Membangkitkan Orang Mati dan Pandangan Agama Mengenai Itu

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Sebelumnya Saya ucapin dulu bagi teman-teman yang telah sukses menjalankan ibadah puasa Ramadhan hingga kemudian berbahagia merayakan Idul Fitri.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435H . Taqoballalahu Minna Wa Minkum.

Cara Membangkitkan Orang Mati Lewat Sains

Para ilmuwan memiliki gagasan tentang cara untuk menyadarkan seseorang yang sudah dinyatakan meninggal. Gagasan tersebut dibahas dalam pertemuan New York Academy of Science, menghadirkan Dr. Sam Parnia dari State University of New York di Stony Brook, Stephan Meyer dari Columbia University, dan Lance Becker dari University of Pennsylvania.

Dalam pertemuan itu, dibahas bahwa kunci penyadaran kembali atau resusitasi pada orang yang baru saja meninggal itu ialah proses hipothermia atau pendinginan tubuh dan pengurangan suplai oksigen. Gagasan ilmuwan didasarkan pada pandangan baru tentang kematian.

Sebelumnya, kematian didefinisikan sebagai saat di mana jantung sudah berhenti berdetak dan paru-paru berhenti bekerja sehingga individu tidak bernafas. Dalam pandangan baru, kematian bukan dipandang sebagai peristiwa yang terjadi secara serentak di semua bagian tubuh, namun sebagai proses bertahap. Saat detak jantung dan nafas individu terhenti, sel individu sebenarnya masih hidup.

Kematian total, kiranya bisa dikatakan demikian, baru terjadi ketika sel-sel otak kekurangan oksigen akibat terhentinya jantung dan nafas, sehingga rusak dan mengirim sinyal bagi sel-sel lain akan saat kematian. Dalam gagasan para pakar, ada jeda antara henti jantung dan nafas dengan kematian total. Jeda itu yang kemudian dimanfaatkan untuk melakukan tindakan sehingga orang yang sebelumnya dinyatakan telah mati bisa sadar kembali.

Proses tersebut harus dilakukan secara hati-hati. Salah satu perhatiannya, upaya menyadarkan orang yang telah meninggal harus tidak mengakibatkan kerusakan otak akibat jantung yang berhenti menyuplai oksigen. Diberitakan Huffington Post, Senin (21/10), kunci penyadaran kembali tanpa merusak jaringan otak salah satunya adalah hipothermia, di mana tubuh didinginkan beberapa derajat lebih rendah daripada suhu nromalnya, 37 derajat Celsius.

Berdasarkan studi, hipothermia bisa mencegah kerusakan sel otak dengan menurunkan permintaan oksigennya. Namun, ini tetap ada batasannya. Ada momen di mana kerusakan memang sudah terlalu besar sehingga tak bisa dikembalikan.

Kemudian, setelah prosedur hipothermia dan jantung bekerja, kunci lainnya adalah menjaga suplai oksigen. Suplai oksigen yang tiba-tiba besar justru akan berdampak negatif karena akan merusak jaringan otak. Hipothermia terbukti membantu prosedur resusitasi.

Namun, bahkan di Amerika Serikat, tak semua rumah sakit menerapkan prosedur hipothermia. Hal ini menjadi keterbatasan untuk mengupayakan resusitasi yang berhasil. Tentang suplai oksigen, Parnia menuturkan, suplai harus diatur dengan mesin agar jumlah oksigen yang dialirkan sesuai yang dibutuhkan.

Penyadaran kembali orang yang telah meninggal ini menimbulkan pertanyaan etis. Pasalnya, upaya menyadarkan kembali orang yang telah berjam-jam mengalami henti jantung berisiko pada kerusakan otak. Siapa yang kemudian bertanggung jawab melakukan proses resusitasi lebih komprehensif?

Mayer mengungkapkan, keterbatasan saat ini adalah pengetahuan tentang kerusakan otak yang masih terbatas. Iluwan belum mengetahui seberapa lama kerusakan bertahan dan apakah bisa dikembalikan ke kondisi semula. Ditambahkan Mayer, masih perlu pembelajaran lebih lanjut. Namun, ia mengatakan bahwa ilmuwan juga tak bisa begitu saja mengatakan bahwa kerusakan otak tak bisa dikembalikan.

Lalu, bagaimana kita menyikapinya?

Jawabannya akan Saya kembalikan kepada teman-teman, yang ingin Saya coba bantu sampaikan adalah beberapa pandangan dari agama-agama yang eksisi di Indonesia mengenai kematian dan kebangkitan orang mati tersebut.

Pandangan Islam Mengenai  Hal Tersebut

Sebelum  membicarakan  wawasan  Al-Quran  tentang  kematian, terlebih  dahulu  perlu  digarisbawahi  bahwa kematian dalam pandangan Al-Quran tidak hanya terjadi  sekali,  tetapi  dua kali. Surat Ghafir ayat 11 mengabadikan sekaligus membenarkan ucapan orang-orang kafir di hari kemudian:

“Mereka berkata, ‘Wahai Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami menyadari dosa-dosa kami maka adakah jalan bagi kami untuk keluar (dari siksa neraka)?”

Kematian  oleh   sementara   ulama   didefinisikan   sebagai “ketiadaan  hidup,”  atau  “antonim  dari  hidup.”  Kematian pertama dialami oleh manusia sebelum kelahirannya, atau saat sebelum  Allah menghembuskan ruh kehidupan kepadanya; sedang kematian kedua, saat ia meninggalkan dunia  yang  fana  ini. Kehidupan  pertama  dialami  oleh  manusia pada saat manusia menarik dan menghembuskan nafas di dunia,  sedang  kehidupan kedua  saat  ia berada di alam barzakh, atau kelak ketika ia hidup kekal di hari akhirat.

Pembicaraan  tentang kematian bukan  sesuatu  yang  menyenangkan.  Namun  manusia bahkan  ingin hidup seribu tahun lagi. Ini, tentu saja bukan hanya ucapan Chairil Anwar, tetapi Al-Quran  pun  melukiskan keinginan  sekelompok  manusia  untuk hidup selama itu (baca surat Al-Baqarah [2]: 96). Iblis berhasil  merayu  Adam  dan Hawa   melalui   “pintu”   keinginan   untuk   hidup   kekal selama-lamanya.

“Maukah engkau kutunjukkan pohon kekekalan (hidup) dan kekuasaan yang tidak akan lapuk?”. (QS Thaha [20]: 120).

Banyak faktor yang membuat seseorang enggan mati, seperti:

  1. Karena ia tidak mengetahui apa yang akan
    dihadapinya setelah kematian;
  2. Karena  menduga bahwa  yang  dimiliki  sekarang  lebih  baik  dari yang akan
    didapati nanti;
  3. Karena membayangkan betapa sulit  dan  pedih  pengalaman  mati  dan  sesudah mati;
  4. Karena khawatir  memikirkan  dan  prihatin  terhadap keluarga  yang ditinggalkan;
  5. Karena tidak mengetahui makna hidup dan mati; dsb.

Sehingga semuanya cemas dan merasa takut akan kematian.

Manusia  menyaksikan  bagaimana  kematian tidak memilih usia atau tempat, tidak  pula  menangguhkan  kehadirannya  sampai terpenuhi  semua  keinginan.  Di  kalangan  sementara orang, kematian menimbulkan kecemasan,  apalagi  bagi  mereka  yang memandang  bahwa hidup hanya sekali yakni di dunia ini saja. Sehingga tidak sedikit yang pada akhirnya menilai  kehidupan ini  sebagai siksaan, dan untuk menghindar dari siksaan itu, mereka menganjurkan agar melupakan kematian dan  menghindari sedapat  mungkin segala kecemasan yang ditimbulkannya dengan jalan melakukan apa saja secara bebas  tanpa  kendali,  demi mewujudkan  eksistensi manusia.

Sebenarnya akal dan perasaan  manusia  pada  umumnya  enggan menjadikan  kehidupan  atau  eksistensi mereka terbatas pada puluhan tahun saja. Walaupun manusia menyadari bahwa  mereka harus mati, namun pada umumnya menilai kematian buat manusia bukan berarti kepunahan. Keengganan manusia menilai kematian sebagai  kepunahan  tercermin antara lain melalui penciptaan berbagai cara  untuk  menunjukkan  eksistensinya.  Misalnya, dengan  menyediakan  kuburan,  atau  tempat-tenapat tersebut dikunjunginya dari saat ke  saat  sebagai  manifestasi  dari keyakinannya  bahwa  yang telah meninggalkan dunia itu tetap masih hidup walaupun jasad mereka telah tiada.

Hubungan antara yang hidup dan  yang  telah  meninggal  amat berakar  pada jiwa manusia. Ini tercermin sejak dahulu kala, bahkan jauh sebelum kehadiran agama-agama besar dianut  oleh umat  manusia  dewasa  ini.  Sedemikian berakar hal tersebut sehingga orang-orang Mesir  Kuno  misalnya,  meyakini  benar keabadian manusia, sehingga mereka menciptakan teknik-teknik yang dapat mengawetkan  mayat-mayat  mereka  ratusan bahkan ribuan tahun lamanya.

Pandangan Kristen Mengenai Kematian

Ada beberapa kata yang digunakan untuk kematian dalam Alkitab. Dalam Bahasa Ibrani (PL) kata yang digunakan adalah mawet, kata ini berarti keadaan di mana orang tidak hidup. Ketika seseorang mengalami mawet maka dia masuk ke sheol (dunia orang mati).

Sheol adalah kondisi di mana manusia tidak beraktivitas, tidak memiliki prospek kemajuan, tidak dapat melarikan diri (Ay. 3 17-20; 7:9; 17:16). Ketika seseorang berada di sana maka dia terputus dari Tuhan dan tidak dapat mempersembahkan pujian atau permohonan untuk keselamatannya (Mzm 6:6).

Dalam Bahasa Yunani (PB) ada beberapa kata yang digunakan untuk kematian. Kata yang paling umum adalah thanatos, kata ini sebenarnya berarti kematian secara intelektual, kematian spiritual dan kematian ini tidak dapat dihindari. Karena itu penting bagi seseorang untuk mati dengan mulia, bahkan berjuang dengan semangat tanpa ketakutan akan kematian. Tapi pada saat yang  lain thanatos adalah ketika manusia lepas dari penjara tubuh dan bebas di alam jiwa. Di alam tubuh manusia terbelenggu dan hanya melihat bayang-bayang dari kesempurnaan, tetapi di alam jiwa kesempurnaan yang sesungguhnya itu benar-benar ada.

Kata lain yang digunakan adalah apoteikno dan teleutao, kata ini digunakan dalam konotasi bahwa seseorang setelah mengalam apoteikno maka dia akan dibangkitkan oleh kematian Yesus. Kata berikutnya adalah katheudo, koimomai, dan hypnos, secara harafiah kata ini sebenarnya berarti tidur. Misalnya digunakan Yesus untuk peristiwa pembangkitan Lazarus.

Dan kata yang terakhir adalah nekros, dalam bahasa Yunani pada umumnya, kata ini digunakan untuk menunjukkan kondisi tubuh manusia atau hewan yang lagi tidak berjiwa, ketika psyche/jiwa dan nous/akal tidak lagi mengontrol tubuh manusia. Sedangkan dalam PB kata nekror digunakan dalam kerangka yang lain, yaitu bahwa kondisi ini bukan kondisi final manusia, bukan sebuah akhir, karena kata nekros dipandang dalam terang kebangkitan Yesus, artinya bahwa nekros telah dikalahkan oleh Yesus.

Pandangan Hindu Mengenai Kematian

Agama Hindu percaya bahawa penjelmaan dan kematian adalah sebagai pandangan jiwa beralih daripada satu badan ke satu laluan untuk mencapai Nirwana, iaitu syurga. Kematian adalah satu peristiwa yang menyedihkan. Manakala sami-sami Hindu menekankan pengebumian adalah satu penghormatan dan tanda peringatan kepada si mati.

Masyarakat Hindu membakar mayat mereka, percaya bahawa pembakaran satu mayat menandakan pembebasan semangat dan api adalah mewakili shiva, iaitu dewa pemusnah. Ahli-ahli keluarga akan berdoa di sekeliling badan secepat mungkin selepas kematian. Orang akan cuba mengelak daripada menyentuh mayat.

Pandangan Buddha Mengenai Kematian

Kematian dalam ajaran Buddhis biasa disebut lenyapnya indra vital terbatas pada satu kehidupan tunggal dan bersamaan dengan fisik kesadaraan proses kehidupan. Kematian merupakan transformasi arus kesadaran seseorang yang terus mengalir dalam satu bentuk kehidupan ke bentuk kehidupan yang lain. Hal ini dapat disebabkan oleh kebodohan batin ataupun kemelekatan. Pada akhir kehidupan fisik, pada saat bersamaan terdapat pemutusan hubungan antara proses mental dan tubuh, yang dengan cepat fisik akan mengalami kelapukan. Tetapi kelahiran lagi dengan cara yang tepat terjadi dengan segera pada beberapa alam kehidupan. Dalam buddhis tidak dikenal adanya sosok entitas abadi yang “mungkin” juga kita kenal sebagi roh abadi yang tidak bertransformasi ataupun satu sosok entitas kehidupan tunggal.

Dalam literatur medis dapat dikatakan bahwa kematian otak adalah kematian manusia. Kriteria kematian otak yang dapat diterima adalah kematian pada batang otak. Batang otak berada di bagian bawah otak manusia. Fungsi batang otak berkaitan dengan pengaturan pernafasan, detak jantung, dan tekanan darah. Secara umum dalam tradisi Buddhis menyepakati bahwa kematian dalam ajaran Buddha tidak ditentukan semata-mata oleh faktor fisik. Faktor batin yang mencakup kesadaran dianggap berperan sebagai faktor utama kematian.

“Sesungguhnya akhirat itu lebih baik untukmu daripada dunia,”. (QS Al-Dhuha [93]: 4).

“Bagi Paulus, kematian adalah keuntungan (Flp. 1:21). Baginya hidup adalah Kristus dan mati serta diam bersama-sama dengan Kristus adalah jauh lebih baik (Flp. 1: 21, 23). Mati tidak hanya keuntungan, tapi jauh lebih baik. Mati baginya berarti “diam bersama-sama dengan Kristus.”.

Maka, kematian dan usia tua merupakan bagian yang alami dari dunia. Jadi, orang bijaksana tidak akan berduka cita, dengan melihat sifat dunia. (Sutta Nipata)
 
Kesimpulan:
Ada beberapa hal yang bisa dipetik dari pandangan-pandangan di atas.
  1. Kematian merupakan hal yang hakikatnya dicemaskan dan ditakuti oleh manusia;
  2. Secara umum, kematian manusia bukanlah merupakan akhir. Melainkan perjalanan yang baru menuju kehidupan yang lebih kekal;
  3. Selama kita terus hidup dalam kebaikan, selalu berniat dan menggunakan cara yang baik dalam melakukan segala aktivitas di dunia, yakinlah bahwa kita akan senantiasa berada di dalam perlindungan dan keberkahan Tuhan.
  4. Untuk itu, semestinya manusia tidak perlu takut akan kematian, sampai-sampai menciptakan teknologi membangkitkan orang yang telah mati, karena mau tidak mau hal tersebut dapat membawa efek buruk bagi umat manusia yaitu kesombongan.

Mohon koreksi jika ada yang salah. Segala kekurangan berasal dari Saya, dan segala ilmu dan pengetahuan berasal dari Allah SWT. Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

Sumber:

  1. National Geographic
  2. Wawasan Al-Quran, “Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat”, “DR. M. Quraish Shihab M.A.”, Penerbit: Mizan
  3. Kematian dalam Teologi Kristen
  4. Kematian Menurut Perspektif Hindu
  5. Ajaran Buddha Tentang Kematian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s