Jiwa-jiwa yang Terkutuk Demi Teman dan Kehidupan

Ini adalah sepenggal kisah dari sekelompok prajurit
Orang-orang yang jiwanya sudah terkutuk dan tangannya telah kotor
Demi teman dan kehidupan
Demi perjuangannya untuk tetap hidup,
mempertahankan kehidupan manusia,
merebut kembali teman,
mengumpulkan kekuatan,
dan menyelamatkan ras manusia

___________________________________________________________________________________________

Kau tak bisa makan di kandang yang sempit dan kotor ini?

Tidak
Ada yang tak ku mengerti
Saat aku sudah bersiap untuk membuang senjataku
Jujur kukira aku sudah terlambat
Saat itu dia benar-benar sudah membidikkan senjatanya kepada Jean
Tapi, mengapa aku yang lebih cepat menarik pelatuknya?

Itu karena, sebelum menembak dia sempat ragu

Orang yang terbunuh karena perbuatanku itu
Pasti adalah orang yang baik
Dia pasti lebih bermoral daripada aku
Padahal aku cuma menarik pelatuknya

Armin, tanganmu itu sudah kotor
Menyesal pun percuma
Cobalah untuk menerima dirimu yang baru
Kalau tanganmu tetap bersih,
Jean takkan berada di sini bersama kita sekarang
Alasan mengapa kau menarik pelatuknya adalah
karena kau menyaksikan temanmu berada di ambang maut

Kau itu pintar,
kau tahu bahwa di saat itu
keputusan atau tindakan yang setengah-setengah takkan menyelamatkan siapapun
Dan kau juga mengerti bahwa kalau kita kehilangan
baik makanan, kuda, atau rekan
Masa depan kita akan semakin suram

Karena kau mengotori tanganmu
kita semua berhasil lolos
Terimakasih

___________________________________________________________________________________________

Kapten. Aku selalu berpikir bahwa caramu itu, salah
Tidak, bisa dibilang aku selalu berharap bahwa caramu itu salah
Karena aku benar-benar takut menggunakan tanganku untuk membunuh orang lain
Tapi ternyata akulah yang salah,
Lain kali aku akan menembaknya

Ya, keselamatan kita terancam karena kelembekanmu Jean

Aku benar-benar minta maaf

Tapi kau sudah berada di dalam keadaan yang tidak biasa
Bahkan aku pun tak bisa mengatakan keputusan mana yang benar
Kita takkan pernah bisa menebak hasil dari keadaan semacam itu
Apa pilihanmu benar-benar salah?

Apapun kebenarannya,
hanya pihak yang menang di pertarungan inilah
yang berhak memutuskannya

Advertisements

Pencarian Cinta Orman Wald Floresta

Menderu suara langkah kuda yang berlari begitu cepatnya, di tengah-tengah perkampungan yang masih ramai. Tidak ada yang peduli pada kecepatan kuda yang dikendarai oleh pria muda berpostur besar dan berbadan gagah itu. Tidak ada yang peduli akan tangisnya, tidak ada yang peduli akan ringkihan kudanya. Dentuman tapal kuda bergetar, beradu dengan susunan batu licin dan beberapanya berlumut karena sering diterpa hujan. Beradu nasib dengan kelembaban, pria itu menangis, menangisi kehidupannya yang diramaikan oleh kesepian, yang dipenuhi oleh kehampaan. Pria itu menjerit di dalam hatinya, melupakan Tuhan dan kematian, memacu terus kudanya semakin cepat melewati perkampungan dan orang-orang yang menghiraukan. Dengan air mata yang deras membasahi wajahnya, ia tersenyum memaklumi memang begitulah seharusnya kehidupan, tetap berlanjut dan tak peduli.

Pedagang buah, pedagang pisang, iya pedagang pisang. Bagai semak belukar di tengah hutan, sangat banyak. Pria itu berhenti, lalu turun, dan mulai menggandeng kudanya berjalan menelusuri pasar. Tak lama berselang, seperti biasa ia mencuri beberapa pisang dan kantung emas untuk perbekalan perjalanannya. Tiada lupa ia kaitkan tali pengikat kudanya di pinggir pedagang jerami. Memperhatikan kuda kesayangannya makan dan minum dengan lahap, sampai-sampai ia tak mendengar teman lamanya memanggil “Wald! Orman Wald! Orman Wald Floresta!”, sang pria menoleh mencari-cari asal suara itu. Suara yang tak asing baginya, “Oh! Ternyata kau Arbaro! Berapa matahari musim panas yang kita lewati secara terpisah kawan lamaku, Arbaro Da Silva!”. “Apa kau baik-baik saja di atas kudamu itu Wald? Tidakkah lelah si Misko harus menemanimu? Bertarung, berlari, membuat keributan, mencuri, dan berlari lagi? Apa yang sebenarnya kalian cari?”. “Aku hanya mencari belahan jiwa dan hatiku Arbaro, dan Misko adalah sosok yang paling setia menemani pencarianku. Bersimbahkan darah, bermandikan keringat, kami terus berdua mencari apa yang menjadi tujuanku. Ku yakin kau sudah tahu itu.”. “Tentu saja, namamu sudah sering ditulis di koran pagi kota busuk ini. Lagipula, siapa yang bisa melupakan seseorang dengan luka lebam yang selalu menghiasi wajahnya dan menutupi mata dan hidungnya, lalu merusak bibir tipisnya? Sudahlah, kulitmu agak gelap sekarang, seperti jagung kering. Lalu apa yang bisa ku bantu? Sebagai teman lamamu yang terjebak di kehidupan yang membosankan seperti ini?”. Wald tertawa terbahak bahak melihat tingkah teman lamanya ini yang tak bisa berhenti menyampaikan gurauan. “Arbaro, kemana lagi ku harus pergi?”. Dalam hingar bingar pasar, jeritan wanita yang akan diperkosa oleh sekumpulan algojo gila, mereka terdiam. Arbaro menyadari, ada kelelahan mendalam yang dialami sahabat lamanya ini. Arbaro tak tega melihat keputusasaan yang terpampang nyata di wajah Wald. Ia bilang dengan lantang, juga dengan kesedihan yang tersembunyikan di balik wajah ceria dan menawannya, “Foresti, kau harus ke sana Wald. Mungkin kau akan temukan apa yang telah menjadi tujuanmu di sana.”.

Tanpa cakap lagi, ia dekap tubuh teman lamanya itu, dekapan yang seperti menyatakan bahwa “Sampai jumpa lagi kawanku, semoga aku masih bisa menemuimu. Tak tahu apa yang akan ku perbuat dan yang akan terjadi padaku nanti, semoga kau selalu bisa membantuku seperti yang sudah-sudah kita berdua lakoni.”. Dengan senyum dan pandangan yang menerawang ke arah bulan sabit, ia pamitkan dirinya dari kota itu dan dari kawan lamanya. Ditunggangi Misko, dan mereka pun kembali berlari. Arbaro menatap punggng kawan bodohnya itu “Semoga kau baik-baik saja Wald. Aku akan selalu ada untukmu.“.

Wald, kehilangan kesadarannya. Mungkin karena buah yang ia makan dengan sembarang, atau sakit kepala luar biasa yang ia derita. Matahari terik menerpa kepalanya, ia kembali meratapi nasibnya yang tak kunjung membaik. Pria itu hanya menginginkan seseorang yang bisa mengerti dia sepenuhnya. Tidak hanya dalam suka dan duka, namun juga dalam asmara dan amarahnya. Pria itu, juga hanya menginginkan seseorang yang mampu menghadapinya, mampu memperlakukannya sesuai dengan apa yang dibutuhkan olehnya. Namun pria itu sadar, bahwa mendapatkan seseorang yang seperti tidaklah mudah. Hingga pada suatu hari di musim panas, ia mendapati dirinya sedang berjalan bersama seekor kuda, tak tahu tempat yang dituju, hanya tahu apa yang dituju yaitu, seseorang yang tepat untuknya.

Terlihat jelas di situ, ada sebuah papan yang ditancapkan di atas tanah basah penuh kotoran sapi dan kerbau. “Selamat Datang di Foresti, Kota Penuh Kejutan”. Bibir yang kering, badan lemas, gaya berjalan Wald juga sudah agak membungkuk. Entah karena kesakitan atau karena dehidrasi yang mulai parah. Ia berhenti di pinggir sungai, bentuknya berkelok-kelok, arusnya tenang, gemericik air membawa kedamaian jua, dan aliran airnya pasti bisa menggugah seseorang untuk mencicipi airnya. Sangat bening dan bersih, terlihat jelas ikan-ikan salmon berenang melawan arus, mencoba bertahan hidup dengan mencari tempat teraman untuk menetaskan telur-telurnya. Wald dan Misko minum sepuasnya, mereka minum seperti babi buta. Akhirnya mereka putuskan untuk mandi dahulu sebelum masuk ke kota. Ditemani oleh bunga-bunga dan dedaunan akasia yang berjatuhan karena ditiup angin yang melaju kencang, sekali lagi, mereka mampu menikmati sedikit kebahagiaan di pojok-pojok kehidupan mereka.

Pintu masuk Foresti, tidak seperti pintu masuk kota yang sebelumnya telah dikunjungi oleh Wald. Biasanya ketat, dan penuh penjagaan. Namun Foresti, sejak pertama kali berkenalan saja, Wald sudah tahu, bahwa akan banyak kebebasan yang bersinggungan di sini, dan berarti kebrutalan akan merajalela hingga membawanya ke suatu pertarungan. Benar saja, baru beberapa langkah memasuki kota, Misko sudah hampir dicuri orang. Banyak perempuan nakal yang menggoda dari jendela deretan rumah yang tersusun rapi dan terlihat sangat memukau. Kalau saja emas hasil curiannya masih berlebih, Wald pasti sudah masuk ke situ. Bersenggama dengan wanita-wanita cantik yang menjual tubuhnya untuk mendapatkan uang.

Wald, semakin tertantang untuk mengelilingi kota, yang penuh dengan bangunan warna warni itu. Jalanan di kota itu, lebih mirip dengan festival. Penduduknya pun lebih mirip dengan keluarga kerajaan, karena tampan dan cantik-cantik. Terasa sekali kesenangan dan euforia terpancar memenuhi atmosfer Foresti. Wald menginap di sebuah rumah, dengan bayaran beberapa keping emas miliknya dan jasanya bersih-bersih rumah untuk beberapa hari. Setelah hampir seminggu Wald tinggal di kota itu. ia terheran, karena tidak ada satu luka pun yang menempel di tubuhnya. Masih dalam keadaan terheran-heran, ia melihat suatu gedung pertunjukkan yang sangat dipenuhi oleh pria di luarnya. Antrian mereka panjang sekali dari depan pintu masuk, mengekor sepanjang jalan, hingga ke pedagang kacang di pinggir sungai setelah tikungan ke arah keluar kota. Mewah sekali terlihat, “Metsa Foraise, Penari dan Penyanyi Tercantik di Foresti! Saksikanlah pesonanya, rebut hatinya, dan menangkan hadiahnya!” Membaca tulisan itu, Wald mengambil beberapa keping uangnya untuk ikut menonton pertunjukkan itu.

Kursi-kursi kosong tidak banyak di situ, seperti lubang semut. Mereka berebut kursi untuk menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan, sang maestro kecantikan di seluruh penjuru kota, Metsa Foraise. Sedangkan Wald, hanya berdiri di depan pintu, menyaksikan dari kejauhan drama yang sedang dimainkan sebagai acara pembuka. Di bawah papan bertuliskan “Keluar”, Wald menunggu dengan penasaran sosok yang dipuja dan dipuji ratusan orang ini.

Pria itu sudah mulai bosan, kakinya pegal, hati dan pikirannya juga sudah tak di situ. Ia mulai melirik-lirik gadis seksi yang duduk di sampingya, kakiknya begitu jenjang. Mulus hingga ke paha, dadanya terlihat sangat putih dan rapih, kencang dan kenyal. Namun sontak, ketika Metsa mulai bernyanyi, bergetar hati Wald mendengarnya, ia alihkan seketika pandangannya menuju panggung dimana seorang malaikat suci turun dari langit, membawa kedamaian dan hiburan surga untuk para makhluk-makhluk hina di dunia. Tingginya sekitar 170cm, kulitnya putih, rambutnya panjang dan lebat berwarna seperti berlian hitam. Suaranya merdu, semerdu suara putri duyung yang selalu tergambarkan dalam benak Wald. Tubuh pria muda itu bergetar, tak menyangka hatinya yang telah usang masih bisa terpukau melihat kecantikan wanita ini. Kakinya lemas, ia butuh tempat untuk bersandar, namun jaraknya dengan sang ratu akan menjauh, hati Wald tak inginkan hal itu.

Wald menonton Metsa mulai dari awal hingga akhir pertunjukkan tepat dari samping panggung, dari awal hingga riuh sorak sorai penonton mengisi seisi teater, ia terpaku hingga ditegur oleh para pembersih kursi. “Nak, jika kau ingin menemui Metsa, kejar ia di Jembatan Bosque, sekarang.”. Bagai kilat, ia menyambar pintu dengan cepat, berlarilah ia mengejar wanita itu.

Sejak pertemuan pertama mereka di jembatan itu, mereka mulai memadu cerita, semakin dekat, menyulam kasih, membenihkan sayang. Semakin erat genggaman tangan mereka, Metsa merasa seperti ratu yang selalu dipuja, dijaga, dan dicinta. Wald merasa seperti penemu harta karun yang berhasil menemukan harta karun di dasar samudera. Hutan demi hutan mereka petualangi, gunung belakang kota juga pernah mereka daki berdua. Mereka tak pernah menjalani hari kecuali tak saling menyapa dan sesama tersenyum. Wald selalu hadir di pertunjukan Metsa, dan Metsa selalu datang membawa makanan untuk Wald tiap waktu makan siang.

Hutan yang penuh dengan pohon cemara, karet, dan pinus. Gelap, namun merupakan tempat favorit mereka untuk melepas penat dan kerinduan. Bagi Wald, tujuannya seperti sudah ditemui dan dicapai. Hampir. Sambil berbicara dengan Misko dan mengirimkan surat untuk Arbaro, Wald memantapkan hati untuk melamar Metsa. Ia yakin demi nama salju yang turun di bulan Desember, Metsa akan menerimanya cintanya. Malam itu bulan purnama, ada awan besar yang berlalu lalang mencoba untuk menutupi langit dan bintang, namun mereka tak mampu. Di hadapannya, di bumi, ada cucu Adam yang sedang dimabuk asmara, ingin melamar wanita pujaannya. Dinginnya malam, hangatnya mantel kuno, dandanan Wald dirasa sudah sempurna. Ia telusuri temaramnya jalan, becek penuh dengan salju yang mencair. Di sampingnya banyak sekali tumpukan salju hitam, senja baru saja ia lewati. Gugup dan bahagia, setengah mati rasanya. Seperti pagi hari, semuanya berubah denga cepat. Wald menjadi benar-benar ingin merasakan kematian datang menjemput, ketika seorang pria mengecup indah kening Metsa. Tak dinyana dari balik pagar, tepat di depan matanya, Wald tak percaya kejamnya dunia kembali memeluknya dengan mesra. Wald menggenggam kelewat erat mawar dan cincin emas di tangannya yang ia dapatkan dengan menukar tabungannya berbulan-bulan.

Hati Wald hancur, lagi-lagi hancur. Ia seperti merasa terkhianati, dan tujuannya yang dia idam-idamkan, harus ia bereskan lagi. Kemesraan yang ia saksikan membuatnya mencoba mempersatukan kembali pecahan-pecahan hatinya yang telah melebur, seperti besi yang dicairkan. Wald sepertinya mengenali sosok pria yang sedang bermesra-mesraan dengan (mantan) wanita pujaannya. “Iya benar, itu Goedwig. Bocah biadab.”. Mematung di situ, kepedihan dan kesedihan Wald berubah menjadi kebencian, yang ia tumpahkan semua untuk Goedwig. Terlihat, ia mencoba berbalik arah, seperti ingin mengambil pisau lalu menikam pria busuk itu di depan Metsa. Namun setiap mengingat Metsa, ia urungkan kembali niatnya. Akhirnya ia bersembunyi di balik semak, menunggu kepulangan Goedwig.

Benar saja, Goedwig pulang. Wald mengikutinya di belakang, mengendap-endap seperti bulan di balik awan yang menggantung di langit atas. Goedwig melewati Jembatan Bosque, Wald menghadangnya di situ. “Mengapa kau merebut Metsa dariku Goedwig?”. “Hei, anak baru. Aku sudah melamar Nyonya Foraise sudah sejak kau belum datang dari kota ini.”. Wald terkaget, bagaimana bisa hal itu terjadi. Penjelasan meyakinkan yang Goedwig sampaikan, membuatnya semakin geram. Satu pukulan telak mengenai dagu kiri Goedwig. Goedwig membalas dengan melayangkan tinjunya ke bagian kiri perut Wald. Berpangkal dari situ, mereka bertarung habis-habisan di bawah sinar rembulan, di dalam selimut dingin malam. Keheningan mencoba melerai mereka, namun bagai melukis di air, tak bisa. Darah berceceran, keringat juga sudah membasahi tubuh mereka. Goedwig merupakan tentara muda yang sedang menjalani hari-hari istirahatnya setelah peperangan. Jelas lebih tangguh dibanding Wald walaupun Wald sudah melayani banyak orang bertarung dengannya.

Wald terkapar, ia pingsan. Dengan muka lebam, yang sebenarnya sudah lama tak ia rasakan, dan kadang ia rindukan. Ia menangis, menangisi kekalahannya, kekalahan dalam pertarungan (selama ini Wald tidak pernah kalah bertarung) pun kekalahannya dalam perjuangan cintanya. Pagi hari menjelang, matahari mulai menampakkan batang hidungnya meski sedikit malu-malu. Wald masih terlelap di tengah jalan, dibantu oleh pengemis jalanan dan penjaja makanan, ia dibawa ke pinggir jalan. Diistirahatkan ia di situ, dengan sepotong roti dan segelas kopi di samping perbaringannya. Setelah sadar, bersalamkan terimakasih kepada mereka yang telah menolongnya, Wald pamit pulang dengan kepala tertunduk lesu dan badan yang terkulai lemas. Di tempat tinggal barunya, setelah menerima kekalahan telaknya Wald berpikir untuk mendapatkan penjelasan yang sebenarnya dari Metsa. Langsung dari perempuan itu. Wald memutuskan untuk mendatangi kediaman Metsa sore ini.

Metsa sudah menunggu Wald sejak lama di bawah pohon plum yang sedang dipanen oleh para pembantunya. Wald menghampirinya dengan menyembunyikan wajah lebamnya. Metsa ingin merawatnya, tentu Wald menolak bantuan dari seseorang yang telah mengkhiatanati cintanya, dan Metsa sadar akan hal itu. Seolah tak peduli, Metsa mengajak Wald berjalan-jalan menuju sebuah pabrik kain yang terdapat stasiun kereta di sampingnya.

Ada sebuah bangunan kecil tua yang menghadap langsung ke statsiun kereta dan pabrik yang terlihat kokoh dan misterius. Metsa langsung membicarakan yang sebenarnya telah terjadi. Tampaknya wanita itu tidak suka berbasa-basi, sama seperti Wald. Dengan mata menatap tajam langsung ke arah tatapan Wald yang sudah menunggu penjelasan darinya. “Wald, aku akan menyampaikan yang sebenarnya kepadamu. Ku harap kau bisa mendengar, mengerti, dan memercayainya. Goedwig, adalah tunanganku. Ia melamarku sekitar 3 bulan yang lalu. Aku sangat mencintainya. Ia adalah seorang prajurit negara, sekaligus ksatria untukku. 2 setengah bulan yang lalu ia pergi ke Inggris. Inggris membutuhkan banyak sekali bantuan prajurit penerbang kapal tempur. Goedwig, menawarkan dirinya untuk ikut operasi itu, membantu Inggris dalam peperangannya melawan Jerman. Awalnya ditolak, karena Goedwig adalah kekuatan besar dalam infantri negeri kita. Namun, Goedwig bersikeras dan akhirnya ia disetujui untuk pergi ke sana. Setelah peperangan selama sebulan, aku hanya bisa bercinta dengannya melalui surat. Hingga akhirnya pada suatu hari, ku dengar ia meninggal di tengah perang. Waktu itu ia ditugaskan menjadi infantri terdepan yakni airborne infantry. Sayangnya belum sampai di titik penyerangan, kapalnya bersama kapal dan prajurit lainnya ditembak jatuh di perairan Inggris. Tiada yang mendengar kabarnya lagi setelah itu, sampai ia dinyatakan mati dalam bertugas.”.

“Jelas saja, hatiku hancur remuk tak bersisa Wald, mendengar kabar itu. Setiap hari, aku ingin menyusulnya ke perairan yang menjadi tempat bersemayamnya jenazah kekasih tercintaku. Atau langsung ku susul ia ke surga. Namun usahaku selalu gagal. Entah apa yang membuatku selalu gagal. Depresi melanda, makan pun aku tak pernah menginginkannya. Suatu sore, aku kirimkan cerita curahan hatiku ini pada teman lamaku, di kota seberang sana. Namanya Arbaro.”. Wald terbelalak, namun ia tetap memperhatikan cerita dan pengakuan Metsa seperti tidak tahu apa-apa. “Selang beberapa hari kemudian, Arbaro memberikanku kabar, bahwa akan ada seorang pria yang datang kepadamu, ia adalah pria pencari cinta. Untukku, itu seperti sebuah ramalan belaka. Antara percaya atau tidak percaya. Aku kembali menemukan harapanku. Hingga akhirnya kau datang, dan membuatku kembali hidup untuk kedua kalinya.”.

“Kau berbeda sekali dengan Goedwig, kau mampu membuatku kembali tertawa. Kejenakaanmu, cerita konyolmu, segalanya tentangmu memberikanku kembali rasa cinta. Cintaku untukmu telah tumbuh beriring dengan waktu dan kebersamaan kita. Ingatkah kau ketika kau terjatuh dari pohon pinus, karena berusaha mengambilkan seekor tupai yang ku pinta. Atau ketika ku terjatuh di sungai, ketika kita sedang berjalan di pinggir sungai melihat bulan yang terpantul di permukaan sungai? Itu indah Wald. Bersamamu akan menjadi kenangan yang tak pernah bisa terhapuskan Wald.”. Wald menitikkan air mata, dalam hatinya ia berkata “Yang aku inginkan bukan kenangan yang tak pernah bisa terhapuskan, namun keberadaan yang tak pernah tergantikan Metsai.“.

Metsa mengeluarkan sehelai sapu tangan putihnya, bercorak bunga ungu beraromakan wewangian bunga. Ia hapus air mata Wald, kemudian melanjutkan kembali ceritanya. “Tetapi, semuanya berubah begitu saja Wald, ketika Goedwig. Sosok Goedwig yang asli, bukan yang selalu terbayang dalam pikiranku, mengetuk pintu rumahku, mengetuk pintu hatiku. Ia hidup, tidak di hatiku, tapi juga di duniaku, dunia ini. Ia masih hidup. Kaget sekali aku dibuatnya, sekaligus bingung, karena terbersit pikiran tentangmu ketika Goedwig berdiri di depanku. Malam itu Goedwig memberikanku kejutan. Ia menceritakan bahwa ia tidak mati ketika ditembak jatuh oleh pasukan Jerman. Ia masih hidup, ia ditemukan selamat oleh nelayan setempat, dan ia dibawa dan dirawat di pedesaan terpencil hingga ia berangsur pulih dan kembali ke sini untuk menemuiku.”.

“Malam itu, malam ketika ia kembali memelukku dengan hangat. Malam ketika kalian bertarung memperebutkan cinta, malam ketika kau menerima kekalahan. Adalah malam dimana Goedwig datang untuk menentukan tanggal pernikahanku dengannya Wald. Aku meminta maaf padamu. Aku rasa kau mengerti apa yang ku rasakan. Semoga ini menjadi mudah untuk kita berdua Wald, dan ku doakan semoga kau menemukan kembali cinta yang kau cari-cari selama ini, tapi bukan aku.”.

Langit senja kota, kembali hadir menelusuk jiwa kesepian Wald yang mulai menyingkap tabir-tabir kehampaan. Wald tersenyum, ia merasa tak berdaya untuk terus berada di situ bersama Metsa. Berdiri saja ia tak mampu. Ia mulai mempersatukan kembali hatinya yang telah pecah berantakan. “Metsa, terimakasih atas kasihmu, maafkan aku. Besok pagi aku akan pergi.”. Wald berlalu, ia tak tahan. Ia berusaha tak menggubris keberadaan Metsa. Metsa terpaku di situ, ditemani oleh matahari petang dan air mata.

Tepat pukul enam pagi, Misko sudah gagah menunggu sahabat karibnya di pinggir jalanan untuk segera meninggalkan Foresti. Embun pagi pasti menelusuk tubuh siapa saja yang mencoba keluar menikmatinya, namun tidak untuk Wald. Hati dan tubuhnya sedang panas, sekujur tubuhnya panas, seluruh hatinya panas. Dari tatapan perpisahannya, Wald terlihat masih ingin bertemu dengan Metsa. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Metsa datang membawa satu buket mawar putih sebagai rasa terimakasih dan permintaan maafnya untuk Wald. Dengan kegembiraan yang disembunyikan di balik manis wajahnya, Wald tersenyum ketus menerima bunga-bunga itu. Hingga akhirnya Wald meminta satu pelukan terakhir dari Metsa, dan Metsa memberikannya ditambah satu kecupan terakhir di keningnya. Dari jauh, ia melihat Goedwig melambaikan tangan padanya di atas kuda putihnya. Ingin sekali ia membawa pergi Metsa bersamanya, namun ia tahan itu karena ia tahu bahwa Metsa sudah ditakdirkan untuk orang lain. Kali itu, Wald tak mencoba melawan takdir, ia menerimanya, dan mengikuti cara mainnya.

Wald telah memutuskan untuk mencari kembali seseorang yang benar-benar bisa menjadi separuh hatinya. Ia tersenyum kembali melihat Misko yang sudah menunggunya di depan gerbang kota. Terkadang ia suka heran menyaksikan kecerdasan hewan berkaki empat ini. Di dalam pelana kuda yang membuat Wald heran dipasang oleh siapa terlihat ada surat dari teman lamanya, Arbaro. Dituliskan di situ nama sebuah tempat yang Arbaro sarankan kepada Wald untuk mendatanginya, “Bosc”. Hanya itu tulisan yang tertera di surat dengan kertas berbahan kulit pohon jati kering itu.

Ia lambaikan tangannya dengan penuh duka cita, ia berharap bertemu kembali dengan Metsa sekaligus juga berharap untuk tidak pernah bertemu lagi dengannya. Ia kuatkan hatinya untuk melangkahkan hati Misko menjauh dari kota yang pernah menjadi bersarangnya cinta dan kasih sayang untuknya dan darinya. Hingga tak terasa, ia sudah menjauh dan tak terlihat dari penglihatan Metsa. Metsa tersenyum lepas, ia tak lagi meneteskan air mata. Dengan cepat ia berbalik, sambil menggenggam erat tangan kosongnya. Tak tahu apa yang ia pikirkan, namun terlihat matanya menunjukkan hatinya yang tercabik-cabik kesedihan.

Hingga bulan pun datang, Wald bertemu dengan sungai yang mengalir indah menuju Foresti. Ia menuliskan sepucuk surat yang dimasukkan ke dalam botol miliknya. Kemudian ia taruh di permukaan sungai itu, sambil berharap alirannya akan membawa surat itu untuk kekasihnya. Ternyata ia buat dua lembar, salinannya ia masukkan ke dalam kotak surat. Berdoa semoga saja suratnya sampai ke dekapan wanita yang pernah menjadi pujaan jiwanya.

“Metsa Foraoise, ku tuliskan ini untukmu. Ku harap, kau tak melupakanku, seseorang yang hampir membawa pergi cintamu.”.
I know it’s not enough to say I’m wrong. You know that I will miss you now.
Just know that in my heart, it beats for you.
I’d spend every night waking up to the beat I hear inside.
Telling me to be your only one.

I could never leave this world undone.
I want to be your only one.

Just holding onto hope to save my days I won’t survive.
I could never leave this war unsung.
I want to be your only one.

I wish I am your only one.

Dalam hati Wald berkata, dengan bisik Wald bergumam. “Selamat tinggal Metsa, terimakasih.“. Wald menatap jalan panjang menuju deretan pegunungan nan jauh di sana, lalu mulai melangkah dengan berat menjauh dari kota. Kota yang memberikannya banyak pengalaman, pelajaran, kisah, dan cerita. Wald mulai berjalan kembali, mencari apa yang telah menjadi tujuannya.

Di tengah hamparan perkebunan bunga matahari, ia melihat seorang anak kecil yang sedang berlarian ke sana ke mari, membelah barisan badan bunga yang berdiri tegap dengan begitu bahagianya. Wald berpikir “Ia sendirian, bagaimana bisa ia sebegitu bahagianya?”. Ia hampiri anak itu, dan bertanya “Hei manis, siapa namamu?”. “Foresta, panggil aku Esta”. Wald tersentak, “Nama anak ini mirip dengan nama keluargaku.”. Ia semakin tertarik untuk mengajaknya berbicara sejenak, hitung-hitung mengurangi penat. “Esta, kelak jika kau besar nanti, kau ingin menjadi apa?”. “Aku ingin menjadi seseorang yang selalu bahagia, tak peduli kehidupan apa yang ku jalani, nasib apa yang ku lalui, keadaan bagaimana yang mengelilingi. Bagaimana denganmu Tuan …?”. “Wald, panggil saja aku Wald.”. Tak bisa menerima kalimat itu dengan mudahnya, Wald hanya menjawab “Aku ingin ketika aku mati, aku bisa menjadi seseorang yang mampu melihat siapa saja yang menghadiri pemakamanku dan menangis untukku, aku ingin melihat bagaimana mereka melepasku. Aku ingin mengetahui seberapa besar arti kematianku untuk mereka, aku ingin melihat bagaimana reaksi mereka, aku ingin melihat siapa yang menguburkanku. Mengingat tiada yang ku punya di kehidupanku kini, semakin menyakiti hatiku.”. Esta menggenggam tangan pria bodoh itu dan berkata dengan lembut “Tuan Wald, seharusnya kau menyadari. Kau beruntung, masih bisa bernapas. Artinya kau masih bisa melakukan sesuatu. Semua yang kau mau atau semua yang kau butuh.”.

Esta mendengar orang tuanya memanggil, ia akhiri pembicaraannya dengan Wald, lalu berlari riang menuju orang tuanya “Sampai bertemu kembali Tuan!”. Wald melambaikan tangannya, ia melihat pemandangan yang sungguh menakjubkan kala itu, matahari terbenam di ujung hamparan bunga matahari dan orang tua yang menjemput anak periangnya pulang, sungguh membahagiakan. Di bawah langit senja, Wald tak bisa berhenti mengembangkan senyumnya, dan air matanya tak kunjung berhenti. Semakin deras air matanya mengalir, semakin ia menyadari betapa bodohnya ia jika ia tak mampu melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk sesama dalam kehidupannya selama ia masih bernapas.

Esta, terimakasih. Aku akan ikuti saran lembutmu itu. Untuk saat ini, aku akan temukan belahan jiwa dan hatiku. Sampai jumpa.“. Membelakangi sinar matahari yang mulai padam, pria itu kembali berjalan demi mencari apa yang paling ia inginkan dalam hidupnya. Wald sadar, ia ditemani oleh angin, dengan penuh nyali dan tenaga yang kembali terisi, ia dongakkan kepalanya, lalu melanjutkan langkahnya.

Dari Balik Topeng Besi

Di balik topeng besi ini aku menangis, di luar topeng besi ini aku tersenyum
Di balik topeng besi ini aku marah, di luar topeng besi ini aku tertawa
Di balik topeng besi ini aku merintih, di luar topeng besi ini aku ceria
Di balik topeng besi ini aku meronta, di luar topeng besi ini aku bahagia

Tiada yang akan peduli, tiada yang akan mengetahui
Duniamu adalah duniaku, namun duniaku bukan duniamu
Ku rasakan angin berhembus dari balik topeng ini, tak sebegitu nikmatnya ketika dulu ku masih kecil, ketika tidak ada besi yang terpasang di rahang, belakang kuping, dan ubun-ubunku
Aku duduk, di atas potongan batang pohon, ku lihat pria-pria rupawan di seberang sana
Mungkinkah aku akan menjadi sesempurna mereka kelak?
Mungkin, jika aku mampu meletakkan kepalaku di atas punggungku

Mungkin mereka belum pernah diberi cap di punggungnya
Sebuah cap berbentuk lambang, yang menggambarkan dan menjelaskan bahwa takdirmu sudah dikunci
Dikunci menjadi seorang penjaga dan penjagal, yang tak boleh menunjukkan emosi
Tak boleh merasakan kasih sayang, dan tak boleh menjadi makhluk yang dicintai

Dari balik topeng ini, aku tatap langit senja
Sempit sekali, tak seindah dulu ketika aku muda
Dalam rupa seperti ini, apakah sudi orang lain menganggapku sebagai manusia?
Atau memang aku ditakdirkan menjadi manusia yang bukan manusia
Wajar saja bila mereka menganggap begitu, bagaimana bisa orang lain menganggapku sebagai manusia jika terdapat pedang menancap di kedua tanganku
Tak bisa menggenggam, tak bisa menyentuh, hanya bisa mengiris dan memotong atau menusuk dan menikam

Apakah aku bisa membuka topeng ini?
Apakah aku akan membuka topeng ini?
Apakah aku ingin membuka topeng ini?

Untuk apa? Untuk apa! Untuk apa aku buka topeng ini!
Dunia saja tak bisa menerimaku, tak ingin menjadikanku sebagai penghuninya, dan takkan menganggapku sebagai makhluk ciptaan Tuhan juga

Dari balik topeng besi ini, aku tertawa, menertawakan diriku sendiri dan nasib buruk yang memeluk erat usiaku hingga nanti aku mati
Ku jalani tugas-tugasku dengan baik sepenuh hati, ku lakukan untuk mereka yang ditunjuk sebagai majikanku
Tak diberi ku sedikitpun makanan, karena pada dasarnya tubuh ini sudah dibentuk agar mampu hidup tanpa makan
Makananku hanyalah kehampaan, kehancuran, dan kebinasaan

Mungkin kalian mengira bahwa aku berkawan dengan setan dan sejenisnya
Bodoh
Neraka saja enggan membiarkan ku masuk dan mencicipi api serta airnya yang membakar apapun yang menyentuhnya

Jadi ingat, hari itu, ketika aku ditunjuk menjadi “benda” menjijikkan ini

Hari itu ibu menatapku dengan tatapan terburuknya, kesedihan yang terpancar, masih mengiris hati ini hingga kini. Sambil berjalan menuju penjara, ayahku ada di sana, sedang menatapku juga, dengan penuh kekuatan dan ketidakrelaan, ia memandangku dengan seksama hingga pedang pancung memenggal kepalanya. Ibuku menungguku di gerbang masuk penjara, ibuku berkata “Jalani hidup ini, anggap semua yang kau lakukan nanti adalah pengabdianmu untukku wahai anakku. Aku, dan ayahmu menunggumu di surga. Topeng apapun yang membungkus wajahmu, takkan merubah hatimu dan semangat dari keluarga kita.”.

Di situ, di bawah teriakan pengkhianatan dari teman-teman lama kami, aku menangis. Aku menangis, aku meraung, bersimbah di kaki ibuku, untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Ku coba meyakinkan semuanya, dengan mulut ini untuk jiwa ini “Tenang Ibu, kita akan baik-baik saja, jangan menatapku seperti itu.”. Kakakku sudah menyusul ayahku, dengan bermandikan zat asam yang mampu menggerogoti tulang, dengan sorak sorai warga kota yang mengantarnya pergi di surga, dengan cepat ku ucapkan salam pada adik termanisku, ku tahan ia agar tak mengikuti ibuku pergi ke sarang pendosa. Adikku hanya berkata “Kakak, kau adalah penerus keluarga ini, aku tak peduli akan menjadi apa aku nanti, yang penting, jangan kau sia-siakan kehidupanmu kak, agar kematian tak menjemputmu dengan senyumnya yang menyeringai”. Ia lalu berjalan menyusul ibuku ke dalam sarang pendosa dengan senyuman memenuhi wajahnya

Hatiku pilu, ku teruskan langkahku menuju tempat yang akan mengubah seluruh hidupku hingga bertahun-tahun nanti. Ku biarkan mereka melubangi kepalaku, ku biarkan mereka merenggut kehormatanku, ku biarkan mereka mengambil seluruh emosiku. Merenggut masa depanku, menghapus masa laluku, menguasai seluruh waktuku. Tapi di situ aku berjanji, untuk menjalani tugas sebaik yang ku bisa, agar nanti, aku bisa bertemu lagi dengan keluargaku di surga. Entah itu membunuh, entah itu menyiksa, hanya ini yang bisa ku lakukan. Mencoba kabur, atau merubah keadaan hanyalah menambah penderitaanku, begitulah kata mereka. Keyakinanku akan surga sama besarnya dengan keraguanku pada neraka.

Demi kesempurnaan senyum ibuku, demi kehangatan pelukan ayahku
Demi ketenteraman canda kakakku, demi kedamaian sentuhan adikku
Akan ku lanjutkan penderitaan ini, akan ku lanjutkan perjalanan pengabdianku pada yang mereka sebut kejahatan
Langit malam, langit siang, tak berarti bagiku
Semuanya kelam, semuanya suram

Dari luar topeng ini aku bersenang-senang bermandikan darah
Dari balik topeng ini aku merindukan surga, dan mereka di dalamnya