Secangkir Sejarah Gang Dolly

Gang Dolly, Surabaya, tetap ditutup 19 Juni 2014 lalu. Tetapi, begitulah. Tidak mudah. Penutupan Gang Dolly di kawasan Kampung Kupang menuai kontroversi. Ada pro, ada kontra. Tetapi sesungguhnya protes pertama sudah terjadi puluhan tahun sebelumnya. Ini menyangkut penggunaan nama “Dolly”.

Siapa yang pertama melayangkan protes? Ya, Dolly sendiri. “Kenapa kok (pakai) namaku? Padahal germo di sana kan banyak?” tanyanya pada tahun 1990-an.

Sosok Dolly memang seperti legenda. Legenda dalam dunia persyahwatan di Surabaya. Sohor, tetapi jarang sekali bisa dijumpai.

Orang kerap berasumsi ia adalah seorang germo, perempuan, keturunan Belanda. Ada yang bilang namanya Dolly van der Mart. Desas-desus lain menyebutkan dia sebenarnya seorang lelaki. Sebab sebagai germo panggilannya bukan “Mami” tetapi “Papi Dolly”. Benarkah? Tidak. Lalu?

Jadi, siapa sebetulnya Dolly?

Dolly adalah nama panggilan. Nama lengkapnya Advenso Dollyres Chavit. Chavit adalah nama ayahnya, seorang Filipina. Ibunya bernama Herliah, orang Jawa. Dolly lahir sekitar tahun 1929.

“Aku ini hanya sekolah mindho (level SMP). Itu pun tidak tamat karena ada perang. Ibuku pun bukan orang yang mampu. Maka hidupku biasa-biasa saja, tidak ada peningkatan,” tutur Dolly kepada Bambang Andrias, kontributor Majalah Berita Bergambar Jakarta-Jakarta, 23 tahun silam.

Dolly mengenang kehidupan keluarganya yang cukup relejius. “Orangtua mendidikku untuk sering ke geraja. Pokoknya harus selalu ingat Tuhan,” tambahnya.

Namun entah kenapa perangai Dolly di luaran menjadi sungguh berbeda. Dolly yang tomboi cenderung memberontak. “Umur 16 tahun aku mulai merokok. Waktu itu (rokok) yang terkenal Escort, Commodore atau Kansas,” kenangnya. Perempuan merokok bukanlah hal umum pada masa itu.

Dolly boleh tomboi. Tetapi itu tak menutupi kecantikannya. Sambil menunjuk foto masa muda, Dolly berkisah betapa seksi dia, diiringi tawa terkekeh-kekeh.

Menjelang umur 20 Dolly menikah dengan Soukup alias Yakup, seorang kelasi Belanda. Dari pernikahan itu lahirlah anak lelaki. Tetapi belum lagi sang anak masuk ke umur lima tahun, Yakup sang suami meninggal dunia.

Dolly yang cantik pun mulai menghadapi krisis keuangan. Mana sang anak kerap merengek meminta ini-itu. Semisal es krim, yang pada masa itu termasuk jajanan mahal. Untuk membesarkan sang anak serta mencukupi kebutuhan sehari-hari Dolly butuh biaya.

Maka babak baru dalam kehidupannya pun bergulir. Mungkin terdengar klise. Tetapi ia mengaku terpaksa saat memutuskan untuk melangkah ke dunia prostitusi pada awal tahun 1950-an.

Kecantikan Dolly dan kefasihannya berbahasa Belanda membuat banyak laki-laki mencarinya. Dolly dengan mudah menjadi idola. Khususnya bagi para eksptariat yang baru turun dari kapal. “Aku ini cantik. Tubuhku tinggi-ramping. Banyak lelaki tergila-gila,” jelas Dolly.

Dolly biasa meladeni lelaki di Hotel Simpang atau LMS. Dolly mengaku tidak pernah meminta bayaran uang kepada lelaki yang mengencaninya. “Aku ini pelacur kelas atas. Aku enggak pernah mau dibayar,” jelasnya. Kompensasinya adalah: ia hanya mau menerima berbagai barang mahal. Dalam istilah Dolly, “Aku cuma menerima ‘kado’.”

Banyak lelaki ingin menikahi Dolly. Tetapi permintaan itu ditampiknya. Dolly memilih menjadi single parent. Alasannya simpel. Ia tak ingin satu-satunya anak lelaki yang ia miliki menerima perlakukan kasar dari ayah tiri.

Awal 1960-an Dolly hijrah ke Kembang Kuning. Inilah komplek pelacuran di Surabaya. Ia kemudian diasuh oleh Tante Beng. Nama terakhir adalah nama mucikari sohor pada masa itu.

Sekitar delapan tahun ia menjadi anak kesayangan Tante Beng. Pada masa-masa itu ia mulai mengumpulkan aset. Pelajaranngegermo, menurut Dolly juga ia dapatkan dari sang mucikari.

Sekitar tahun 1969 Dolly memutuskan pindah ke kawasan Kupang Gunung. Di sanalah ia membangun rumah, di bekas lahan kuburan cina. Dolly mulai mengusahakan “wisma” – istilah lain untuk rumah bordil.

Dari satu wisma, berkembang hingga empat. Ada Istana Remaja, Mamamia, Nirmala, lalu Wisma Tentrem. Setiap wisma menampung sekitar 28 pekerja seks komersial (PSK).

Rumah bordil miliknya, menurut Dolly dibangun tanpa bantuan arsitek atau pemborong. Dolly mengaku memandori sendiri. Sebuah kemampuan yang dipelajari dari orangtuanya.

Jadi, mulai alih profesi, dari seorang pramusyahwat, eh, PSK, menjadi germo? Dolly menyatakan tidak sepenuhnya benar.

Dolly bilang ia memang sempat menjadi germo, tetapi hanya sebentar saja. Ia lebih memilih untuk menyewakan wisma miliknya ke orang lain. “Aku memang mbangun bordil. Tetapi aku tidak mengelola sendiri. Habis mbangun tak sewakan,” kisahnya. “Aku tinggal mengambil uang sewa, wis, enak,” tutur Dolly dalam percakapan yang hampir seluruhnya berlangsung dalam dialek Jawa Timuran.

Nah, kok? Kenapa Dolly kurang senang menjadi germo?

“Aku iki nggak mentholo jadi germo. Keluargaku tidak ada yang turunan germo. Anake wong. Kasihan. Kalau jual ‘daging’ aku pengalaman. Tapi kalau disuruh jadi germo, aku tidak bisa,” ujarnya.

Sepanjang tuturannya Dolly bilang ia tidak ingin jadi germo karena tahu bahwa menjadi pelacur itu sungguh tidak enak. “Pelacur itu sakaken. Jadi pelacur itu kasihan. Pelacur itu sengsara di dunia. Aku nggak bisa cerita panjang tentang pelacur.”

Di mata Dolly, profesi PSK bukanlah dosa. “Aku melihat pelacur itu macam-macam. Ada yang putus cinta, ada yang karena kesulitan ekonomi. Tetapi semua itu tidak dosa. Dia cari makan. Orang lakinya yang datang sendiri.”

Lalu seberapa kayakah Dolly dari usaha seperti itu? Ia hanya merinci: setiap 10 hari ia menerima uang Rp 2,1 juta dari satu wisma. Itu terjadi pada tahun 1991. Kurs dollar terhadap rupiah sekitar dua ribu perak.

Uang sewa wisma menurut Dolly tidak besar. “Dan uang itu habis aku bagi-bagikan ke anak-cucuku,” jelasnya. “Aku tidak kaya yang miliaran. Tapi aku sugih iman. Sugihkepribadian. Jadi aku tidak kaya, tapi cukup untuk dimakan orang banyak,” tegasnya.

“Aku ingin tahu rasanya mengurus orang banyak. Aku pernah diangkat sebagai anak oleh orang, jadi ingin tahu rasanya momong orang banyak. Aku seneng. Aku tidak kaya, tapi cukup untuk makan. Aku bahagia.”

Pada tahun 1990-an Dolly memang lebih banyak bermukim di Malang. Setidaknya ia menanggung kehidupan 10 orang. Semuanya sudah diangap anak dan cucu sendiri, termasuk seorang perempuan penderita kanker. Saat itu sudah 10 tahun Dolly merawatnya.

Mungkin karena kedekatannya, banyak orang menduga Dolly adalah lesbian. Dugaan lesbian itu bisa jadi terbentuk karena gaya Dolly yang cenderung tomboi. Apalagi sebagai germo, predikat yang dipakai adalah “papi” bukan “mami”. Ya, orang memanggilnya “Papi Dolly”.

“Aku tidak lesbian. Aku tidur juga sendiri-sendiri. Aku nolong orang kok dikatakan lesbian,” nada suaranya agak gusar.

Anak Dolly ada lima. Di antaranya ada satu anak kandung. Salah satu anak angkatnya adalah anak angkat mantan “mami”-nya, Tante Beng. “Tante Beng itu nggak pernah melahirkan, tetapi ingin punya anak. Begitu mengambil anak kecil. Aku yang ngopeni. Anak itu baik. Mengerti sama orangtua,” tuturnya.

Bersama anak dan cucu Dolly merasa bahagia. Ia bahkan menganggap tidak perlu menikah lagi. Sebuah keputusan yang sudah ia niatkan sejak sang suami meninggal.

Dolly hanya ingin merawat—terutama—anak kandungnya. Anak satu-satunya yang ia katakan sebagai tempat curahan kasih sayang.

“Menurut pengalamanku aku tahu banyak lelaki yang kurang ajar. Mungkin karena mereka enggak pernah melahirkan. Dan aku pernah melahirkan. Melahirkan itu susah. Anakku lahir dengan tohpati, ditarik dengan tang.”

Ironisnya, pada tahun Dolly diwawancara, ia tengah bersitegang dengan sang anak kandung. Urusannya bahkan menggelinding hingga ke jalur hukum.

Usianya sudah lewat 62 tahun saat itu. Mulai sepuh dan sering batuk. Cuma, dalam kondisi seperti itu, ia masih merokok. Sehari lima bungkus. Bahkan lebih.

Perempuan yang sehari-hari gemar mengenakan kemeja dan kain sarung itu bilang ia akan menjual semua wismanya di Gang Dolly. Uang yang terkumpul akan dijadikan modal usaha di Malang. Usaha apa?

Dolly sendiri agak bingung. Pada tahun 90-an ia sempat berjualan batik, sarung dan seprei yang didatangkan dari Yogya atau Solo. Tetapi nampaknya usaha itu tidak berjalan lancar.

Lebih dari 20 tahun sejak wawancara, kabar dari “Legenda Surabaya” itu nyaris tak terdengar. Kita kembali teringat ketika ribut-ribut penutupan Gang Dolly.

“Ya memang aku yang pertama kali membuka di sana. Tapi waktu mbangun aku bukan germo. Tak bangun lalu tak sewakan. Jadi aku bukan germo. Dan aku heran di Gang Dolly itu yang kaya malah jadi kaya dan enak-enak. Tapi yang jadi sasaran kok aku? Koknamanya jadi Gang Dolly?”

Keinginannya untuk menghapus nama Dolly dari kawasan itu, barangkali sudah didengar. Kini setelah hampir setengah abad berkembang Gang Dolly ditutup.

Ah, Dolly, Advenso Dollyres Chavit. Ia mungkin tak menyangka. Bahwa kisah hidupnya bakal tersangkut kepada nama kawasan prostitusi yang pernah menyandang predikat terbesar di Asia Tenggara.

Artikel ini disunting dari NatGeo Indonesia:

http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/06/gang-dolly-dolly-siapa-dia

http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/06/gang-dolly-dolly-siapa-dia-ii

Sedangkan sumbernya berasal dari:

(Eddy Suhardy, Sumber: Majalah Jakarta Jakarta No 270, 31 Agustus 1991)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s