Tidak Lupa

Tersenyum bukanlah hal yang bisa dikompromikan

Aku terlalu lelah untuk menangis, terlalu letih untuk bersenang

Kepala yang terus menunduk, tak pernah menyesali kekecewaan

Setiap matahari mengilusikan pergerakannya, helaan nafasku semakin panjang

 

Aku pernah mendengar seorang pebunuh berkata kepadaku

“Dalam situasi sesulit apapun, lebih baik marah, ketimbang Kau putus asa.”.

Tetapi, siapa yang bisa menenggak kemarahanku? Hantu?

Justru hantu di sebelah kiriku merayuku agar mati di tanganku sendiri, rayuan yang tak mungkin ku terima

 

Bunuh diri adalah sebuah kesalahan dalam mengekspresikan keputusasaan

Aku pernah mendengar penjaga makam berkata

“Manusia tidak hidup sendiri, manusia hidup bersama dengan manusia lainnya. Manusia saling berbagi satu sama lain, dalam bahagia bahkan duka nestapa”

Tetapi, kepada siapa ku tuangkan kepedihan ini? Setan?

 

Pebenci akan terus membenci, pecinta akan terus mencinta?

Tidak, pebenci akan mencintai kebenciannya dan pecinta akan membenci metamorfosis yang terjadi pada tubuhnya

Mengatakan kebencian dan cinta, sungguh membuat jasadku merana

Meludahkan darah, mencengkeram mata, dan membenturkan kepala

 

Rambut-rambut yang rontok, tak pernah menyalahkan kulit kepala

Tak pernah pula menyalahkan tanganku yang terlalu kasar merenggut

Aku pun begitu, aku tak pernah membenci cinta yang kini membenciku

Namun aku memiliki satu keinginan, semoga sang cinta tidak lupa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s