Memilih Pemimpin

merdeka.com

Kepemimpinan akan menentukan arah perjalanan sekelompok umat atau bangsa. Kepemimpinan adalah sebuah amanah yang tidak hanya dipertanggungjawabkan di hadapan rakyat yang memilihnya melalui sebuah sistem yang sudah disepakati, akan tetapi pertanggungjawaban yang lebih besar lagi yaitu pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.

Bagi umat Muslim, sudah tahu hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Daud?
Apabila bepergian (diantara kamu) tiga orang, hendaklah satu diantaranya menjadi amir“. (HR. Abu Daud)
Yang dimaksud amir di sini adalah Pemimpin. Kalau perjalanan tiga orang saja Rasulullah mengharuskan ada pimpinan perjalanan, apalagi dalam perjalanan sebuah bangsa yang jumlah penduduknya lebih dari 220 juta orang? Perjalanan yang tidak hanya hitungan hari, tapi hitungan 5 tahun ke depan.

Hakikat Kepemimpinan

Pertama
Kepemimpinan bukan sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, melainkan merupakan ikatan perjanjian antara dia dengan Tuhan.

Kedua
Kepemimpinan itu pada hakikatnya sebuah keteladanan dimana seorang pemimpin harus mampu memberikan contoh yang baik dan benar dalam bersikap dan bertingkah laku kepada rakyatnya.

merdeka.com

Ketiga
Kepemimpinan mengandung nilai edukasi, dimana seorang pemimpin harus mampu menunjuki serta mebimbing rakyatnya kepada jalan Sila Pertama Pancasila.

Keempat
Kepemimpinan merupakan amanah dari Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan. TUgas dan fungsi kepemimpinan juga terletak pada kemampuan memahami, menundukkan, memanfaatkan, menjaga, dan melestarikan alam.

Kelima
Pemimpin adalah orang yang mengurusi urusan masyarakat. Bukan hanya golongan tertentu, tapi seluruh masyarakat. Pemimpin juga tidak bersifat mutlak.

merdeka.com

Kriteria Pemimpin yang Baik

1. Taat Beragama
Pemimpin yang baik adalah orang yang taat beragama.

2. Dewasa
Pemimpin yang mampu berpikir dengan baik, dan mampu membedakan antara yang hak dan kewajiban, antara wewenang dan batasan, antara yang benar dan yang salah, antara yang baik dan buruk.

3. Adil
Tidak berat sebelah atau memihak salah satu golongan, terutama kelompok yang berkaitan dengan dirinya atau menguntungkan dirinya.

4. Amanah, Profesional, dan Mempunyai Pengetahuan
Dengan berlaku amanah dan mempunyai pengetahuan di bidangnya, maka seorang pemimpin akan dipercaya dan bisa dengan mudah memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya.

5. Sehat Fisik dan Mental
Seorang pemimpin seringkali dituntut bekerja keras tidak mengenal waktu serta banyak mendapat tantangan dan serang dari lawan-lawan politiknya, hal ini mengharuskan seorang pemimpin sehat jasmani dan rohani.

6. Tidak Meminta Jabatan
Kepada umat Muslim, sudah tahu hadits Rasulullah yang ini?
“Rasulullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Ra: ‘Wahai Abdul Rahman bin Samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepimimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggulanginya‘.”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Atau yang ini:
“Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari r.a, ia berkata, “Aku dan dua orang dari kaumku datang menghadap Nabi saw, Salah seorang mereka berkata, ‘Ya Rasulullah SAW angkatlah kami sebagai pejabatmu.’. Satu orang lagi juga mengatakan perkataan yang sama. Lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Kami tidak akan memberikan jabatan pemerintahan ini kepada orang yang meminta dan berambisi untuk mendapatkannya.’.”.”. (HR Bukhari [7149] dan Muslim [1733])

7. Tidak Menerima Hadiah
Seorang rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin biasanya mempunyai maksud tersembunyi, entah ingin mendekati atau mengambil hati. Bahkan kebiasaan menerima hadiah bagi para pemimpin itu identik dengan “menyogok pejabat”

8. Tegas
Ini merupakan sikap seorang pemimpin yang selalu diidam-idamkan oleh rakyatnya. Tegas bukan berarti otoriter, tetapi yang berani mengatakan benar adalah benar dan salah ada salah.

merdeka.com

Siapapun nanti yang jadi Presiden Indonesia, mari kita doakan beliau mampu menempatkan diri dan menjalankan tugas sesuai dengan amanah yang diemban, dan tetap konsisten berada dalam rel kepemimpinannya, sehingga tak ada alasan untuk rakyat atau siapapun yang menyalahkan dirinya.

Banyak persoalan dan masalah yang terjadi yang dihadapi bangsa yang sedang “demam tinggi” ini. Marilah kita doakan Presiden Indonesia kelak adalah orang yang berani melakukan langkah-langkah kebijakan dan kebijaksanaannya. Cepat menetapkan langkah kebijakan dengan segala resiko, mampu menimbang manfaat dan mudharatnya. Tidak terlalu banyak menimbang dengan dalih mencari resiko terkecil, sementara permasalahan dan persoalan bangsa semakin banyak dan bertumpuk.

Istilahnya, jika kelamaan menimbang dengan berbagai persoalan yang menggunung, akhirnya justru timbangannya yang rusak. Kalau timbanganya sudah rusak maka hasil penimbangannya pun akan tidak pas, keliru, dan dapat mengecewkana. Maka segera tentukan pilihan dengan cerdas, sebelum timbangannya menjadi rusak.

Marilah kita berdoa semoga pilihan kita tidak keliru. Tidak menjadikan tingkat kesalahan dalam mengurus bangsa ini menjadi kian besar. Dan semoga Presiden Indonesia nanti bukanlah pemimpin abai. Aamiin.

Sumber:
Buletin Da’wah
No. 27 Thn. XLI, Amir Syaifa Yasin, MA
No. 25 thn. XLI, Dr. Ahmad Kosasih, MA

Lentera Da’wah
No. 388 Th. VII, Ahmad Salimin Dani, MA

Lembar Risalah
No. 45 Thn. XVII, H.M. Abdul Aziz Ritonga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s