin besar, ia sudah menjadi pusat dari keberlangsungan taman
Suatu hari, ia melihat si malaikat pergi
Daunnya yang teratas membuatnya mampu melihat apapun yang berada di hutan
Si malaikat ternyata pergi ke sebuah taman

Tentu saja si pohon apel terkejut
Karena selama mereka hidup bersama, si malaikat selalu meyakinkan si pohon apel bahwa ia takkan lagi mengurusi taman yang lain
Pohon apel tak pernah merasakan sedih karena rasa kasih sayang yang besar si malaikat kepada kehidupan lain
Ia merasa sedih karean si malaikat seperti membohonginya, kata-kata yang si malaikat ucapkan tidak benar

Pohon apel sadar, tidak bisa semua hal yang ada di dalam dirinya diberikan kepada si malaikat
Ketidakmampuannya terasa seperti kutukan baginya
Hingga suatu senja ia melihat si malaikat pergi ke taman lain lagi untuk mencari jawaban atas persoalan hidup yang belum pernah diketahui si pohon apel

Hujan malam hari, bukanlah hal yang menyenangkan bagi si pohon
Karena ia tak mampu melakukan apapun untuk si malaikat
Si pohon tak memiliki otak, ia tak mampu berpikir dengan baik
Hal itulah yang tidak disukai oleh si malaikat

Banyak sudah kesalahan yang si pohon lakukan
Kesalahan demi kesalahan berkumpul menjadi gunung berapi
yang bisa meletus kapanpun bumi mau
Si pohon menyadarinya, namun ia semakin tak berdaya

Si pohon ingin sekali berlari, tapi apa daya
Ia sudah menancapkan akarnya
yang bisa ia lakukan adalah menerbangkan serbuk sarinya ke udara
Dan berharap

Semua hal yang hidup beriringan dengan si pohon sudah besar dan kuat
Tidak ada lagi yang bisa si pohon lakukan selain terus berdiri di tempat benihnya ditanam
Sambil melindungi hal-hal kecil yang kasat mata, bahkan oleh si malaikat
Ia pun berkata pada awan yang selalu menyapanya setiap hari

“Akarku masih tertancap di sini
Dahanku masih melindungi taman ini
Malaikat mengerti bahwa aku tak punya otak dan hati
Namun ia tak menyadari, bahwa aku tak pernah pergi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s