Aku Suka Di Sini

Menengadah ku ke langit, membalasnya ia dengan darah

Tertunduk ku ke bumi, menatapnya ia dengan congkak

Menatapku ke depan, angin pun menghina

Menolehku ke arah matahari terbenam, tidak jadi, aku takut

 

Dunia luar bukanlah tempatku, lingkaran takdir ini telah menjadikanku rajanya

Dan aku suka menjadi raja dalam ruangan ini

Dengan sedikit meneguk keringat dan menenggak nanah, telah sah diriku menjadi raja

Ku kenakan mahkota hingga kulit kepalaku mengelupas

 

Ku perhatikan telapak tanganku yang bersih dan putih

Tapi terasa seperti kotor, penuh darah dan nanah

Menangisku dalam gelap, dingin memelukku erat

Ku benturkan kepalaku ke dinding, hingga terasa lunak

 

Mengapa aku masih memiliki waktu?

Mengapa ia tak melepaskanku dari derita?

Apakah ia tidak rela pintu itu datang menjemput?

Atau ia hanya sekedar senang melihatku gila?

 

Diamku berteriak, sangat keras di dalam ruang hampa

Tak ada yang mendengar kecuali telingaku sendiri

Bernafas di dalam air, hingga paru-paru terendam

Hingga gelap mendekapku dalam kehangatan

 

Dunia melemparkan kotorannya kepadaku, aku tertawa

Kulit penuh luka, namun hanya itu hiburan yang ku punya

Orang memuji, aku terheran. Orang mencela, aku bahagia

Orang tak peduli, aku berlalu. Orang peduli, aku tak percaya.

 

Aku punya teman, namanya Lipan

Ia senang sekali merangkak masuk ke dalam telinga

Berlari ke dalam otakku, kemudian menggodaku lewat lubang hidung

Kemudian masuk lagi melewati mulut, dan turun ke perut melalui tenggorokan

 

Ia senang sekali membuat lubang duburku mengeluarkan darah

Aku senang melihatnya senang, karena tak ada lagi teman yang ku miliki selain Lipan

Kadang karena merasa tak enak, ia sering mempersilakan diriku memakan sebagian kakinya

Bukan untuk mengobati lapar, hanya agar ia tidak cepat tumbuh besar dan tidak bisa lagi bermain di dalam kepalaku

 

Aku tak ingin ini segera berakhir

Aku harap tak ada yang datang menghampiriku

Aku berdoa agar cahaya tak bisa menembus ruangan takdir

Karena aku jatuh cinta dengan nerakaku

KENAPA “HOAX” MUDAH TERSEBAR DI INDONESIA?

Rabu, 8 Februari 2017 | 21:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Guru besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Bandung, Deddy Mulyana, menyebut ada faktor utama yang menyebabkan informasi palsu (hoax) mudah tersebarnya di Indonesia. Faktor itu yakni karakter asli masyarakat Indonesia yang dinilai tidak terbiasa berbeda pendapat atau berdemokrasi secara sehat.

Ia menyebut kondisi itu merupakan salah satu faktor mudahnya masyarakat menelan hoax yang disebarkan secara sengaja.

“Sejak dulu orang Indonesia suka berkumpul dan bercerita. Sayangnya, apa yang dibicarakan belum tentu benar. Sebab budaya kolektivisme ini tidak diiringi dengan kemampuan mengolah data,” kata Deddy melalui keterangan tertulisnya, Rabu (8/2/2017).

Menurut Deddy, kebanyakan masyarakat tidak terbiasa mencatat dan menyimpan data sehingga sering berbicara tanpa data. Di sisi lain, ia menyebut masyarakat lebih senang membahas aspek-aspek yang berkaitan dengan kekerasan, sensualitas, drama, intrik dan misteri.

“Politik adalah bidang yang memiliki aspek-aspek tersebut. Tidak heran kalau hoax sering sekali terjadi pada tema politik. Khususnya saat terjadi perebutan kekuasaan yang menjatuhkan lawan seperti pilkada,” ujar Deddy.

Deddy mengatakan, terjadi tren peningkatan hoax menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 yang akan berlangsung pada 15 Februari mendatang. Namun ia menyebut tren tersebut akan menurun setelah Pilkada usai.

Deddy menilai kecendrungan meningkatnya hoax jelang pemilihan sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Hal yang sama juga di negara yang selama ini dinilai menjadi kiblat demokrasi, yakni Amerika Serikat.

Namun ia menyebut hoax di Amerika tidak masif seperti di Indonesia. Salah satu sebabnya, kata Deddy, karena masyarakat di sana telah melewati tradisi literasi sebelum masuk era sosial media.

Kondisi itu yang dianggap Deddy belum dimiliki masyaratkat Indonesia sehingga kemudian menyebabkan hoax mudah dikonsumsi.

“Bangsa kita yang tidak hobi membaca buku ini tiba-tiba direcoki dengan banjir informasi di ranah digital. Dan karena sifat dasarnya suka berbincang, maka informasi yang diterima itu lalu dibagikan lagi tanpa melakukan verifikasi,” kata Deddy.

Penulis: Alsadad Rudi
Editor: Egidius Patnistik

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/02/08/21160841/kenapa.hoax.mudah.tersebar.di.indonesia.

View on Path

Mozaik

Dadaku tak pernah terasa sesesak ini

Kesedihan menderu dan menerjang masuk, memenuhi paru-paru

Aku tak bisa bernafas, aku tak mampu melihat

Cahaya menghilang, tersamarkan oleh air mata

 

Awan malam mengirimkan air hujan yang tak terasa dingin

Aku berdiri namun goyah, ternyata bukan karena angin

Dunia berguncang, Aku merangkak mencari pegangan

Masih jelas tergambar, tatapanmu yang penuh kelembutan

 

Aku menengadah ke langit, tempat Ku salin semua kenangan

Ku jatuhkan kepedihanku ke bumi, agar tak ada yang melihat

Ku siapkan sebuah kotak untuk menyimpan rasa sesal

Ku berdoa untuk kebaikan-kebaikan yang ada di depan

 

Aku telah membuat keputusan tersulit yang selama ini pernah Ku alami

Terberat dan terbesar, seperti menahan meteor jatuh

Aku berusaha untuk tidak menyesal

Aku berupaya untuk tetap tegar

 

Kamu bukan semuanya, tapi Kamu adalah separuh hidupku

yang sayangnya telah Ku sakiti dan tinggalkan

Rasa perih yang lebih perih dari yang pernah terbayangkan

dari sebuah pengorbanan yang sedang Ku lakukan

 

Kini Aku melangkah di atas seutas tali dengan satu kaki

Menjaga keseimbangan dengan satu tangan

Mengatur nafas dengan satu paru-paru

Melihat dengan satu mata, mendengar dengan satu telinga

 

Asteroid melayang dan telah lari dari bintangnya

Paus biru mendamparkan diri ke tanah dari lautnya

Ku khianati janjiku, Ku dustakan seluruh perkataanku

Demi kebaikan? Ya benar, dan ombak menyebut itu omong kosong? Silakan

 

Aku sungguh menyayangimu dan sangat mencintaimu

Karena itu setiap langkah yang Ku habiskan untuk menjauh darimu

terasa sangatlah menyakitkan, benar-benar menyakitkan

Seperti menguliti kulit kepalaku sendiri

 

Impian dan cita-cita yang dulu ada berputar di sekeliling kepalaku

Seperti ribuan ikan yang bergerak cepat di laut

Memantulkan cahaya silau dan mengacaukan arus

Aku terjatuh tak berdaya dalam naas dan derita yang Ku buat sendiri

 

Aku bernyanyi dalam isak (tangis) tawa

Aku tersenyum karena hanyut dalam gelombang kenangan

Sepi ini mulai merayap, merasuki setiap pori-pori kulit

Aku mabuk, apakah kehampaan dapat menghisap darahku dan melumat dagingku?

 

Sebuah lukisan selalu dimulai dari sebuah titik dan garis

Semua hal yang dibangun, disusun, dan dijaga

telah membentuk gambaran visi dan impian yang besar

Persis seperti mozaik

 

Namun sekarang mozaik itu telah Ku tanggalkan

dan Ku simpan di tempat yang aman

Keindahannya tak lagi untuk terus Ku pandang

Keberadaannya tak lagi untuk terus Ku nikmati

 

Meski begitu Kamu adalah mozaik indah yang akan selalu Ku ingat

Seluruh pengalaman berharga bersamamu akan selalu Ku jadikan pegangan

Semua kenangan yang pernah ada akan selalu menjadi pengisi kesepianku

Entah apakah Aku sanggup menjalani hari esok yang penuh kekosongan

 

Aku berdoa semoga Kamu baik-baik saja sekarang dan nantinya

Kemanapun Kamu berpetualang, kapanpun Kamu tertawa

Aku berdoa semoga cahaya selalu menyinari pandanganmu

dan angin selalu menyejukkan setiap langkahmu

 

Aku berdoa semoga ada seseorang yang akan menemani sedihmu

Ada seseorang yang akan mencegah kecerobohanmu

Ada seseorang yang mampu meredam emosimu

Dan selalu mengerti cara untuk mengarahkan kebaikan untukmu

 

Aku berdoa semoga seseorang tersebut dapat memperlakukanmu dengan baik

menjadikan dirimu sebagai wanita yang baik dan terhormat

yang juga dapat menemani petualangan-petualangan indahmu kelak

dan mampu menjadi penolong di kala Kamu merasa kesusahan

 

Jika nanti arus takdir membawaku kembali lagi padamu

Semoga Aku sudah menjadi sesosok pria yang tepat untukmu

Untuk itu, baik untukmu, untukku, atau untuk siapapun

Aku akan memperbaiki setiap kekurangan yang Ku miliki

 

Ku berdoa semoga akan ada mozaik-mozaik baru berkat ceriamu

Semoga Kamu menemukan kebahagiaan yang hakiki

di tempat yang dulu tak dapat Kamu jangkau selama bersamaku

Kamu pasti mampu melebarkan layar untuk terus maju mengarungi luasnya kehidupan

 

Terimakasih untuk setiap tetes kebahagiaan yang telah Kita jalani bersama

Berat rasanya untuk melangkah maju dalam keadaan terpisah

Aku pastikan tubuh ini tidak akan hancur untuk menatap ke depan

Teruslah berkembang, Aku akan menyaksikan semua keberhasilanmu dari sini