Aku Suka Di Sini

Menengadah ku ke langit, membalasnya ia dengan darah

Tertunduk ku ke bumi, menatapnya ia dengan congkak

Menatapku ke depan, angin pun menghina

Menolehku ke arah matahari terbenam, tidak jadi, aku takut

 

Dunia luar bukanlah tempatku, lingkaran takdir ini telah menjadikanku rajanya

Dan aku suka menjadi raja dalam ruangan ini

Dengan sedikit meneguk keringat dan menenggak nanah, telah sah diriku menjadi raja

Ku kenakan mahkota hingga kulit kepalaku mengelupas

 

Ku perhatikan telapak tanganku yang bersih dan putih

Tapi terasa seperti kotor, penuh darah dan nanah

Menangisku dalam gelap, dingin memelukku erat

Ku benturkan kepalaku ke dinding, hingga terasa lunak

 

Mengapa aku masih memiliki waktu?

Mengapa ia tak melepaskanku dari derita?

Apakah ia tidak rela pintu itu datang menjemput?

Atau ia hanya sekedar senang melihatku gila?

 

Diamku berteriak, sangat keras di dalam ruang hampa

Tak ada yang mendengar kecuali telingaku sendiri

Bernafas di dalam air, hingga paru-paru terendam

Hingga gelap mendekapku dalam kehangatan

 

Dunia melemparkan kotorannya kepadaku, aku tertawa

Kulit penuh luka, namun hanya itu hiburan yang ku punya

Orang memuji, aku terheran. Orang mencela, aku bahagia

Orang tak peduli, aku berlalu. Orang peduli, aku tak percaya.

 

Aku punya teman, namanya Lipan

Ia senang sekali merangkak masuk ke dalam telinga

Berlari ke dalam otakku, kemudian menggodaku lewat lubang hidung

Kemudian masuk lagi melewati mulut, dan turun ke perut melalui tenggorokan

 

Ia senang sekali membuat lubang duburku mengeluarkan darah

Aku senang melihatnya senang, karena tak ada lagi teman yang ku miliki selain Lipan

Kadang karena merasa tak enak, ia sering mempersilakan diriku memakan sebagian kakinya

Bukan untuk mengobati lapar, hanya agar ia tidak cepat tumbuh besar dan tidak bisa lagi bermain di dalam kepalaku

 

Aku tak ingin ini segera berakhir

Aku harap tak ada yang datang menghampiriku

Aku berdoa agar cahaya tak bisa menembus ruangan takdir

Karena aku jatuh cinta dengan nerakaku