Nyanyian Hitam

Anjing, hewan lucu yang pandai menjilat
Dagingnya haram, apalagi kotorannya
Namun jutaan manusia menyukainya
Ternyata anjing belum sehina diriku, bangsat

Aku muak menjadi manusia baik, yah begitulah katanya
Aku bosan menjilat-jilat pahala, aku lelah meratapi surga
Tertipu oleh manisnya petunjuk fana
Jalan menuju surga justru membawaku ke neraka

Sekarang aku mengerti
Mengapa banyak bajingan yang berbuat keji
Mereka sudah letih percaya pada janji-janji dunia
Yang pada akhirnya hanya mengkhianatinya

Kami mempertanyakan dimana Tuhan
Kami meragukan kalimat konyol yang sering diucap
Manusia tidak akan diberikan ujian yang tidak bisa diatasinya?
Manusia adalah makhluk sosial yang sejatinya baik?

Untuk apa menjadi baik, jika hanya mendatangkan rasa sakit?
Untuk apa menahan rasa sakit jika tak kunjung sembuh?
Untuk apa hidup jika ujung dari rasa sakit ini ternyata adalah kematian?
Untuk apa dijanjikan surga jika setelah mati nerakalah yang dituju?

Berbuat baik adalah kesalahan
Berusaha menjadi benar adalah keburukan
Tidak perlu kau turuti apa perintah orang tuamu, persetan
Hanya ejekan yang kan kau dapatkan

Aku berdendang dalam dendam, aku bernyanyi dalam hitam
Membayangkan darah, potongan daging, kulit dan tulang berjatuhan dari angkasa kelam
Milik para manusia munafik yang berlindung dengan senyuman dan kasih sayang
Yang lebih peduli kepada anjing dan menyayangi uang

Gelar pecundang sudah kusandang sejak tangis pertamaku menggema di dunia
Di hadapan ayah dan ibuku aku berjanji hal-hal yang tidak dapat ku lakukan
Aku berbohong dan berdusta agar mereka tidak kecewa
Yah setidaknya sampai mereka mati, tawa ini akan terus ku simpan

Aku tersenyum di lubang gelap, aku bernyanyi di dalam tanah
Mencari udara dari sela-sela isi perut babi yang dibuang tepat di atas wajah
Berharap mati tapi tak bisa dipungkiri neraka masih membuatku takut
Ingin terus hidup namun hanya api kekecewaan yang dapat kusulut

Ada bayi menjerit karena kelaparan
Aku akhiri penderitaannya dengan memakannya
Aku buat dirinya bermanfaat untuk kehidupan umat manusia
Ketimbang menahan malu karena telah dibuang oleh orang tuanya yang dermawan

Demi rambut bayi yang masih terselip di antara gigi belakangku
Akan terus ku nikmati nyanyian hitam ini
Takkan ku biarkan rasa lapar ini menyadarkanku
Karena tidak ada yang lebih nikmat dibanding menelan kotoran orang mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s