Pahala Berbakti Kepada Orangtua

Selesai curcol, sekarang mau sharing-sharing aah.

Dewasa ini, sering banget terjadi kasus-kasus yang bisa dibilang sangat menggelitik hati kita. Fenomena perilaku yang menggambarkan kedurhakaan seorang anak kepada kedua orang tuanya. Saya bukan orang sempurnya yang selalu berbakti dengan orang tua. Ada kalanya Saya juga membangkang, tapi tidak pernah dengan sesunggunya Saya lakukan. Karena tak lama setelah itu Saya langsung minta maaf (ya walaupun akan begitu lagi sih). Jadi izinkan Saya sharing ini untuk pribadi Saya pertama, dan kedua untuk teman-teman yang bersedia membaca ini. Semoga ada berkah dan manfaat yang bisa ditemukan di dalam tulisan ini. Aamiin.

Apakah kita lupa, bagaimana ibu kita tatkala mengandung, menyusui, merawat, menyapih, hingga membesarkan kita sampai menjadi manusia yang bisa mandiri seperti sekarang ini? Apakah kita juga lupa, bagaimana kesetiaan, kesabaran, dan perjuangan ayah kita untuk mendampingi ibu kita yang sedang mengandung, menyusui, hingga membesarkan kita?

Beneran deh, berbakti kepada kedua orang tua kita semasa hidup maupun setelah matinya mereka adalah kewajiban kita sebagai seorang anak selama kita masih hidup. Sedangkan mendurhakai mereka, baik ketika hidup atau setelah mereka mati kata pak ustadz termasuk dosa besar yang diancam oleh Allah dengan siksa neraka.

Selain sebagai kewajiban dengan berbakti kepada kedua orang tua, kita akan mendapatkan ganjaran yang luar biasa besarnya. Apa aja sih ganjaran yang Saya sebutin tadi?

Ganjaran Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Kata pak ustadz sesungguhnya Allah telah menjanjikan kebaikan yang banyak di dunia bagi kita-kita yang menjaga baktinya kepada orang tua, plus menyediakan pahala yang besar bagi kita di akhirat kelak.

Kebaikan yang akan Kita Dapatkan Di Dunia

Akan Dipanjangkan Umur dan Diluaskan Rezekinya

Dari Anas bin Malik, dia mendengar Rasulullah Saw. bersabda
Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim.”. (HR. al-Bukhari)

Doanya Dikabulkan

Barangsiapa berbakti kepada kedua orangtua, niscaya ia akan mendapatkan keridhaan Allah. Apabila ia sudah mendapatkan keridhaan-Nya, maka tidak ada penghalang lagi antara doanya dengan Allah. Jika demikian, maka Allah pasti akan mengabulkan setiap doa yang ia panjatkan. Gitu kata pak ustadz. Lagipula kan firman Allah gini di Surat Ghafir ayat 60 “Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.“.

Pak ustadz pernah cerita dulu ada seseorang bernama Uwais bin Amir Al-Qarni, beliau adalah salah seorang tabi’in yang dikenal sebagai anak yang sangat berbakti kepada ibunya. Di antar keutamaan yang Allah berikan kepada Uwais adalah doa yang tidak tertolak kaena baktinya yang begitu besar untuk ibunya.

Haditsnya gini “Dirawayatkan dari Umar, ia berkata ‘aku pernah mendengar Rasulullah bersabda’, Sesungguhnya tabi’in yang terbaik ialah seorang laki-laki yang dikenal dengan nama Uwais, dia memiliki seorang ibu (dimana dia sangat berbakti kepada ibunya). Dia pernah terkena penyakit kusta. Mintalah kepadanya agar memohonkan ampun kepada Allah untuk kalian.“. (HR. Muslim No. 2542).

Saya sih gak begitu paham sama hadits ini, karena yang Saya tahu tabi’in itu adalah umat Islam yang masa hidupnya berada di zaman Sahabat Nabi, dan gak ngalamin hidup di masa Nabi Muhammad Saw. Terlepas dari pemahaman itu, kita udah punya contoh tentang seorang anak yang punya “kesaktian” dari Allah karena berbakti kepada ibunya.

Anak-anak Keturunan Kita Akan Berbakti Pula Kepada Kita

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, Rasulullah bersabda, Berbaktilah kalian kepada ayah-ayah kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbakti kepada kalian. Peliharalah kesucian diri kalian dari mengganggu istri orang, niscaya istri-istri kalian akan menjaga dan memlihara kesucian diri mereka.” (al mustadrak Lil Hakim No. 7259).

Akan Dicintai keluarga dan Tetangga

Memang sih, kehidupan nyata gak seenak seperti yang dibayangkan. Saya pun mengalami hal itu. Tapi yaa seenggaknya kita masih bisa berperilaku dan berpikiran positif ya. Positif-positifnya aja yang diambil.

Orang yang senantiasa berbuat baik itu udah kaya lebah yang menghasilkan madu yang manis. Dimanapun ia hinggap, maka di tempat itulah orang-orang akan mencintainya. Begitu jgua dengan orang yang senantiasa menjaga baktinya kepada orangtuanya, selalu berbuat baik kepada keduanya, baik selama hidup atau setelah mati, juga menjaga silaturahim dengan kerabat dan orang-orang yang menjadi teman hidup keduanya.

Aduuh, manis banget itu kalo kita bisa kayak gitu. Tapi kata pak ustadz, gak ada alasan untuk kita sampai-sampai gak bisa ngelakuin hal itu. Kata pak ustadz jika kita melakukan itu, niscaya kita akan dicintai para anggota keluarga kita yang lain, dan para tetangga juga akan ikut sayang sama kita, karena mereka juga ikut ngerasain kebaikan dari kita.

Dijauhkan dari Kematian yang Buruk

Pak ustadz pernah ngasih tau gini “Dari Ashim, bahwa Rasulullah Saw bersabda, Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya, dilapangkan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk (su’ul khatima), maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menjalin tali silaturahim.” (al-Mustadrak Lil Hakim No. 7280)

Mendapatkan Keridhaan Allah

Pak ustadz juga gak pernah lupa ngingetin kita, sebuah hadits yang menurut Saya adalah hadits yang paling sakti dalam urusan bakti kepada orang tua. Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, “Ridha Allah terletak pada keridhaan orangtua, dan murka Allah terletak pada kemurkaan orangtua.” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 2).

Keutamaan dan Pahala yang Akan Kita Dapat Di Akhirat

Diriwayatkan oleh Abu Darda’ bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Orangtua adalah pintu Surga yang paling tengah, maka sia-siakanlah pintu itu atau peliharalah ia.” (HR. at-Tirmidzi No 1900).

Merupakan Salah Satu Amalan yang Sangat Dicintai Allah

Pak ustadz pernah cerita gini “Dari Abdullah bin Mas’udz, ia berkata Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allah?’ Kemudian beliau bersabda, Shalat pada waktunya, berbakti kepada kedua orangtua, dan berjihad di jalan Allah.” (HR. an-Nasa’i No. 610).

Menjadi Penghapus Dosa

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata “Ada seorang laki-laki menemui Nabi dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, Saya telah melakukan dosa besar, apakah masih ada pintu taubat untukku?’ Nabi bersabda, ‘Apakah kamu masih memiliki seorang ibu?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Tidak’ Nabi bersabda lagi, ‘Apakah kamu masih memiliki seorang bibi (dari pihak ibu)?’ Laki-laki itu menjawab ‘Ya.’ Lantas Nabi bersabda ‘Maka hendaklah kamu berbakti kepadanya.” (HR. at-Tirmidzi No. 1904).

Bayangin tuh, laki-laki itu sampa diperintahkan untuk berbuat baik kepada bibinya karena kedudukan bibi itu ibarat seorang ibu. Hal ini sebagaimana hadits yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari.

Dari Al-Bara’ bin ‘Azib, Rasulullah bersabda “Bibi (dari pihak ibu) kedudukannya ibarat seorang ibu.” (HR. al-Bukhari  No. 2699).

Ilmu baru lagi itu, buat kalian yang mengalami hal yang sama dengan hal itu. Inget yaa, bibi itu kedudukannya ibarat ibu kita sendiri. Gimana kalo bibi kita jahat? Balik lagi ke yang tadi, ambil positif-positifnya aja.

Berbakti Kepada Orang Tua Lebih Didahulukan daripada Jihad Di Jalan Allah

Waktu itu pak ustadz juga pernah ngasih tau sebuah hadits. Ada hubungannya dengan persoalan mengenai ISIS. Haditsnya gini “Dari Abdullah bin Amr bin Ash, ia berkata, Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata, ‘Aku berbaiat kepada engkau untuk berhijrah dan berjihad semata-mata karena berharap pahala dari Allah.’ Lantas Rasulullah Saw bersabda, ‘Apakah salah satu dari kedua orangtuamu masih hidup?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Ya. bahkan keduanya masih hidup.’ Nabi bersabda, ‘Apakah kamu ingin mendapatkan pahala dari Allah?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Ya.’ Kemudian Rasulullah Saw bersabda, ‘Kembalilah kepada kedua orangtuamu dan berbuat baiklah,” (HR. Muslim No. 2549).

Nah, bayangin lagi tuh. Mau jihad, malah disuruh pulang kepada orangtua. Buat kalian yang temennya ada yang mau berangkat demo BBM, coba terangin itu hadits. Tanyain kepada mereka, orangtua mereka setuju gak? Ridha gak? Kalo gak, cukup pulang aja. Selesai. Hehe.

Saya minta maaf atas kesalahan penyampaian, penulisan, dan kesalahan lainnya yang muncul dari tulisan ini. Saya juga minta koreksinya atas kesalahan tersebut. Semoga kita semua menjadi orang yang terus menerus berbakti untuk kedua orangtua kita, ketika mereka masih hidup dan bahkan setelah mereka mati. Aamiin.

Makasih untuk pak ustadz di Buletin Dakwah An-Nur Saed as-Saedy. Semoga selalu sehat, panjang umur, penuh berkah dan rezeki, dan bahagia di dunia dan akhirat. Aamiin.

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s